Home Artikel/Opini Selamat Jalan Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay Pr. Nabi Perdamaian di Papua...

Selamat Jalan Pastor Dr. Neles Kebadabi Tebay Pr. Nabi Perdamaian di Papua Barat

98

Sebuah Refleksi ini, dipersembahkan untuk para pejuang perdamaian

Oleh: Sebedeus Mote

Pengantar

Setiap tahbisan  Imam Prajo Keuskupan-Keuskupan regio di Papua, khususnya Suku Mee selalu memberikan dan menamai nama adat. Pemberian nama adat tidak sekadar memberi, tetapi berdasarkan hasil refleksi dari para tua-tua adat dengan dirinya yakni (Diakon yang mau ditahbisakan sebagai Pastor). Berdasarkan itu, dialog serta diskusi bersama harus diadakan yakni di rumah laki-laki (emawa), rumah yang hanya bisa dihuni oleh para laki-laki, lalu memutuskan nama adat. Khusus untuk beliau ini mendapat nama”Kebadabi”  kebada artinya, membuka jalan, sedangkan bi ini menunjukan pribadinya sebagai laki-laki  mee sejati.

Maka kebadabi secara umum adalah pribadi atau manusia sejati yang membuka jalan dan membuka pintu. Pembuka jalan berarti merintis jalan baru, jalan yang orang tidak pernah rintis serta bersihkan supaya setiap orang jalan melalui jalan itu, dan membuka pintu rumah bersama yang didambakan oleh setiap orang yang percaya kepada Allah. Salah satu contohnya adalah Pastor Neles adalah Pastor asal Papua pertama yang kuliah di Roma yang menyusul Pastor Yulianus Mote dan seterusnya, nanti banyak. Arti dari seutas nama ini menunjukan semangat yang kuat, tanpa lelah, tanpa bosan, melirik dan menghayati nama adat yang dimilikinya lalu merintis jalan baru supaya semua orang lewat dan menemukan melalui jalan lalu sampai pada tempatnya yakni berdialog untuk perdamaian tanah Papua antara Jakarta-Papua.

Kebadabi selama hidupnya percaya bahwa dialog mampu mempertemukan semua pihak untuk mencari solusi yang tepat atas semua konflik yang terjadi terutama dalam hidup kemanusian sebagai ciptaan yang luhur dan mulia. Kebadabi sudah menunjukan arah yang tepat bagi pihak Jakarta dan Papua. Oleh karena itu tujuan utama yang dibahas dalam tulisan ini adalah nabi perdamaian di West Papua.

Kebadabi sebagai Nabi Perdamaian

Gerakan kenabian ini adalah gerakan dari Allah bukan dari bumi. Pastor Neles adalah Nabi yang baik, yang mengenal dan mendengarkan harapan umat kristianinya secara menyeluruh. Mengingat tugas ini sebagai nabi tidak dapat menyampaikan Firman Allah sesuka hati, ia menyampaikan  apa yang dikehendaki oleh Allah dan berbicara sejauh Allah menghendakinya untuk membebaskan konflik berkepanjangan antara Indonesia versus Papua. Mereka tidak bernubuat atau mewartakan secara terus-menerus atau secara teratur mengikuti jadwal tertentu. Sesudah menyampaikan Firman Allah kepada umat, ia tidak bernubuat untuk berapa lama, sampai Allah menyuruhnya untuk berbicara lagi. Cara yang ia gunakan adalah berbicara kepada orang-orang untuk menyampaikan Firman Allah yakni tentang kebenaran, melalui tulisan, kata-kata dan tindakan baik yang ia buat.. Tetapi nampaknya sampai saat ini dialog Jakarta-Papua belum terjadi.

Sebagai putra terbaik dari tanah Papua ia sungguh-sungguh masuk dalam pergumulan tentang apa saja yang dialami oleh orang Papua, yang tertindas di atas tanahnya sendiri yakni di tanah yang penuh misteri. Sang kebadabi hadir ditengah pergumulan hidup manusia Papua sejak ia mahasiswa STFT tingkat III. Nah, ditengah pergumulan inilah ia terus tuangkan pemikirannya untuk membebaskan bangsa yang hidup dalam kekerasan. Kekerasan sampai saat ini terus terjadi dan mengorbankan banyak orang Papua yang dikategorikan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam hal ini walaupun ia meninggal dunia, Gereja Papua akan terus bicara, bersuara dalam kerangkah pembelaan terhadap kasus kemanusiaan dengan jalan damai demi keselamatan tubuh dan jiwanya menuju kemerdekaan yang sesungguhnya, yang didambbakan oleh orang Papua sendiri.

