Home Artikel/Opini Zaman Now, Adakah Tempat Bagi Tona(o)wi?

Zaman Now, Adakah Tempat Bagi Tona(o)wi?

193

Oleh: Amos Yukei

Pengantar

Generasi kita telah tumbuh menjadi doda ki beu. Begitu banyak dari kita mudah terjebak kepada hal-hal yang dapat memuaskan keinginan sesaat. Bahkan beberapa orang rela mau merusak diri dengan dalil ‘ketagihan’. Ya, seperti terjebak kedalam dahaga minuman keras. Sudah terlanjur ketagihan. Namun, ada beberapa orang yang sadar akan hal itu, meninggalkan kebiasaan itu. Ini adalah salah satu contoh saja dari kecenderungan doda beu Mee.

Konsepsi doda ki beu, lebih dekat dengan orang yang melakukan perburuan bedo, yaa, woda. Walaupun keduanya adalah doda beu, tetapi perbedaannya jelas bahwa ‘tujuan’ mereka adalah berburu bedo, yaa, woda, dst. Sedangkan doda beu jaman sekarang saya sebut saja kugiyai. Istilah ini terasa cocok buat orang-orang ini. Walaupun hanya nama burung, istilah ini sering disematkan kepada orang yang doda beu. Mereka selalu jalan tanpa tujuan yang jelas sepanjang hari. Bahkan berhari-hari tidak pulang-pulang ke rumah.

Mengapa itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang ingin di jawab di dalam tulisan ini. Doda beu bagee adalah orang yang jarang duduk, pada akhirnya ia jauh dari Meibo, bahkan jauh dari dimi tonawii karena “tidak pernah” duduk di tempat. Oleh karena itu, ia jauh dari dimi motii, dimi topii, dimi doodoo, dst.

Selanjutnya, akan dibahas mengapa ada istilah dimi tonawii yang menjadi pokok pembahasan dan apa hubungannya dengan doda beu mee.

Pengertian Tonawi

Tonawi adalah orang yang telah melalui pengalaman mendalam mengenai kemampuannya. Bagi orang Mee, Tonawi merupakan pencapaian tertinggi dari apa yang dimilikinya. Mereka adalah orang yang telah ahli di bidangnya. Jika dihubungkan dengan pendidikan formal saat ini, sebenarnya agak ambigu jika menyelaraskan dengan keadaan sekarang. Namun, jika berusaha kita samakan, mereka seperti seorang Profesor yang sangat menguasai bidangnya. Nah, persoalannya saat ini mereka ditempatkan di berbagai universitas untuk mengajar. Berbeda dengan Tonawi, ia hanya berada di dalam ruang kerjanya.

Supaya lebih jelas lagi, ada berbagai macam Tonawi dalam orang Mee. Beberapa yang sering disebut adalah, Dimi Tonawii, Mana Tonawii, Waka Tonawii, Ekowai Tonawii, Bugi Tonawii, Ekina Tonawii, Mege Tonawii, dst. Istilah-istilah itu muncul untuk menggambarkan seorang Tonawi, menguasai bidangnya dengan benar. Bukan hanya karena memiliki kekayaan sebanyak mungkin sehingga ia di sebut sebagai Mege tonawii, tetapi ia juga memiliki dimi untuk mengolah mege dengan baik.

Kini pemahaman tentang Tonawi telah mengalami kemerosotan. Berbeda dengan dulu, yang terjadi zaman sekarang adalah sangat terbalik-bertentangan karena tonowi hanya karena ukuran kedudukan atau memiliki banyak uang haram/halal (Titus Pekey, 2008:121). Hanya karena ia menjadi Pejabat publik (Bupati, Gubernur, dst), banyak orang yang memahami ia sebagai Tonawi. Pada hal konsepsi itu salah kaprah. Melihat perubahan semacam itu, kita akan melihat perjalanan panjang kemerosotan tentang Tonawi itu terjadi.

Kesejatian Tonawi

Dulu orang mengatakan seseorang adalah tonawi karena menunjukan keahliannya terhadap sesuatu. Misalnya, Ekowai tonawii. Ekowai tonawii karena ia berhasil melakukan sesuatu hal dengan sangat baik. Ada beberapa julukan lain mengenai Ekowai Tonawii, yakni Bugi Tonawii. Ia disebut sebagai bugi tonawii karena mengolah kebun sangat luas. Tidak hanya satu tempat, ia melakukannya di berbagai tempat yang menurutnya bisa dijadikan kebun. Karena pintar dan suka (secara mendalam) mengolah tanah biasanya mereka memiliki mude yang banyak.

Mereka juga adalah dimi tonawii dalam hal bugi tai. Artinya, ia memiliki pengetahuan mengenai bugi tai. Ia juga mampu membangun rumahnya sendiri, pagarnya sendiri, dst. Berbeda dengan sekarang yang jika mau bangun rumah, ia harus meminta tukang untuk mengerjakan rumahnya. Dalam konsepsi Tonawi, berbeda dengan pemahaman ini. Jika ia rasa tidak mampu melakukannya sendiri, ia pasti meminta kerabatnya untuk membantunya. Ia tidak akan seperti yang sekarng, hanya beri uang dan melakukannya.

