Home Artikel/Opini Wajah Kristus Dalam “Pelita Harapan” Mama-Mama Papua

Wajah Kristus Dalam “Pelita Harapan” Mama-Mama Papua

211

(Tinjauan  Teologis)

Oleh: Novilus K. Ningdana

Pengantar

 Kemiskinan dalam kehidupan manusia ialah suatu hal yang rill. Kita pasti bertanya-tanya ketika melihat para pedagang berjualan di pasar, toko, kios, jalan-jalan, dan tempat rekreasi. Mengapa mereka berjualan? Apakah mereka miskin? Kadang menggangu pikiran kita namun kita pun tergiur untuk menikmatinya. Di tanah Papua kita sering menemukan fenomena ini di sekitar kita terlebih perkotaan. Siapa saja membuka usaha dengan modal mikro maupun makro untuk mendukung roda perekonomian rakyat, namun juga mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Di sekitar kita saya pun menemukan mereka yang lemah, kecil, tersingkir akibat persaingan ekonomi di pinggir jalan (toartoar), yakni mama-mama Papua yang setiap hari dengan setia berjualan mencari nafkah. Di raut wajah mama Papua muncul harapan untuk mendapat berkat Tuhan dari hasil cucuran air mata dan keringat. Dengan semangat dan harapan yang kokoh ia menahan panasnya matahari di siang hari, menghirup debu kendaraan dan menyalakan harapan di waktu senja menghilang. Itulah wajah Kristus yang selalu berpengharapan akan kasih, cinta dan kebaikan-Nya.

  1. Mama-Mama Papua, Siapakah Mereka Itu?

Mama-mama Papua merupakan suatu istilah yang muncul karena situasi hidup mereka berdasarkan tempat, kondisi kerja dan cara hidup. Mama atau dalam bahasa formal ibu merupakan sapaan khas orang Papua bagi seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi seorang anak. Papua merupakan suatu tempat di mana mama-mama ini menempuh hidup. Terbanyak dari mereka ada di sepanjang jalan umum maupun gang dan sebagian di pasar sentral. Pekerjaan mereka adalah menjual hasil bumi seperti pinang, sagu, buah, sayur-mayur, kacang, jagung dan berbagai makanan ringan lainnya. Hasilnya mungkin tidak berarti, namun cukup untuk menghidupi keluarganya. Mereka meluangkan waktu, tenaga, dan dirinya demi mencari nafkah hidup di kota besar. Misalnya mama-mama Papua yang sering saya dan anda sekalian bertemu ialah di sepanjang toar-toar kota Jayapura dan kabupaten Kayapura. Namun saya menggolongkan mama-mama Papua menjadi tiga, yakni mama-mama Papua di toar-toar (jalanan), mama-mama Papua di pasar Central dan  mama-mama Papua pemilik modal. Di sini fokus pembahasan pada mama-mama Papua yang ada di pinggiran jalan di perkotaan Papua dengan mengambil contoh kota Jayapura. Jayapura sebagai barometer untuk melihat mama-mama Papua di kota lain, seperti Manokwari, Sorong, Timika, Merauke, Nabire, Wamena, dan lainnya.

  1. Mama-Mama Papua Di Pinggiran Jalan

Sedikit gambaran tentang mama-mama Papua yang ada di pinggiran jalan umum dan gang-gang kecil. Pada umumnya mama mama Papua ialah Orang Asli papua, pemilik tanah maupun penduduk migrasi dari pedalaman ke kota. Mereka berdominsili di pinggiran kota. Pekerjaan harian mereka ialah berkebun dan menanam sayur, singkong, petatas, pisang, buah-buah, pinang, jagung, papaya, kacang, dan seterusnya. Hasil kebun itu mereka jual di pinggir jalan untuk menafkahi kebutuhan rumah tangga. Selain itu mereka juga menjual pangan yang disediakan oleh alam seperti sagu, ikan, babi hutan, kuskus, kasuari, dan binatang buruan lainnya.