Sang kebadabi selama masa hidupnya, ia mewartakan karya keselamatan Allah melalui khotbah terhadap mahasiswanya dan tulisan cetak maupun melalui tulisan lepas. Ditengah umat kristiani Papua yang mengalami penindasan, pendidikan di STFT Fajar Timur dan memperjuangkan dialog damai antara Jakarta-Papua.  Tetapi lebih banyak selama hidupnya kebadabi habiskan di pendidikan STFT Fajar Timur. Fajar Timur menjadi pusat keselamatan pembebasan bangsa Papua. Sebagai pusat keselamatan melalui pemikirannya dari tempat ini melahirkan dialog damai. Kami mahasiswa maupun Alumni pasti bersuara tentang pembebasan terutama HAM dan dialog damai sebagai fasilitator untuk semua pihak yang bertikai. Ini bukan dari siapa-siapa tetapi tugas khusus dari Allah supaya membawa dan membebaskan untuk menemukan rahasia Allah yang dihendaki untuk setiap umat beriman yang ada di Papua demi menciptakan suasana Damai dari Allah di tengah Tanah Papua.

Dahulu juga banyak nabi dibunuh, penggal kepala seperti Santo Stefanus dan yang lain-lain, banyak sekali. Mereka yang tamat dari sini pun sama tidak jauh berbeda, memang benar demi kebenaran Allah siap mati ditangan penyamun pembela setan. Melalui ini kebadabi yakin bahwa bangsa Papua  bisa mencapai pada hidup damai di taman firdaus dan semua orang dari setiap bangsa datang menemukan yang aslinya. Dalam hal ini bangsa yang berbeda dengan orang Papua tidak perlu untuk berkomentar, memang nampaknya begitu. Kalau seandainya anda berkomentar anda penjajah bukan pejuang damai bersama jalan yang anak negeri Papua kasih tahu ini.

Kebadabi selalu menyampaikan dan pernah mengatakan [1]essensi dari dialog JDP (Jaringan Damai Papua) adalah para pihak yang bertikai menyelesaikan masalahnya tanpa pertumpahan darah. Para pihak yang bertikai perlu diundang dan difasilitasi dan mereka duduk membahas dan mengindefikasi apa masalahnya yang menyebabkan sampai mereka berkonflik. Sesudah masalahnya diidentifikasi, maka para pihak yang sama berdiskusi bagaimana menyelesaikannya, bagaimana dan apa solusinya yang realistis dan yang bisa diukur.

Kalau sudah diukur dan sudah sepakati bersama, maka selanjutnya perlu dilaksanakan dilakukan dibuat bukan didiamkan. Dialog itu bukan tujuan yang dikejar, tetapi dialog sebagai sarana yang dipakai untuk menyelesaikan suatu masalah secara bermartabat tanpa pertumpahan darah. Dialog diangkat untuk menyelesaikan kecurigaan yang diwarnai oleh ketidakpercayaan. Didalam suasana ini, apa pun ide baik yang diusulkan oleh para pihak yang berkonflik akan ditolak dan dicurigai. Maka Kebadabi dan muridnya, anggotanya, sadari betul bahwa ide JDP kita angkat dan sosialisasikan, kita tawarkan dalam suasana kecurigaan dan ketidakpercayaan ini. Maka pecinta dialog damai Papua, mesti teruskan ini. Kalau kita tidak teruskan dosa, mengapa? Karena ini missio Dei misi Allah, yang mestinya kita sampaikan kepada semua orang, dan menjadikan mereka murid Yesus dalam pelukan kasih Allah yang tiada batas dan tiada habisnya.

Pater Neles Kebadabi adalah Pater yang mendengarkan dan merasakan kegelisahan ditengah umat tertindas. Ia tidak membiarkan semua ini terjadi begitu saja, tetapi ia memaknai dengan benar akan panggilan Imam yakni sebagai seorang pewarta. Bapa sebagai pewarta anak juga sebagai pewarta, itu memang harus begitu, dari genarasi ke generasi. Menjadi pewarta misi dan karya Allah semua orang bisa, tetapi untuk babak yang diwarnai dengan aneka macam persoalan umat beriman ini, seorang pewarta tidak bisa menjadi pewarta sejati,  seorang Uskup tidak bisa menjadi Uskup sejati, seorang Pastor tidak bisa menjadi Pastor sejati, seorang pendeta tidak bisa menjadi pendeta sejati, Diakon sejati, Frater sejati, Suster sejati, dan awam yang sejati. Semua panggilan ini, menjadi panggilan sejati ketika menghayati hidup panggilan itu sendiri yakni menyuarakan atas pelecehan martabat orang Papua dan secara umum membebaskan kaum tertindas. Kalau demikian pasti menemukan rahasia Allah atas panggilan yang diembannya.

Berkaitan dengan melecehkan kemanusiaan berarti gereja harus bicara

Pertama dan terutama gereja itu memandang urusan HAM sebagai suatu kegiatan pastoral. Pastoral HAM patut dan dapat dinyatakan melalui tri tugas yakni pewartaan-pewartaan, promosi panggilan, dan pembelaan HAM. Gereja sebagai tempat dan pusat mewartakan kebenaran Allah yang menciptakan umat manusia. Ia memandang pewartaan HAM sebagai tanda dan sarana keselamatan, dan tentang umat beriman akan Allah pencipta yang mempunyai dimensi yang kudus dan ilahi.

