Home Artikel/Opini Upaya Mempertahankan Eksistensi Bahasa Daerah Manusia Aplim Apom Di Era Globalisasi

Upaya Mempertahankan Eksistensi Bahasa Daerah Manusia Aplim Apom Di Era Globalisasi

179

Oleh: Elka Mimin

Manusia adalah makhluk berbudaya yang memiliki kearifal lokal berbenda maupun tak berbenda. Kearifan lokal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan maupun sikap di wujudkan melalui seni tari, seni musik, seni lukis, tata karma, sopan santun serta bahasa. Bahasa adalah salah satu jenis kearifan lokal yang bersifat tak berbenda. Manusia sebagai makhuk sosial membutuhkan bahasa untuk bersosialisasi dengan  manusia lainnya. Bahasa merupakan alat komunikasi  yang digunakan untuk berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lainnya. Melalui bahasa manusia saling bertukar pikiran mengungkapkan perasaan, ide serta gagasannya.

Setiap suku bangsa di dunia memiliki bahasa lokalnya. Kita di Indonesia termasuk bangsa besar yang memiliki bahasa daerah terbanyak di dunia, yakni  peringkat kedua setelah Papua New Guinea (PNG). Di Indonesia bahasa lokal terbanyak ada di Tanah Papua dengan jumlah 395 bahasa daerah. Khusus di Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki 7 bahasa daerah yang digunakkan secara turun-temurun oleh manusia Aplim-Apom. Bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa Ngalum, bahasa Ketengban, bahasa Murop bahasa Arimtap, bahasa Kimki, bahasa Lepki dan bahasa Yefta. Tujuh bahasa daerah ini digunakan oleh tujuh suku dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi tua kepada generasi muda. Manusia Aplim-Apom meyakini bahwa bahasa daerah merupakan bentuk kearifan lokal yang diberikan oleh Atangki (Tuhan) melalui leluhur masing-masing suku, sehingga senantiasa diwariskan dari generasi tua ke  generasi muda.

Bahasa daerah memegang peran penting dalam seluruh tatanan kehidupan manusia Aplim-Apom. Keberadaan bahasa membantu manusia Aplim-Apom dapat berinteraksi untuk melanjutkan kehidupan dengan baik antar setiap generasi. Bahasa daerah menunjukan identitas diri manusia Aplim-Apom. Seseorang akan diketahui asal-usulnya melalui bahasa yang digunakannya. Manusia Aplim-Apom akan dikenal oleh suku bangsa lainnya, ketika memahami dan menggunakan bahasa Ngalum bahasa Ketengban, bahasa Murop, bahasa Arimtap, bahasa Kimki, bahasa Lepki dan bahasa Yefta dalam kehidupan sehari-harinya. Memiliki bahasa daerah secara kuantitatif dalam jumlah banyak menjadi suatu kebanggaan  tersendiri bagi manusia Aplim-Apom. Namun disisi  lainnya, ini menjadi tantangan tersendiri di era globalisasi ini. Sehingga upaya untuk mempertahankan eksistensi bahasa daerah manusia Aplim-Apom harus dilakukan secara kontinue.

Ketahanan bahasa daerah ditentukan oleh jumlah penutur yang masih fasih menggunakan bahasa daerah tersebut. Bahasa daerah tidak bisa eksis jika pengguna bahasa daerah secara kuantitatif menurun jumlahnya. Artinya bahwa semakin banyak jumlah penutur bahasa daerah maka semakin aman pula tingkat keamanan dari bahasa daerah tersebut. Bahasa daerah dikatakan aman jika setiap generasi baik anak-anak, remaja maupun dewasa fasih menggunakannya. Oleh karena itu, upaya mempertahankan keeksistensian bahasa daerah di era globalisasi ini menjadi hal yang bersifat urgen. Sekarang ini, manusia Aplim-Apom sedang berada di pintu masuk pergeseran nilai-nilai budaya termasuk bahasa daerah. Perkembangan zaman yang ditandai  dengan pergeseran tatanan hidup dalam aspek sosial, ekonomi dan politik merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi kita masyarakat Pegunungan Bintang menggunakan beberapa bahasa sekaligus agar dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Selain menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai alat komunikasi dalam kehidupan  sehari-hari, bahasa  Indonesia dan inggris juga diharuskan dalam penggunaannya. Khususnya bahasa inggris sebagai bahasa global saat ini menuntut kita untuk mengetahui, memahami dan menggunakannya. Artinya manusia Aplim-Apom dituntut untuk menggunakan lebih dari satu bahasa agar mampu menyesuaikan dirinya di era modern ini. Jika tidak, maka akan mengalami kesulitan  dalam menyesuaikan diri karena rendahnya tingkat penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa inggris.

