Home Berita Wajah Papua Di Nduga Dari Posko Exodus Bagi Korban

Wajah Papua Di Nduga Dari Posko Exodus Bagi Korban

138

PANIAI, JELATANP.com – Wajah Papua secara kemanusiaan dan perdamaian di tahun 2018 sangatlah miris keadilan yang didapatkan oleh peradilan negara secara kebijakan yang diambil. Menurut anak muda Papua yang tak disebutkan nama merilis tentang pemusnahan rakyat kepada masyarakat Ndugama.

Dari awal banyak sudah penderitaan, kesakitan serta modus penawaran niat kebaikan demi pencurian Tanah dan Manusia yang tidak adil dan mermartanat di atas Tanah Papua oleh kepentingan penguasa yang terus menindas, baik itu sistem kapitalis di Papua, sistem diskriminasi hukum oleh negara Indonesia terhadap masyarakat Papua, dan kekerasan aparat militer yang sangat masif pelanggaran HAM yang dibuat.

Ia menuturkan bahwa orang Papua harus bisa lihat dan sadari bahwa kematian generasi penerus Papua di Kabupaten Asmat, Lany Jaya, Pegunungan Bintang karena pelayanan kesehatan yang kurang maksimal, kehilangan rumah dan segalanya, serta kematian karena konflik di Ndugama.

“Namun itu dia mengatakan juga, hal ini menjadi cermin bagi semua pihak di kalangan masyarakat Papua, akar rumput, mahasiswa, aktivis kemanusiaan, dan pemerintah untuk menilai keberpihakan kita secara moril kemanusiaan agar tidak diam dan mati tanpa syarat,” imbuhnya dilansir via Facebook pribadi pada hari Senin, (24/02/2020) kemarin.

Konflik berkepanjangan di Nduga semenjak 02 Desember 2018 hingga kini, telah mengakibatkan kematian rakyat sipil asli Ndugama selama operasi militer yang lagi berperang dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Konflik tersebut malah menciptakan 40.000an lebih pengungsian besar-besaran di belasan distrik, 7000an Pelajar SD-SMU tidak mendapat jaminan akses pendidikan hingga kini.

“Menurutnya meliris memang lebih banyak rakyat telah korban bahkan banyak kematian yang mengakibat senjata api oleh TNI/POLRI telah tercatat sudah tercapai 243 korban jiwa, dan adapun juga berjatuhan karena bom dan peluru panas serta kelaparan karena pengungsi bahkan juga dibunuh oleh aparat TNI-POLRI secara brutal,” katanya.

Dari Konflik Ndugama, generasi mati lebih banyak, dimana 243 korban jiwa yang meninggal terdiri dari 110 anak, 95 dari laki-laki, dan 38 dari perempuan. Ini kasus pelanggaran HAM BERAT dan adanya Sistem slow genocida yang terjadi di Nduga Papua tanpa kita sadari sebagai manusia yang harus melawan. Ini pembunuhan manusia Papua yang terjadi di depan mata kita.

Namun situasi konflik Nduga, Pegunungan Bintang dan Asmat yang terjadi semenjak 2018, negara dan elit-elitnya malah diam membungkam suara rakyat untuk meminta keadilan kemanusiaan, meminta untuk menarik pasukan militer dari Nduga dan menyediakan fasilitas kemanusiaan yang bermartabat tanpa ada lagi teror, intiminasi, kriminalisasi, dan pembunuhan.

Selain, hal ini terlihat jelas bahwa dimensi dari berbagai persoalan HAM yang dialami oleh Tanah dan Manusia Papua telah memberikan gambaran kepada kita bahwa nilai-nilai keadilan, kebenaran dan kebebasan masih menjadi mimpi yang harus diperjuangkan lebih keras lagi oleh kita semua tanpa kompromi dengan bentuk penindasan apa pun.

“Semua ini adalah untuk mengetahui bahwa manusia Papua sedang dalam darurat kematian kerena senjata api oleh kolonial Indonesia. Jadi mari kita bersatu dan melawan segala kebobrokan dan penindasan oleh mereka terhadap Tanah dan Manusia Papua yang hampir punah ini,” jelas pemerhati kemanusiaan.

Sumber : Fb/GM.Adii
Pewarta : Boas/JNP