Home Artikel/Opini Tubuh dan Darah Kristus di Balik Layar TV Pada Masa Covid-19

Tubuh dan Darah Kristus di Balik Layar TV Pada Masa Covid-19

252

(Sebuah Refleksi  Teologis)

Oleh: Anselmus P. B Faan

Virus Corona merupakan salah satu virus yang sangat kejam. Dunia semakin goncang ketakutan karena virus ini telah melahap banyak nyawa manusia. Umat manusia di seluruh dunia merasa tidak berdaya saat kedatangan musibah ini. Bagaimana tidak takut dan tak berdaya, Virus ini tersebar melalui cairan tubuh seperti batuk dan bersin. Tak hanya itu bersentuhan tangan dengan orang yang terinveksi  corona pun ikut merasakan dampaknya. Virus ini menyebar secara cepat, dan meluas hingga ke seluruh tanah air. Singkat kata Covid-19 lebih ganas dan gawat penyebarannya dari pada HIV-AIDS. Dengan demikian kita perlu memutus-tuntas penyebarannya.

Mata rantai penyebaran virus ini perlu diputuskan. Salah satu caranya melalui instrumental pemerintah. Himbauan dari pihak pemerintah, menganjurkan agar semua umat manusia di dunia tetap tinggal di rumah demi menghindar dari keramaian dan tidak bersentuhan.  Semua umat manusia di Indonesia, khususnya umat di Papua telah mengikuti anjuran dari pemerintah bahwa tetap tinggal di rumah, menghindar dari keramaian dan tidak bersentuhan satu sama lain demi memutus-tuntas mata rantai penyebaran Covid-19 yang telah dialami oleh beberapa warga di provinsi Papua dan Papua Barat. Pihak pemerintah mengeluarkan anjuran itu dan menutup semua tempat umum yang dikunjungi banyak orang. Tempat umum itu seperti pasar, toko, pelabuhan, sekolah, kantor dan menutup gedung gereja. Semua aktivitas umum ditiadakan demi memutus rantai penyebaran covid-19 di Papua terutama Gereja Katolik di tanah Papua.

Kebijakan Gereja Menempuh arah Pastoral

Gedung gereja  tempat di mana berkumpulnya  umat beriman Kristiani, untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Tempat umat mendengarkan sapaan wahyu Allah dan menjawab wahyu di tutup demi alasana keamanan dan keselamatan jiwa-jiwa manusia. Aktivitas perayaan ekaristi bagi umat Katolik ditiadakan. Pintu gedung gereja di seluruh Indonesia khususnya di Papua telah disarangi oleh laba-laba. Semua umat dianjurkan oleh para pelayan pastoral untuk tetap membaca Kitab Suci dan berdoa bersama keluarga atau berdoa sendiri di rumah saja. Anjuran-anjuran itu pun didengar dan dijalankan oleh semua umat, namun mereka mengalami banyak hambatan. Hambatatan bagi mereka yang tidak tahu membaca atau buta huruf tidak bisa membaca Kitab Suci dan merenungkan serta meresapkan firman itu. Tetapi mereka hanya bisa memohon kekuatan Tuhan di tengah Covid-19 melalui berdoa spontan saja. Bagi mereka yang tahu membaca dengan penuh penghayatan mereka membaca dan merenungkan firman Allah dengan baik, namun mereka pun tetap mengalami kekurangan karena merasa bahwa untuk membaca, mendengar, dan merenungkan firman Allah saja tidak cukup atau masih ganjil jika belum dilengkapi dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus saat perayaan ekaristi.

Ungkapan Cinta  Kristus dalam Layar Kaca TV

  Berkaitan dengan hal di ini partisipasi dan keikutsertaan umat dalam livestreaming di layar televisi (TV) dan layar handphone. Mengikuti misa lewat livestreaming tidak mampu mengatasi kerinduan umat untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus pada hari minggu dan hari raya. Tubuh dan Darah Kristus hanya dilihat oleh umat melalui layar TV. Perlu diketahui bahwa Umat yang bertempat tinggal di kota dilengkapi fasilitas seperti TV dan lain-lain. Hal ini memungkinkan mereka untuk turut ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Namun pertanyaannya bagi kita adalah bagaimana dengan mereka yang berada di pedalaman-pedalaman, seperti halnya di pelosok tanah Papua.

