Home Artikel/Opini Terkikisnya Budaya Papua di Era Globalisasi

Terkikisnya Budaya Papua di Era Globalisasi

286

Oleh: Argopilus D. Urpon

Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna di dunia. Dengan memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafas, serta akal budi manusia eksis dalam eksistensi hidupnya di dunia. Terutama dengan kemampuan akal budi manusia mampu mengaktualisasikan potensi- potensi diri dalam kehidupan. Dan budaya merupakan hasil aktualisasi kemampuan manusia dalam kehidupan yang terwariskan.

Budaya berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah dari bentuk jamak budhi (budi atau akal) yang diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan budi dan akal. Di lain sisi, budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi merupakan unsur rohani, sedangkan daya adalah unsur jasmani manusia. Dengan demikian, budaya merupakan hasil budi dan daya manusia. Adapun definisi kebudayaan dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya ilah Edward B. taylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan potensi-potensi lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Herimanto dan Winarno, 2008:24). Oleh karena itu, budaya merupakan hasil kemampuan atau potensi manusia dalam aktualisasi pada subdimensi kehidupan sepanjang masa. Demikian setiap manusia di dunia memiliki budaya yang dibatinkan, dihidupi dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari pada sejarah manusia di dalam suku bangsa tertentu.

Orang Papua sebagai bangsa Melanesia pun memiliki budaya yang diwariskan secara turun temurun. Di dalam setiap suku-suku di Papua memiliki pola-pola perilaku khas, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain sebagainya sebagai wujud perilaku dan benda warisan nenek moyang yang dijaga dan dilindungi hingga kini. Keragaman budaya inilah menjadikan orang Papua unik di mata sesama suku dan dunia.

Dalam kehidupan orang Papua mempraktekan sebuah komunitas hidup yang bertata keramat, memiliki norma-norma, nilai-nilai hidup yang diwariskan secara turun temurun sebagai bentuk identitas suku bangsa yang urgen. Kebudayaan pun mengatur relasi antara manusia dengan manusia, serta manusia dengan roh atau dewa atau dewi. Hal ini sangat popular dalam adat istiadat orang Papua. Itulah kehidupan harmoni orang Papua dengan diri, sesama, alam, roh leluhur, dewa-dewi serta dengan Sang Pencipta. Dengan demikian kehidupan yang baik, melimpah, sejahtera, damai, dan adil diperoleh dengan mempertahankan relasi-relasi kehidupan bersama unsur-unsur tertentu selain manusia. Namun sebaliknya jika terjadi keretakan hubungan personal maupun komunal maka akan mendatangkan bahaya atau kutuk dalam kehidupan. Dan kini salah satu bahaya yang datang dari luar ialah masuknya pengaruh-pengaruh modern karena perkembangan zaman merupakan salah satu tantangan hidup orang Papua dalam menjaga eksistensi kebudayaannya. Tak pungkiri dan sadar bahwa zaman era globalisasi ini suatu masa yang sedang menantang dan mempengaruhi budaya kita.

Perkembangan di era globalisasi ini pada bidang teknologi informasi dan komunikasi membuat kebudayaan tenggelam dalam perkembangan zaman. Orang Papua sebagai suku bangsa yang berbudaya sudah sedang dan akan ditantang, dipengaruhi dan menggoncang kehidupannya dalam mempertahankan nilai-nilai, norma-norma, dan adat istiadat di tengah tawaran modern yang instan, sedap, manis, enak dan nikmat. Sehingga semangat daya juang, saling menghormati, kebiasaan hidup harmonis dan identitas diri dihancurkan. Ironisnya, sadar atau tidak kita sedang mengalami penghancuran dan pemusnahan identitas diri sebagai pewaris budaya di tanah ini.

Terutama generasi Papua masa kini karena dipengaruhi oleh segala kepentingan individu dan kelompok, gaya hidup, membuat budaya menjadi alat mencari keuntungan pribadi. Sebaliknya bukan sebagai suatu warisan kekayaan yang unik dan bernilai yang harus dijaga dan dilestarikan. Akibatnya di antara kita sendiri timbul egois, gengsi, iri hati, benci, dendam, sikap curiga dan bahkan saling membunuh. Inilah wajah kehidupan orang Papua kekinian yang kehilangan atau krisis identitas diri sebagai manusia berbudaya yang seharusnya hidup dalam kedamaian, cinta kasih, sejahtera dan adil.

Sebagai pemilik budaya, apa arti semua warisan luhur nenek moyang itu? Di manakah eksistensinya? Warisan nenek moyang yang dipertahankan dan diturunkan sejak awal mula hingga kini ditelan maut arus zaman yang dahsyat. Kini kita sudah di pengaruhi oleh budaya asing sehingga kita tidak bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang harmoni, tidak menciptakan pemimpin yg bijaksana, dan tidak memanusiakan manusia Papua yg baik dan sehat dalam pikiran, hati dan tindakan nyata.

Dengan melihat itu bagaimana cara kita untuk menata atau menghidupkan kembali arti nilai hidup dan budaya yg sangat unik itu dalam kehidupan sehari-hari menjadi tugas bersama. Yakni dengan membangun relasi harmonis dengan sesama, alam ciptaan, dan Sang Pencipta. Dalam situasi kini bagi orang Papua harus keluar dari zona ketergantungan yang menghanyutkan identitas asli kita dan membangun fondasi budaya yang kuta selektif. Di zaman pengujian jati diri ini orang Papua harus mempertahankan jati diri, menjaga adat istiadat, norma-norma dan nilai-nilai hidup untuk menjadi senjata menguji zaman. Terutama bagi generasi emas Papua agar berani untuk menguji segala sesuatu dengan budaya. Demikian di era globalisasi yang nikmat menelan budaya, orang Papua dan budaya Papua tetap eksis di mata dunia sebagai jati diri suku bangsa yang terlindung.

*Penulis adalah Mahasiswa Asal Pegunungan Bintang yang Kini Sedang Mengangur di Jayapura, Papua