Dengan demikian, tonawi tidak bisa direduksi dengan hanya satu julukan. Karena, julukan tersebut diungkapkan karena melihat apa yang telah (mampu) ia lakukan. Seseorang yang memiliki istri banyak, ia akan disebut Waka Tonawii. Bukan hanya karena istri banyak, tetapi juga karena ia mampu mengatur rumah tangganya tetap mobu. Ini juga tidak seperti pemahaman sekarang yang hanya direduksi karena memiliki uang banyak jadi bisa memiliki istri banyak. Pemahaman itu salah.

Waka tonawii juga, biasanya berkaitan dengan memiliki bugi yang banyak, atau ekina yang banyak, mege yang banyak. Untuk mengolah itu, ia perlu yagamo. Mengapa kok hanya yagamo kan ada yame juga? Dalam konsep bugi mude, setiap laki-laki harus memiliki satu atau lebih bugi mudee, sehingga setiap laki-laki berfokus mengolah bugi mudeenya sendiri. Artinya, mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya sehari-hari. Orang Mee tidak mengenal konsep karyawan yang terikat dengan atasannya. Konsepsi itu muncul setelah kontak dengan Ogai.

Oleh karena itu, ia membutuhkan yagamo untuk membantu bekerja seumur hidup. Jangan dibawa persepsi ini dengan eksploitasi perempuan dalam pemahaman sekarang. Secara konstuksi dahulu perempuan Mee tertarik dengan orang yang memiliki kebun yang banyak, ternak yang banyak, dst. Tidak seperti sekarang, yang pada umumnya perempuan yang tertarik dengan harta kekayaan (konstruksi orang yang mementingkan ‘harta kekayaan’ ala eropa). Dahulu perempuan Mee tidak mengenal ganteng ataupun cantik. Istilah itu muncul setelah kontak dengan ogai, dan tawaran-tawaran dunia modern (sietron) yang mengonstruksi pikiran percintaan anak-anak ‘jaman now’.

Oleh karena itu, tonawi sejatinya adalah orang yang memiliki kemampuan (tertinggi) dalam berkehidupan, bertutur kata, dan penyelesaian konflik. Atau lebih dikenal dengan istilah asia adalah orang bijak, dan istilah orang eropa adalah filsuf (sahabat bijak). Sehingga secara sederhananya, Tonawi adalah filsuf atau orang yang bijaksana. Orang yang mengatakan kata-kata yang baik, memberikan nasehat yang baik, memberikan pemahaman dengan baik dalam arti yang sangat luas dan detail, ia disebut ‘Dimi Tonawii’. Seseorang yang bijaksana dalam berbicara ia akan dijuluki sebagai ‘Mana Tonawii’. Ia mampu beretorika, berpuisi (‘gowai’), mengungkapkan kata-kata bijak (nasehat), mampu menyelesaikan perselisihan. Begitu pula dengan ‘ekowai tonawii’.

Pereduksian Makna Tonawi

Pada awal kontak kontak dengan Ogai (1935), Weakebo Mote, Auki Tekege, Bowadi Mote, Moniwatia, dll (Boelen 1955: 178-199) menjalin hubungan erat dengan Ogai. Di sinilah titik awal konsep mengenai tonawi terjadi pereduksian. Karena, melihat orang eropa yang memiliki bentuk tubuh yang berbeda membuat orang keheranan. Kedekatan ketiga orang ini, membuat perbincangan besar di wilayah Meuwo dan menjadi perhatian secara psikologis orang Mee. Akibatnya, beberapa orang yang memiliki konsep hidup yang sederhana seperti Dodeiwode, dan beberapa orang lainnya tidak tercatat dalam perbincangan orang Mee. Mereka hanya dikucilkan akibat perubahan pemaham mengenai tonawi (sosial-ekonomi) pada saat itu. Pada hal sebelunya dia adalah orang yang di kenal dengan bugi kaboo yago mee atau bugi Tonawii.

Perubahan itu membuat, konsep tonawi menjadi berubah dan bergeser kaitannya erat dengan mege, dan ogai. Oleh sebab itu, ogai (Mee yang bekerja untuk ogai) menjadi orang yang sangat terpandang. Selain, orang Euroamerika, ogai yang dimaksud di sini adalah orang yang bekerja untuk misionaris, pegawai pemerintah, Indonesia, dan orang-orang yang bekerja untuk gereja. Orang Mee sangat menghargai mereka pada saat itu.

Akibatnya, orang-orang berlomba-lomba untuk bekerja bagi Ogai, dan memiliki keinginan kuat untuk menjadikan anaknya Ogai. Hal itulah yang membuat, generasi berikutnya menjauh dari bugi mudee. Konsep bugi tonawii menjdi pudar. Yang lebih dihargai adalah orang yang memiliki uang banyak. Akhirnya, tonawi di dekatkan dengan mereka. Di sinilah titik terjadinya kemerosotan.

Fenomena Sekarang: Kesalahan terbesar jika Bugi hanya dilakukan oleh Perempuan.

