Home Mamta Solidaritas Mahasiswa Uncen Menolak Kajian OTSUS Jilid II Meminta Referendum di Papua...

Solidaritas Mahasiswa Uncen Menolak Kajian OTSUS Jilid II Meminta Referendum di Papua Barat

264

 – Solidaritas Mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) berdemonstrasi di depan Auditorium, dengan tegas menolak kajian Otonomi Khusus (OTSUS) Jilid II yang dilakukan oleh pihak Kampus dan Pemerintah Pusat, pada Senin 03 Juli 2020 kemarin.

Dalam rangka penolakan Kajian Otsus Jilid II itu, Solidaritas Mahasiswa Uncen  kembali turun jalan sebab mereka menilai Otsus Jilid I yang telah berlalu pun hanya  menyejahterakan para elit politik yang kini kembali mengatasnamaKan rakyat Papua untuk perpanjang Otsus Jilid II. “Selama 20 Tahun Otsus hadir, orang Papua hanya mampu menjual pinang untuk menghidupi keluarga. Apakah ini yang namanya Otsus berhasil? Jadi Stop sudah dengan Otsus berjilid ll.”

 Demonstrasi itu diakomodir BEM Uncen, tetapi saat berdemonstrasi, mahasiswa yang berjalan kaki naik ke Rektorat Uncen dihalangi TNI/POLRI tanpa alasan yang jelas.

“Waktu itu mahasiswa mengatakan dengan tegas bahwa, TNI/POLRI tak perlu hadang kami, karena kami mau sampaikan aspirasi ke Bapa Kami alias Rektor Uncen di Rektorat,” kata seorang Mahasiswa.

Namun dalam orasinya Mahasiswa mengatakan, “kami mahasiswa adalah tulang punggung rakyat, maka hari ini rakyat minta bukan otonomi khusus jilid II, tapi referendum untuk Papua Barat sebagai solusi demokratis.”

Menurut mereka, Otonomi Khusus Jilid I sama sekali tidak ada pintu yang terbuka demi kesejahteraan rakyat, tetapi realitasnya hanya ada pintu pembunuhan, pemerkosaan, penindasan, perampasan dan lain sebagainya.

“Kami menolak kebijakan otonomi khusus jilid II yang ditawarkan Jakarta (pemerintah Indonesia). Kami mendukung penuh petisi penolakan Otsus  jilid II yang didorong semua organ di tanah Papua. Kami juga menolak segala bentuk perwakilan yang mengatasnamakan seluruh elemen masyarakat Papua. Maka dengan tegas kami meminta segera bubarkan tim Pansus Papua yang dibentuk tanpa putusan sebagai utusan rakyat Papua.”

Untuk itu, dalam pernyataan sikapnya juga ditegaskan beberapa poin penting untuk semua perspektif bahwa:

1). Alangkah baiknya rakyatlah yang suruh menentukan Otonomi khusus OTSUS jilid II, bukan elit politik Papua dan Pemerintah Pusat.

2). Rakyat Papua Barat menolak dengan tegas Daerah Otonomi Baru (DOB) di seluruh teritori West Papua.

3). Pemerintah pusat, khususnya Presiden Republik Indonesia, Ir. Jokowi segera bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di atas tanah West Papua.

4). Kami Mahasiswa Papua mengatakan dengan tegas bahwa, dipihak manapun tak boleh lakukan tindakan apapun demi memperpanjang Otonomi Khusus Jilid II.

5). Semuanya itu disimpulkan jadi satu bahwa, segera melakukan Referendum di Papua Barat, karena tak pantas rakyat Papua hidup dengan negara kolonial Republik Indonesia.

6). Sudah lama kami taati reformasi, katanya berikan bukti bukan janji, tetapi sampai saat ini, itu bagaikan gula-gula manis yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada elit politik Papua Barat selama 20 tahun belakangan ini.

Jika negara Republik Indonesia mau aman, Solidaritas Mahasiswa Unce meminta pemerintah pusat memberi kebebasan kepada rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat sebagai sebuah solusi demokratis.

“Apabila pemerintah Indonesia tidak mengabulkan pernyataan kami, maka kami siap mendukung mogok sipil nasional di teritori west Papua. Mahasiswa Papua Minta Mendagri Stop Bicara Otsus Papua Jilid II.”

Reporter: Abdon Sambon/Akia Wenda

Editor: Ibo Goo