Ada beberapa faktor yang memicu penurunan penggunaan bahasa daerah di Pegunungan Bintang saat ini, (1). Faktor transmigrasi,  masuknya transmigrasi baik itu orang Papua dari kabupaten lain maupun non Papua ke Pegunungan Bintang. Terutama karena kepentingan  ekonomi politik seperti, berdagang, Aparatur Sipil Negara (ASN), tukang bangunan dan sebagainya). Sehingga ini menuntut masyarakat lokal (Pegunungan Bintang) untuk  menggunakan bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan masyarakat pendatang (non Pegunungan Bintang dan non Papua). (2). Faktor urbanisasi, Beberapa masyarakat melakukan urbanisasi dari kampung atau distrik menuju ibu kota Oksibil dan menetap disana. Selain itu, masyarakat Pegunungan Bintang yang tinggal menetap di luar Pegunungan Bintang seperti Jayapura dan kota-kota lainnya dengan alasan bekerja maupun berpendidikan. (3). Faktor sistem pendidikan, Sistem pendidikan menjadikan bahasa indonesia dan bahasa inggris sebagai matapelajaran. Layaknya matapelajaran lainnya, bahasa Indonesia dan bahasa inggris menjadi kompetensi kelulusan yang harus dituntaskan oleh peserta didik. Sehingga setiap  peserta didik pada semua jenjang pendidikan seperti, (Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar  (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dan semua jenis pendidikan baik itu pendidikan formal maupun nonformal berupaya mengetahui, memahami dan menerapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam kehidupan sehari-hari. (4). Faktor media, hadirnya media baik itu cetak, online maupun elektronik seperti televisi, youtube bahkan sosial media turut mempengaruhi cara pandang masyarakat dan secara tidak langsung mampu meningkatkan kosa-kata bahasa Indonesia bahkan bahasa inggris. Sedangkan kosa-kata bahasa daerah menurun terutama pada tingkatan remaja awal dan anak usia dini. (5). Faktor pola pandang, Cara pandang anak zaman now (zaman sekarang) terhadap bahasa daerahnya terkesan tidak penting. Generasi milenial atau anak zaman sekarang sering berpandangan bahwa sekarang bukan zamannya bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan bahasa zaman dulu bukan zaman sekarang. Tidak sedikit dari mereka menganggap bahasa Indonesia dan bahasa inggris lebih modern. Jika menggunakan bahasa daerah akan dianggap bahasa kampungan atau bahasa terbelakang sebaliknya bahasa Indonesia bahkan bahasa inggris dianggap bahasa yang pantas dan modern untuk digunakan. (6) Faktor perkawinan antar entik. Fenomena kawin antar etnik atau sering disebut kawin campur patut dianggap sebagai salah satu penyebab yang turut mempengaruhi keberadaan bahasa daerah. Perkawinan antara orang Papua dan non Papua atau antara orang Pegunungan Bintang dan orang Papua lainnya. Misalnya, perkawinan antara pasangan suami istri yang berasal dari Jawa dan Ngalum, Batak dan Ketengban, Biak dan Lepki dan sebagainya. Meskipun anak berketurunan campuran namun jika dilahirkan dan dibesarkan di kampung anak tersebut fasih berbahasa daerah. Sebaliknya jika anak dilahirkan dan dibesarkan di kota kemampuan berbahasa daerah rendah. Meskipun terkadang memiliki orangtua asli (ayah dan ibu orang Pegunungan Bintang). Perkawinan silang antar etnik ini mengharuskan anak menyerap lebih dari tiga bahasa. Karena selain bahasa Indonesia yang bersifat wajib, anak akan dihadapkan dengan bahasa yang dipakai ayahnya dan ibunya. (7). Faktor lingkungan, dalam kehidupan sehari-hari lingkungan turut mempengaruhi anak terhadap perkembangan  bahasa. Jika lingkungan dimana anak dilahirkkan dan dibesarkan dominan menggunakan bahasa Indonesia  ketimbang bahasa daerah. Maka yang akan berkembang adalah bahasa Indonesia bukan bahasa daerah. Meskipun terkadang masih ada orangtua yang fasih menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Namun karena tuntutan lingkungan pergaulan anak seperti teman sekolah, teman kompleks atau teman bermain yang berasal dari non Pegunungan Bintang atau non Papua. Sehingga menuntut anak bertutur menggunakan bahasa Indonesia yang tentunya berakibat pada penurunan kosa kata bahasa daerah.

