Home Artikel/Opini Tanah Papua dan Orang Papua dalam Pandangan Saya

Tanah Papua dan Orang Papua dalam Pandangan Saya

254

(Sebuah Refkeksi atas Realitas Hidup OAP di Tanah Papua)

Oleh: Yulianus Magai*)

Saya kenal dan tahu bahwa tanah airku, tanah Papua adalah tanah yang indah dan mempesona. Keindahannya bagaikan burung cendrawasih, sehingga aku selalu bangga dan kagum dengannya. Papua sebuah pulau yang memiliki gunung dan bukit, sehingga banyak orang menjulukinya sebagai sebuah pulau yang penuh misteri. Tidak hanya itu, bahwa di tengah suku bangsa yang beragam (bermacam-macam), tanah Papua juga terdapat beragam suku, bahasa, dan budayanya yang unik, sehingga ia selalu menjadi perhatian dari banyak pihak. Semuanya amat menggiurkan.

Tidak heran bila banyak orang yang penasaran dan terkagum karena keindahannya yang tak terelakkan (tidak dapat dijangkau) oleh siapa pun yang menyaksikan dan menikmatinya. Dari kenyataannya, ciri-ciri orang Papua adalah mempunyai kulit berwarna hitam dan keriting rambut. Mereka (Orang Papua) adalah manusia yang mempunyai harga diri dan bermartabat. Akan tetapi, bangsa lain dan orang lain sering menghina dan bahkan menjuluki bangsa ini (Papua) dengan beragam sebutan, seperti “Monyet, Tikus, dan Sampah”. Itu artinya bahwa derajat dan martabat orang Papua sebagai manusia yang memiliki harga diri dan martabat dihina dan bahkan diremehken oleh bangsa dan orang lain yang tidak memiliki nilai kemanusiaan di dalam diri dan bangsanya.

Tidak hanya itu, bahwa ada realitas lainnya yang sangat menonjol ialah tanah air leluhurku sedang diperkosa, dikucilkan, dan bahkan dirampas oleh  manusia-manusia yang tidak memiliki nilai-nilai etis. Terkadang, saya sendiri merasa heran mengapa Tuhan menciptakan manusia yang sifat dan kelakuannya yang demikian. Saya sering menjadi heran dengan semuanya ini. Di manakah keadilan dan kasih Tuhan terhadap bangsa ini? Mengapa Tuhan membiarkan rakyat Papua terus menderita sepanjang hayat di atas tanah yang memiliki sumber daya alam?

Akhirnya bahwa, tanah Papua selain dikenal sebagai tanah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi realitas kehidupan rakyat Papua sendiri tidak menjanjikan harapan hidup di atas tanahnya sendiri. Artinya bahwa, walau orang Papua terlihat mereka sedang bernafas, tetapi mereka sendiri belum menikmati arti dari sebuah kehidupan yang senbenarnya, yakni kehidupan yang seharusnya dapat dijalani dengan rasa aman, tentram, adil, tanpa kekerasan, sejahtera, berpendidikan, sehat, tidak distigmatisasikan, tidak dieksploitasi atas hak-hak tubuh, nyawa, semangat hidup, hak atas tanah dan seluruh kekayaan alam, budaya, politik dan lainnya di tanah Papua.

*)Penulis adalah  Seorang Pelajar di SMK Negeri 3 Jayapura, Papua.