Mama-mama Papua mengambil peranan ekonomi lokal dalam bekerja dan menjual. Dengan ada dan tiadanya fasilitas, mereka setia menjual hasil keringatnya yang segar, sehat dan sempurna. Waktu mereka kadang tak tentu. Namun pada umumnya yang saya temukan di sepanjang kota Jayapura ialah sore hingga tengah malam. Pagi hingga siang mereka di kebun mempersiapkan barang jualan. Sore hari sekitar Pukul. 16.00 WIT mereka mulai membuka meja atau alas karung di pinggir jalan. Hingga pada malam hari mereka menyalakan pelita. Hanya dengan melihat cahaya kita mudah mengenal penjulanya, yakni mama Papua. Pelita inilah menjadi pelita harapan dalam gelapnya malam. Harapan bahwa ada yang akan datang membeli, menemani, bercerita, menyapanya, melihat atau memandangnya, dan tanda bahwa di sana ada orang, ada hidup dan kehidupan. Di tengah persaingan ekonomi mama-mama Papua masih tetap setia di para-para pinang dan toar-toar. Maka yang menjadi pertanyaan ialah mengapa mereka berjualan di jalanan? Masih adakah tempat yang layak bagi mereka?

  1. Suasana Sosial Ekonomi di Tanah Papua

  Papua merupakan ladang konflik. Artinya bahwa berbagai bidang kehidupan dan hak-hak masyarakat Papua cacat. Salah satu bidang yang menjadi perebutan ialah bidang ekonomi. Bidang ekonomi pun memiliki koerelasi dengan bidang lain sehingga kadang menjadi sulit untuk menemukan akar persoalan. Namun di sini ada beberapa akar persoalan ekonomi yang telah dikemukakan oleh beberapa sumber (bdk.Theo van den Broek dan Rudolf kambayong, 2004; 7).

  1. Perebutan kedudukan: Perebutan kedudukan ialah mencari kursi luang di bidang politik yang akan membentuk politik identitas, yakni individualisme, keluargaisme, sukuisme, daerahisme, dan isme lainnya. Ketika seseorang berhasil menduduki kursi kosong pasti ia membangun jejaringan politik ekonomi dengan beberap oknumnya untuk mempertahankan eksistensinya.
  2. Mental proyek: Persoalan ini muncul karena dominasi beberapa sumber kebahagian yang menjanjikan yakni uang, kedudukan dan jaminan semu. Misalnya dana desa, otsus, proyek perusahaan, bantuan sosial (bansos), dan sumber lainnya. Hal ini membentuk mental masyarakat menjadi mental proposal, mental duduk, dan mental hambur-hambur uang. Ketika tidak ada uang masyarakat tidak bekerja dan ketika ada uang masyarakat bergerak, berbicara, dan beraktivitas. Hal ini sudah menjadi budaya orang Papua.
  3. Persaingan ekonomi mikro dan makro: Persaingan memiliki hubungan dengan identitas ekonomi. Mayoritas dan minoritas, asli dan non Papua, kaya dan miskin meraja lela di sentral-sentral ekonomi. Kita bisa lihat peta ekonomi di kota Jayapura bahwa di pinggiran jalan dominan orang Papua yang suka berjualan dengan penghasilan kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan para pedangang di pasar Youtefa yang memilik ruko atau tempat jualan yang layak memiliki visi dan misi ekonomi yang baik karena didukung oleh modal yang kuat.

Masih banyak sumber-sumber persoalan ekonomi yang lain namun saya hanya mengungkapkan beberapa hal di atas untuk mau melihat situasi sosial ekonomi di sekitar kita bahwa mengapa mama-mama Papua berjualan di pinggir jalan. Proyek yang disiapkan pemerintah pun tidak menarik minat usaha mereka untuk bersaing dengan proyek besar atau menengah. Hemat saya bahwa kebudayaan setempat menjadi kendala orang berusaha. Ini yang tidak dibaca oleh pemerintah daerah yang selalu mengejar proyek. Biarpun di jantung kota Jayapura sudah ada fasilitas umum seperti pasar mama-mama Papua namun tidak mengurangi mama-mama Papua di pinggir jalan. Ironisnya, sangat sepih. Dengan setia, sabar, santai dan tersenyum mereka masih bertahan di pinggiran jalan dan gang-gang sekitar kota maupun pinggiran kota. Kita pun bertanya-tanya tentang mereka bahwa mama-mama Papua merupakan gejala perkotaan yang masih eksis. Apakah ini suatu panggilan Tuhan? Ataukah nasib mereka demikian untuk mencari nafkah hidup? Adakah wajah Kristus yang terpancar di sana? Mereka memiliki pelita harapan yang mendambakan perubahan, kebebasan, keadilan, kemiskinan, dan kesengsaraan serta penindasan hak-hak asasi manusia dan perdamaian yang menuntut perubahan gaya hidup menuju kesejahteraan.