Perubahan sosial dalam seluruh tatanan hidup ini menuntut manusia Aplim-Apom harus fasih dalam berbahasa Indonesia bahkan inggris daripada berbahasa daerah. Sehingga ketujuh faktor di atas berdampak besar terhadap keberadaan bahasa daerah suku-suku di Pegunungan Bintang pada era globalisasi ini. Tujuh faktor ini patut diwaspadai sebagai penyebab goyahnya eksistensi bahasa daerah. Untuk remaja akhir dan orang dewasa masih menggunakan bahasa daerah tetapi anak usia 15 tahun ke bawah dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah. Hal ini secara kuantitas dapat menyebabkan turunnya jumlah penutur yang dapat berdampak pada kepunahan bahasa daerah tersebut. Ini patut diwaspadai oleh seluruh kalangan manusia Aplim-Apom.

Anak merupakan generasi  penerus yang akan melestarikan  dan mempertahankan eksistensi bahasa daerah. Artinya bahwa, jika anak-anak kurang fasih dalam berbahasa daerah dikuatirkan akan berdampak buruk pada eksistensinya. Ditinjau dari segi kevitalan bahasa, tujuh bahasa daerah yang ada di Pegunungan Bintang ini dapat dikategorikan sebagai bahasa beresiko. Hal ini karena jika dibandingkan secara kuantitatif bahasa daerah yang tersebar di Pegunungan Bintang memilik jumlah penutur sedikit dibandingkan penutur bahasa Indonesia. Dengan demikian penulis berpandangan bahwa di era globalisasi ini tujuh bahasa daerah yang digunakan manusia Aplim-Apom secara turun-temurun sedang menuju ambang kategori beresiko. Oleh karena itu, seluruh lapisan manusia Aplim-Apom harus bersinergi melakukan upaya-upaya kongkrit guna menjadikan tujuh bahasa daerah yang diwariskan secara turun temurun itu menjadi bahasa yang aman.

Untuk mempertahankan generasi Aplim-Apom dari resiko punahnya bahasa daerah. Maka harus dilakukan upaya integrasi dari setiap stakeholder (pemangku keputusan) di kabupaten Pegunungan Bintang. Lembaga Legislatif, Eksekutif terutama  Dinas  pendidikan dan Kebudayaan, tokoh adat, tokoh masyarakat,  tokoh gereja, peneliti, akademisi dan pemerhati bahasa daerah harus melakukan  upaya-upaya kongkrit. Seperti menyelenggarakan perlombaan konten berbahasa daerah pada kategori pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Perlombaan yang dapat dilakukan misalnya, lomba menulis menggunakan bahasa daerah, lomba pidato menggunakan bahasa daerah, dan lomba menyanyi menggunakan bahasa daerah. Bahasa daerah perlu dimasukkan sebagai salah satu mata pelajaran yang harus dituntaskan oleh peserta didik. Selain itu, Pada ranah media, penting untuk menerjemahkan film-film cartoon berbahasa Indonesia atau inggris ke dalam bahasa daerah. Beberapa upaya ini penting untuk dilakukan Agar tujuh bahasa daerah di Pegunungan Bintang menduduki kategori aman dan tetap mampu bertahan di era globalisasi.

*Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)