Kerinduan umat untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan alasan yang paling fundamental. Dalam Alkitab Yesus sendiri mengatakan bahwa “Barang siapa menyambut tubuh-Ku dan minum darah-Ku ia akan tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia atau mereka sehingga kamu tetap selamat dan hidup selama lamanya (lihat Yohanes 6:56-58). Tubuh dan darah Kristus yang disambut oleh umat saat perayaan Paskah, perayaan Natal, hari Minggu dan peraayan ekaristi harian membawa umat pada keselamatan. Manusia selamat dari semua marah bahaya termasuk wabah virus corona. Keyakinan umat akan keselamatan itulah sehingga mereka merasa heran kalau pintu gereja ditutup dan perayaan ekaristi ditiadakan selama masa wabah corona ini.

Pada bebarapa momen yang lalu perayaan ekaristi pada saat misa Hari Raya Paskah, Hari Minggu dan Hari Raya Kebangkitan Kristus tidak seperti tahun-tahun kemarin. Umat menahan rindu untuk bertemu dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi. Mereka hanya dianjurkan untuk tetap di rumah dan walaupun pintu gereja ditutup. Namun pintu hati seluruh umat tetap terbuka untuk memuji dan memuliakan Tuhan melalui membaca Kitab Suci, Bernyanyi Lagu Rohani, Meditasi, Kontemplasi, Puasa dan berdoa memohon berkat Tuhan untuk cepat berakhirnya wabah corona.

         Iman umat tetap kepada Tuhan. Mereka mendengar setiap sapaan Tuhan di tengah wabah corona karena sapaan Tuhan itulah sebagian manusia saat ini masih belum terinfeksi virus corona. Umat tetap mendengarkan sapaan Tuhan melalui sarana dari pemerintah untuk tinggal di rumah dan tidak pergi ke tempat umum yang nantinya terinveksi virus corona, dan virus itu dibawa kembali bersama keluarga dan akhirnya keluarga pun terinveksi. Jika ada umat yang melanggar anjuran itu lalu terinveksi covid-19  kemudian menyebarkan virus itu kepada keluarganya di rumah, maka orang itu tidak membawa berkat bagi sesama melainkan membawa kutukan. Kutukan menghilangkan nyawa orang lain, baik senagaj maupun tidak sengaja.

Bermenung sejenak mendalami sabda Allah dan mengambil langkah yang tepat

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1) . Pada awalnya roti dan anggur adalah makanan dan minuman biasa, namun melalui firman atau kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan saat ini oleh pemimpin gereja yang tertahbis (Pastor dan Uskup) (bdk Matius 26: 26-29; 1 Kor. 11: 23-26), maka  roti dan anggur itu berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus  yang berlansung saat konsekrasi. Umat boleh merindukan Tubuh dan Darah Kristus tetapi lebih baik umat Katolik membaca dan merenungkan firman Allah karena segala sesatu yang ada di dunia ini telah difirmankan oleh Allah, Ia yang bersabda (Lih. Kejadian 1: 1-31). Tubuh dan Darah Kristus juga berasal dari firman Allah itu sendiri. Tubuh dan Darah Kristus merupakan Firman Allah yang menjelma menjadi daging dan darah Yesus.  Oleh karena Tubuh dan Darah itu merupakan firman Allah yang menjelma menjadi anggur dan roti hidup atau Yesus yang turun dari surga ( baca Yohanes 6:51), maka saat masa pandemik ini umat sebaiknya membaca dan merenungkan firman Allah di dalam Kitab Suci di rumah saja sambil menunggu perayaan ekaristi pada akhir masa pandemik virus corona nanti.

Semua umat lebih baik mengikuti anjuran pemerintah bahwa semua masyarakat di Indonesia khususnya di Papua dan Papua Barat tetap tinggal di rumah dan menghindar dari keramaian di pasar dan di dalam Gereja.

Oleh sebab itu, setiap umat Kristiani yang tinggal di rumah masing-masing di daerahnya harus berkumpul bersama baik itu dua atau tiga orang  untuk membaca Kitab Suci dan berdoa memohon kekuatan Tuhan agar selamat dan berakhir virus corona. Perkumpulan beberapa orang untuk berdoa itu tidak hanya terjadi pada umat di masa pandemik ini saja tetapi itu telah tercatat dalam Injil Matius 18:19-20 yang berbunyi “Dan lagi Aku berkata kepadamu: jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga, sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”.

Dengan demikian pada masa corona ini seluruh umat di Papua tetap tenang di rumah, selalu berdoa, mohon pertolongan Tuhan agar masa pandemik virus corona ini cepat berakhir dan umat bisa kembali mengikuti perayaan ekaristi bersama pada hari raya paskah, natal, dan hari raya kenaikan Tuhan, perayaan hari minggu serta ekaristi harian di dalam gedung Gereja. Bukan saja kegian rohani tetapi juga kegian sosial lainnya bisa kembali aktif seperti biasanya.

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” di Jayapura-Papua