Home Artikel/Opini Sikap Pemerintah Daerah Terkait Penyebaran Virus Corona di Papua

Sikap Pemerintah Daerah Terkait Penyebaran Virus Corona di Papua

88

Oleh: Melpianus Uropmabin

Virus Corona (Covid-19) yang kita kenal sekarang ini, pertama kali ditemukan di Provinsi Wuhan, Cina dan menyebar ke Hampir seluruh dunia. Virus corona yang sedang melanda hampir seluruh dunia ini di duga bahwa awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun proses selanjutnya diketahui bahwa virus corona akhirnya menular dari manusia ke manusia sehingga yang terjadi adalah kematian banyak orang dalam jumlah yang tidak sedikit. Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang belum ditemukan vaksin untuk mencegahnya.
Di dalam situasi pandemik ini, apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan untuk mengantisipasi wabah Covid-19 ini? Tentu kita semua tahu bahwa penyakit ini sangat ganas dan mematikan banyak orang di seluruh dunia. Hampir setiap hari kita selalu mendengar bahwa di tempat ini, dan di negara ini jumlah kasus terpapar covid-19 meningkat bahkan kematian pun meningkat.
Oleh sebab itu hal yang paling penting untuk kita lakukan saat ini adalah tetap mengikuti anjuran Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah dengan tetap berada di rumah dan terus menerapkan protokol kesehatan yang ketat juga menerapkan pola hidup sehatdimanapun kita berada. Melihat perkembangan covid-19 yang meningkat akhir-akhir ini di Papua, ternyata penutupan akses tranportasi masih harus dilakukan. Akses keluar masuk Papua masih harus diberlakukan mengingat bahwa jumlah kasus yang terpapar covid-19 sedang menuju ke angka ribuan. Laporan terakhir per tanggal 31 Mei 2020 menunjukkan bahwa ada 815 kasus setelah penambahan 63 kasus baru(Seputarpapua.com 31/05/2020). Hal ini menunjukkan bahwa belum ada penuruan dan kita tidak tahu berakhirnya penyakit ini sampai kapan.
Penutupan Jalur Transportasi adalah Tanggungjawab Pemerintah Daerah
Akhir-akhir ini kebijakan Pemerintah Daerah dan Kementerian Perhubungan (Menhub) membingungkan. Pemerintah Daerah sudah memutuskan warganya untuk jangan keluar kota namun di sisi lain Menteri Perhubungan mengizinkan seluruh akses transportasi bisa kembali beroperasi. Menanggapi kebijakan tersebut, Pemprov Papua memutuskan untuk ‘mengabaikan’ perizinan operasional akses transportasi. Klemen Tinal selaku Wakil Gubernur Papua, mengungkapkan bahwa langkah tegas yang diambil oleh Pemerintah Papua adalah tetap menutup bandara dan pelabuhan (Kompas.com 08/05/2020). Namun, untuk pesawat dan kapal barang (kargo) harus tetap beroperasi karena ini terkait dengan kebutuhan ekonomi masyarakat secara umum. Penutupan akses tranportasi untuk penumpang dilakukan karena penyebaran kasus corona yang tersebar di Papua berasal dari luar Papua. Dengan menutup akses masuk dan keluar Papua pemerintah akan lebih fokus untuk mengatasi persoalan corona di dalam.
Rencananya, penutupan akses keluar dan masuk ke Papua akan diperpanjang hingga pertengahan Juni 2020 mendatang. Diketahui sebelumnya, penutupan akses tersebut telah dilakukan sejak 26 Maret 2020 dan telah tiga kali diperpanjang. Diharapkan bahwa Pemerintah Daerah terus memperpanjang penutupan akses transportasi untuk penumpang demi keselamatan warganya yang berada di Papua terutama keselamatan bagi Orang Asli Papua. Karena jika dibiarkan terbuka begitu saja, maka kepunahan manusia Papua bukanlah tidak mungkin terjadi.
Sikap masyarakat untuk mencegah Covid-19
Untuk mencegah Covid-19 dalam situasi seperti ini mengingatkan kepada kita untuk bagaimana relasi dan solidaritas antar keluarga, antar komunitas, antar lembaga, dan antar masyarakat luas (eksistensi kekeluargaan). Sebab virus corona (covid-19) menyadarkan kita untuk menjaga eksistensi kekeluargaan dan tempat tinggal kita. Kalau kita tidak menyadari betapa pentingnya keluarga dan tidak mencintai tempat tinggal kita maka yang terjadi adalah kematian dalam keluarga dan masyarakat umum. Oleh karena itu, dalam situasi pandemik ini kita dituntut untuk tetap mencintai dan menjaga hidup kekeluargaan kita, dan dimana pun kita berada tetap bersolider dengan sesama kita yang lain dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat yakni mencuci tangan secara rutin, menjaga jarak, menghindari kerumunan, menggunakan masker saat bepergian, berolahraga yang teratur dan makan makanan bergizi, serta teratur mengkonsumsi vitamin. Hal ini adalah langkah untuk keselamatan diri, keluarga, dan khayalak umum. Dengan demikian perlu adanya kesadaran dari diri kita, supaya kita bisa memutuskan mata rantai virus corona dari kehidupan kita.
Penerapan PSBB dengan batas waktu yang ketat sebenarnya membentuk mental masyarakat demi mengurangi dan meminimalisir penyebaran covid-19. Oleh sebab itu kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang diberikan oleh pemerintah perlu diseriusi bersama. Misalnya di kota Jayapura, Pemerintah memberlakukan pembatasan jam kerja sampai pukul 14.00 dengan harapan bahwa setelah pukul 14.00 tidak ada lagi aktivitas dalam bentuk apapun di luar rumah. Hal ini tentunya harus terus menerus diawasi oleh pemerintah. Sebab mental masyarakat saat ini harus terus didorong untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat yang tinggi. Dengan menjaga kesehatan diri sendiri, kita juga turut menjaga kesehatan orang lain.
Akhirnya, situasi saat ini juga menyadarkan kita akan pentingnya arti kekeluargaan dan persaudaraan. Selama tetap berada di rumah, kita diharapkan untuk menjaga keluarga kita masing-masing dengan tetap menerapkan gaya hidup sehat yang baik. Kekeluargaan memampukan kita untuk menyatukan harmoni antara anak-anak dan orang tua pun sebaliknya. Arti dan tujuan keluarga menghantarkan kita pada sikap peduli satu sama lain. Situasi pandemik ini mempersatukan setiap keluarga untuk menata hidupnya menjadi lebih baik lagi karena kitamenyadari bahwa keluarga adalah anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada kita manusia.

Penulis adalah Mahasiswa di STFT “Fajar Timur”
dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)