  1. Pelita Harapan Mama-Mama Papua Sebagai Wajah Kristus Yang Terpancar

Dalam penjelasan di atas sudah dijelaskan sedikit keunikan dari mama-mama Papua bahwa salah satu spirit mereka ialah pelita harapan yang bernyala pada tengah malam. Inilah harapan perubahan hidup untuk bangkit dari keterpurukan kondisi sosial. Kristus menjadi dasar dan pokok harapan mama-mama Papua. Pelita yang menyala merupakan pancaran kasih Kristus yang bangkit, mengandung harapan sempurna yang akan terjadi, yaitu kerinduan akan kehidupan abadi (Kol 1:27-18).

Tentu kita melihat dan mengerti definisi dari harapan. Harapan merupakan kerinduan terdalam pada diri manusia, yang menggerakan hati untuk hidup lebih baik. Harapan adalah hasrat yang disertai dengan keinginan akan pemenuhannya untuk hidup baik secara moral (Jacobus Tarigan, 2015; 50). Harapan ini menjadi spirit untuk bertahan dalam panas dan dingin demi suatu hidup yang lebih baik, lebih berkecukupan, bermanfaat, dan berkeadilan. Secara moral mama-mama Papua sungguh melakukan tindakan yang menunjukan keaslian identitas diri, keluarga dan masyarakat Papua. Mereka hanya mencari kerinduan dan hasrat untuk berkecukupan dalam keluarga sambil berserah diri pada Allah. Maka harapan yang kokoh ditopang oleh iman dan kasih yang kuat. Mereka pun dengan kesederhanaan hidup di dunia senang mempersiapkan diri untuk bersatu dengan Allah. “Kehidupan kekal hanya dapat diberikan kepada manusia oleh Allah, anugerah semata-mata dari Dia. Hidup kekal tak dapat diberikan oleh dunia yang tercipta manusia. Seluruh makhluk termasuk juga manusia, tunduk pada kesia-siaan” (bdk. Rm 8:20).

Banyak tantangan dan persoalan yang menganggu mama-mama Papua yakni kesejahteraan keluarga, pembiayaan  anak, kebutuhan lain-lain dan pajak Negara. Mereka ingin persoalan-persoalan ini didamaikan dan dibebaskan dengan usaha sambil berserah pada Allah. Terang kasih yang mereka taburkan suatu saat akan menyala dengan terang. Pewartaan kasih yang membebaskan ini di tengah masyarakat yang diwarnai ketidakadilan dan eksploitasi serta kapitalis atas satu golongan sosial oleh golongan sosial lainnya merupakan pewartaan kabar gembira yang membebaskan (Gustavo Gutierrez, 1997; 279).

Kebahagiaan  cinta kasih Allah ada dalam karya-karya kecil mereka yang tidak begitu banyak orang yang meliriknya. Namun begitu pula harus waspada terhadap beberapa kecenderungan yang muncul yakni kesombongan, putus asa, sikap pengecut dan menyerah kalah. Demikian dengan harapan kristiani mendorong mama-mam Papua dan kita untuk melaksanakan tugas-tugas di dunia ini, yakni membangun kesejahteraan, keadilan dan perdamaian sesuai dengan kehendak Allah sambil berusaha mengatasi mengatasi masalah ketidakadilan yang menjadi tanggung jawab bersama. Dengan berhadap dan berharap pada harapan kristiani, mama-mama Papua berusaha dan tetap menyalakan pelita harapan yang menaburkan benih-benih kebaikan bagi sesama sambil mengatasi persoalan sosial dan memupuk kerinduan untuk bersatu dalam kehidupan abadi.

Sumber:

Broek, Theo van den dan Rudolf Kambayong. Membangun Budaya Damai Dan Rekonsiliasi; Dasar Menangani Konflik Di Papua. Jayapura: SKP Keuskupan Jayapura, 2004.

Gutierrez, Gustavo. Mengendus Jejak Allah, Dialog Dengan Masyarakat Pinggiran, edt. Georg Kirchberger dan Iohn Mansford Prior. Ende: Nusa Indah, 1997.

Tarigan, Jacobus. Religiositas & Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius, 2015.