Home Pers Rilis TNI Membunuh Mati 3 Pendeta di Papua sejak 2004-2020

TNI Membunuh Mati 3 Pendeta di Papua sejak 2004-2020

102

Press Release:

TNI MENEMBAK MATI 3 (TIGA) PENDETA DI PAPUA SEJAK 2004-2020 (PDT. YEREMIA ZANAMBANI, PDT. GEYIMIN NIRIGI, PDT. ELISA TABUNI)

Saya, Dr. Socratez S.Yoman selaku Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (BPP-PGBWP) mengencam dan mengutuk keras atas penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua yang ditembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada Sabtu, 19 September 2020. Pendeta Yeremia tewas ditembak Pasukan TNI dalam operasi militer pada saat Pendeta Yeremia ke kandang babi miliknya untuk memberi makanan.

Pendeta Yeremia adalah Ketua Sekolah Teologia Atas (STA) di Hitadipa dan gembala jemaat Imanuel Hutadipa dari Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Daerah Hitadipa wilayah Papua 3, Penterjemah Alkitab bahasa Moni dan tokoh gereja dan juga pemuka masyarakat suku Moni.

Akibat dari operasi militer, ada 7-8 gereja dikosongkan dan anggota jemaat menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke hutan-hutan.

Kekejaman dan kejahatan TNI ini bagian yang tak terpisahkan perintah operasi militer dari Presiden Republik Indonesia Ir.Joko Widodo di Nduga Papua sejak Desember 2018 yang menyebabkan pelanggaran berat HAM besar-besaran dilakukan TNI di Papua.

Pendeta Geyimin Nirigi tewas ditembak oleh pasukan elit TNI tanggal 19 Desember 2018 di Distrik Mapenduma. Korban di suruh menggali tanah di belakang halaman rumah dan kemudian ditembak mati dan disiram dengan minyak tanah di tubuhnya dan dibakar dengan api. Kapendam XVII Cenderawasih, Mohamad Aidi menyebarkan hoax bahwa pendeta Geyimin Nigiri masih hidup dan sehat-sehat. Tetapi, hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Manusia Papua dipimpin langsung Direktur Theo Hesegem pada 25-27 Desember 2018 membuktikan, Pdt. Giyimin Nigiri (80/L) benar tewas di tangan pasukan elit TNI.

Kejahatan dan pelanggaran berat HAM lain yang dilakukan TNI menewaskan Pendeta Elisa Tabuni di Tingginambut, Puncak Jaya pada 16 Agustus 2004. Sebelumnya Pendeta Elisa Tabuni ditangkap, diborgol tanganya dan tewas ditembak oleh pasukan Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Koppasus, Letkol Inf.Yogi Gunawan.

Kekejaman, kekerasan dan kebiadaban TNI yang merendahkan martabat kemanusiaan sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan tidak beradab terhadap para pendeta dan gembala umat, pantas dikutuk dan dikecam karena perilaku TNI sangat terkutuk di hadapan TUHAN dan manusia.

Melihat realitas yang kejam dan brutal ini, Prof. Dr. Franz Magnis menegaskan:

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…..“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Sementara Pastor Frans Lieshout melihat bahwa “Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, (2020:601).

Remomendasi:

1. Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo segera menghentikan operasi militer di Papua dan juga segera menarik seluruh pasukan TNI Non Organik dari Sorong-Merauke.

2. Mendesak Dewan Gereja Papua (WPCC) segera menyurat kepada Konferensi Dewan Pasifik (PCC) untuk mendesak Anggota Negara-Negara Kepulauan Pasifik untuk menangkat tentang tewasnya tiga pendeta di Papua dalam forum PBB.

3. Mendesak Dewan Gereja Papua (WPCC) mengirim surat kepada Dewan Gereja Dunia (WCC) untuk mengangkat persoalan tewasnya tiga pendeta Papua kepada forum PBB.

Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, Senin, 21 September 2020

Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua,

Dr. Socratez S.Yoman

Kontak person: 08124888458; 08128888712.