Home Artikel/Opini Tikus, Monyet, Sampah dan Orang Asli Papua

Tikus, Monyet, Sampah dan Orang Asli Papua

68

10:24:06
Oleh: Florentinus Tebai)*
Tikus?
Tikus adalah sejenis binatang pengerat, hama yang bisa mendatangkan kerugian, baik di rumah maupun di sawah, berbulu, berekor panjang, pada rahangnya terdapat sepasang gigi seri berbentuk pahat, umumnya berwarna hitam dan kelabu, tetapi ada juga yang berwarna putih. Ada pun jenis-jenis tikus, yakni tikus rumah (Tikus yang diam di rumah-rumah, dapat menularkan pes), tikus sawah (Tikus yang hidup di sawah, memakan dan merusak batang padi yang masih muda); dan tikus tanah adalah (Tikus yang hidup dan bersarang di dalam tanah). Dengan demikian, Tikus adalah seekor binatang, pengerat, hama, tempat tinggalnya di sawah, dalam tanah, berburu, berekor panjang, yang bisa mendatangkan kerugian bagi siapapun dia. (“Tikus”dalam; https://kbbi.web.id/tikus).
Monyet?
Monyet adalah kera yang bulunya berwarna keabu-abuan dan berekor panjang, mukanya berkulit, telapak dan tangan kakinya tidak berbuluh, berekor, dan ukurannya kecil. Hidupnya di hutan hujan tropis dan semak. Makanannya adalah buah-buahan, rerumputan, dedaunan, serangga, dan laba-laba. Dalam dunia komunikasinya, ia menggunakan suara, ekspresi wajah, dan dengan menggerakkan tubuhnya untuk berkomunikasih. Jadi, Monyet adalah sejenis binatang yang memiliki ciri bulu berwarna kuning dan abu-abu, ekornya panjang, punya kulit di wajah, berbulu di telapak tangan, dan kaki. Hidupnya di hutan dan makanannya serangga serta dedaunan dan laba-laba. (“Monyet” dalam https://kbbi.web.id/monyet).
Sampah?
Sedangkan, Sampah adalah barang (Benda) yang sudah dibuang karena tidak terpakai. Kotoran. Ringkasnya, sampah adalah barang atau benda, kotoran yang dibuang, karena kotor dan tidak dapat difungsikan (Tidak terpakai). (“Sampah” dalam https://kbbi.web.id/sampah).

Orang Asli Papua?
OAP mempunyai keturunan. Lahir dari leluhur tete-nene moyang bangsa dan manusia Papua. Garis keturunannya jelas, yakni suku, ras, agama dan budaya sebagaimana seperti bangsa dan manusia lain yang juga memiliki leluhur dan datang keturunan. Punya ciri fisik yang identik dengan kulit hitam berambut keriting. “Hitam kulit, keriting rambut aku Papua” Edo kondologi melalui lagunya menyadarkan kepada dunia bahwa OAP adalah manusia yang memiliki ciri fisik dan garis keturunan. Ciri fisik dan garis keturununan inilah yang masih bertahan hingga kini. “Ini garis keturunan langsung dan bertahan sampai sekarang. Cirinya rambut keriting, hitam kulit sampai sekarang bertahan di Papua”.(“Leluhur orang Papua” dalam https://historia.id/sains/articles/leluhur-orang-papua-DEn0j).
OAP adalah bangsa melanesia dan bagian dari ras Negroid. Ini terlihat jelas dari ciri fisiknya. Oleh karena itu, OAP tidak dapat dianggap sebagai sampah, monyet dan tikus. Karena, OAP adalah manusa yang memiliki ras dan bangsa, seperti manusia, bangsa dan ras lainnya.“Dilihat dari jenis rambutnya dan warna kulitnya memang menunjukkan mereka merupakan bagian dari ras Negroid. Orang Papua sendiri menyebut diri mereka sebagai bangsa Melanesia”. (Kompas.Com, 29 Agustus, 2019). Hal serupa ini juga ditegaskan dalam undang-undang Otsus bahwa “orang asli Papua yang tertulis dalam UU Nomor 21/2001 Pasal 1 huruf (t) berbunyi, adalah”Orang yang berasal dari ras rumpun Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Papua, dan atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua”.
OAP sebagai manusia juga memimiliki hak. Hak-hak pribadinya telah menjadi bagian dari diri pribadi seutuhnya. Haknnya telah melekat pada dirinya sejak ia dilahirkan oleh ibunya bangsa leluhur Papua. Ia telah bertumbuh dan berkembang di dalam diri manusia. Dan kini telah tertanam kuat. Oleh karena itu, OAP adalah bangsa yang memiliki hak. Ia bukan binatang dan benda.“Manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya karena ia adalah seorang manusia”.(“Hak Asasi Manusia” dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia).
Artinya, OAP mempunyai harga diri dan martabat. Ia bukan binatang dan benda, melainkan seorang manusia. Hal ini dapat dibuktikannya melalui citra dirinya sebagai manusia ciptaan Allah (Creactio ex Nihilo). Ia diciptakan oleh Allah menurut gambar, rupa dan secitra dengan diri-Nya. Ia memiliki akal budi, kehendak bebas, dan hati nurani sebagai manusia. Oleh sebab itu, OAP adalah manusa ciptaan Allah yang tentunya berbeda dengan binatang dan benda-benda ciptaan lainnya. OAP adalah makhluk sejati.
Akhirnya, OAP bukan bangsa monyet, tikus dan sampah. Mereka tidak dapat disamakan seperti binatang (Monyet dan Tikus) dan benda (Sampah) oleh siapa pun dan bangsa mana pun. Karena, OAP adalah manusia sejati yang lahir dari leluhur bangsa Papua, memiliki ras, mempunyai hak-hak hidup, punya harga diri dan bermartabat, serta memiliki akal budi, kehendak bebas dan hati nurani. OAP bukan monyet, tikus, dan sampah. Tapi, OAP adalah manusia sejati.
)*Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Anggota Kebadabi Voice Group di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.
Referensi:
“Monyet” dalam https://kbbi.web.id/monyet. Diakses pada Rabu, 07 April 2020. Pukul 16.40 WIT.
“Sampah” dalam https://kbbi.web.id/sampah. Diakses pada Rabu, 07 April 2020. Pukul 16.40 WIT.
“Tikus” dalam https://kbbi.web.id/tikus. Diakses pada Rabu, 07 April 2020. Pukul 16.40 WIT.
“humanrightspapua.org/resources/nlaw/161-uu-21-tahun-2001-otonomi-khusus-bagi-provinsi-papua” dalam https://www.humanrightspapua.org/resources/nlaw/161-uu-21-tahun-2001-otonomi-khusus-bagi-provinsi-papua. Diakses pada Rabu, 07 April 2020. Pukul 16.40 WIT.
“Siapa-orang-asli-papua/” dalam https://suarapapua.com/2016/07/22/siapa-orang-asli-papua/. Diakses pada April, 07 Maret 2020. Pukul 16.40 WIT.
“Leluhur-orang-papua” dalam https://historia.id/sains/articles/leluhur-orang-papua-DEn0j. Diakses pada April, 07 Maret 2020. Pukul 16.40 WIT.
“Sekilas-perkenalan-tentang-monyet”dalam https://basecamppetualang.blogspot.com/2013/04/sekilas-perkenalan-tentang-monyet.html. Diakses pada Rabu, 07 April 2020. Pukul 16.40 WIT.