 Akibat dari pergeseran itu, mee hanya mengejar jadi ogai yang mengarah kepada jabatan dan uang. Uang haram (daa megee, emo megee), saja orang berani ambil. Padahal, dahulu di larang keras (emo megee motii ko daa). Saat ini, para pejabat berani untuk membayar uang untuk membuat orang lain gagal, mencelakakan bahkan mereka berani untuk untuk membunuh orang lain. Hanya demi uang.

Orang Mee sangat menjunjung tinggi kekerabatan, kekeluargaan. Namun, saat ini pemahaman itu mulai merosot. Mee sekarang, berani untuk membenci saudaranya karena tidak mendukung dia. Ia membuat jarak antara keneka, uguwoo, tuma, dst. Jika ada yang mau menawarkan kerja (pemerintahan), aki ki maa tumaa, kaiyaa kaa, pernyataan ini menjadi senjata utama untuk memilih perhatian. Kita sudah lupa, okeinaa Ipa kaa. Di tengah suasana itu, kesejatian tonawi itu hilang.

Terlepas dari pemahaman sekarang telah tercampur aduk dengan pengetahuan modern tetapi kesejatiannya bisa kita temukan melalui istilah awal yang telah disebutkan, yakni melalui orang yang tonawi dalam memimpin masyarakatnya, orang yang tonawi di dalam Gereja, orang yang tonawi di dalam akademik, orang yang bijak di dalam berstrategi. Sebagai contoh, sebagian kita bisa melihat tonawi melalui guru-guru tua mampu mengajar berbagai ilmu pengetahuan. Baik agama, dimi gai, ekowai, maupun pendidikan. Terutama mereka yang masih memegang Touye/Tota Manaa.

Bugi sudah bukan lagi pekerjaan. Orang berlomba-lomba menikmati makanan plastik dan kaleng yang langsung jadi . Setelah warung ada, semua orang memburu warung. Tidak bisa kerja sendiri, masak sendiri lagi. Yang masih memikirkan kebun kebanyakan adalah perempuan. Memang jaman sudah berubah tapi, keduanya hanya untuk cari makan kan? Kerja di pemerintahan juga untuk makan. Kerja di kebun juga untuk makan. Apa bedanya coba? Yang beda, jadi pejabat, anda datang ke tempat kerja duduk, makan, berfikir, dan terakhir kentut tanpa hasil.

Mama-mama yang sekarang sedang menanggung beban untuk keluarga. Merek harus mengurus anak, kebun, menanggung uang sekolah (termasuk jajan) untuk anak, dst. Laki-laki cuman main kartu, togel, dan kini ludo king. Hanya mau pikir yang instan, yang langsung jadi. Coba pikirkan nasib anak cucu ke depan? Akibatnya, Sekarang, bugi sedang dipaksa pemahamannya hanya kewajiban (pekerjaan) perempun. Kita dengan sengaja melupakan bugi tonawii. Padahal gelar itu diberikan kepada laki-laki yang mampu melakukan bugi makii. Tentu juga didukung oleh perempuan yang melakukan pekerjaannya mengolah bugi.

Mengembalikan Kesejatian Tonawi

Pada saat ini, masih bisa untuk menjadi tonawi. Tonawi adalah menguasai pengetahuan, dapat berfikir dengan jernih, menjadi pemimpin yang baik. Itulah pemahaman saat ini mengenai Tonawi. Ketika menjadi pejabat publik menjadi pemimpin yang baik dan bijak itulah yang dituntut.

Namun, kesulitannya adalah saat ini menjadi pemimpin setelah dipilih oleh rakyat, hal ini bertolak belakang dengan konsep tonawi. Menjadi tonawi, melalui proses yang panjang. Melalui pembelajaran yang panjang, pengalaman yang panjang. Tidak melalui Pemilihan karena Suara yang banyak. Pemahaman ini bisa mengantar kita untuk memilih pemimpin. Terutama kepada masyarakat, tonawi itu dijuluki bukan karena tiba-tiba mege banyak tetapi, selama hidupnya dia benar-benar tahu mengatur uang (mege witokai epi). Bukan juga karena ia hanya mampu banyak bicara Omong Kosong tetapi, okaiya mana kodo dani tiyake teetai Mee. Bukan juga uguwoo gene-gene, uguwoo witoke-witoke. Mana tonawii, ia pintar memikat dengan cara yang baik dan benar,bukan Omong Kosong dan untuk tipu daya.

CARA menjadi Tonawi  adalah membina diri menjadi orang baik, bijak, mampu berfikir dengan baik, mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Butuh proses yang panjang menjadi tonawi, tidak semudah dipilih oleh rakyat dan menjadi Gubernur, Bupati, atau DPR. Itu hanya jalan dan kesempatan untuk anda memimpin menerapkan untuk kepentingan orang banyak. Tetapi menjadi tonawi adalah rendah hati, dimi animakita, ayoo kegepaa yago. Dengan cara itulah kita akan menjadi tonawi. Sekaligus Mengembalikan kesejatian tonawi Mee.

Mari belajar menjadi Tonawi!

Penulis adalah salah satu mahasiswa yang sedang berkuliah di Jawa.