Kebadabi menyuarakan hak-hak orang lemah. Kebadabi sosok orang yang sudah memperjuangkan kebenaran pada zaman ini. Ia melahirkan dialog terinspirasi dari Kitab Suci dan ASG  supaya pihak yang bertikai ini menemukan kebenaran didalamnya. Sampai saat ini dialog Papua-Jakarta tidak ada jadwal untuk dialog, belum panggil tokoh-tokoh perjuangan dari Papua untuk menyelesaikan masalah yang melanggar lewat batas terkait dengan beribu pelanggaran Hak Asasi Manusia. Mungkinkah kebenaran sendiri membela kita?. Bagiku pasti kebenaran itu tetap memerdekakan kita.

Sebelum Kebadabi meninggalkan kita semua, banyak umat beriman di tanah Papua menyatakan layak menjadi Uskup Keuskupan Jayapura, tetapi beliau kini hanya tinggal nama Kebadabi, dengan karyanya yang luhur dan mulia dihadapan umatnya dan kepada Sang pemberi inspirasinya yakni Roh Kudus yang meraja dalam diri Kebadabi. Sang nabi dari Papua ini, Ia sudah melahirkan gerakan kenabian yakni Jaringan Damai Papua. Gerakan ini sungguh menjangkau semua umat beriman di dunia, apa pun agama, keadaan sosial, suku, serta bangsa lain. Gerakan kenabian yakni Dialog damai ini harus diperjuangkan, mulai dengan dialog secara diri pribadi, dengan Allah, dan sesama lalu menemukan masalah yang dihadapi dan dialog secara bersama sebagai mahluk sosial, yang sama-sama diciptakan oleh Allah Maha Pencipta.

Umat Papua masih menunggu Dialog Jakarta-Papua

Segala persoalan itu hanya bisa dan dapat selesai melalui dialog penuh keterbukaan, jujur, adil, supaya hidup dalam aman dan damai sebagaimana dirindukan oleh umat Papua yang notabenya hidup dalam kekerasan negara mulai dari 1961 sampai saat ini dan hari ini. Kami punya nabi perdamaian memang sudah wafat di Salib dilokasi dapur keselamatan jiwa umat beriman di tanah Papua. Tetapi Kebadabi ini, sudah memperjuangkan perdamaian di tanah Papua yang tercinta ini, dengan metode damai tanpa kekerasan, dan kekerasan memang bukan jalan Allah dan misi Allah.

Kami umat di Papua meminta kepada pemimpin negara Ir.Joko Widodo sekali lagi segera mendengarkan jeritan bangsa Papua. Dan kami mohon Bapak presiden membuka mata dan membuka telinga atas seluruh pelanggaran HAM yang terjadi sampai hari ini. Kami meminta dengan hati yang mendalam mohon selesaikan pelanggaran HAM melalui jalur dialog Jakarta-Papua dengan tokoh-tokoh dari Papua baik yang dalam negeri maupun di luar negeri yang mediasi oleh pihak ketiga yang netral yakni pihak PBB dan HAM Internasional. Mari kita dialog tentang semua pelanggaran HAM sejak tahun 1961 sampai saat ini, kalau memang tidak bisa kita dialog pelanggaran HAM sejak bapak Presiden Jokowi menjabat sebagai presiden sampai saat ini, tetapi ingat bahwa kebenaran Allah tidak perlu dirahasiakan oleh siapa pun. Mari kita dialog, untuk mencari solusi yang tepat untuk rakyat West Papua

Penutup

Walaupun Kebadabi sudah pergi dan tidak bersama kami, dengan ketiadaan dia kami hadir sebagai subjek yang hidup ditengah badai hidup yang tiada henti.  Hidup seakan kering, tanaman sudah layu akibat setan jahat yang melirik tanaman jenius yang elok permai. Seakan tiada harapan tiada masa depan untuk meraih kebebasan yang melampui kejahatan setan mata merah, yang menerkam pribadi-pribadi jenius yang tumbuh diantara hutan belantara. Derita hanyalah derita, tetapi penderitaan di bumi bukan akhir dari segalanya, namun semua ini merupakan sebuah persiapan hidup baru yang dikehendaki oleh pribadi pencipta-Nya.

Kami juga punya pikiran dan perasaan, mengapa ia secepat itu pergi? Pertanyaan ini selalu ada di sanubari para pejuang kemanusiaan di Papua. Mempersiapkan hidup baru memang tidak mudah, membutuhkan proses dan harus ada yang korban, dimata kolonial Indonesia.

Nabi Yesaya itu telah menyatakan dengan jelas nubuat tentang seorang Hamba yang menjadi tebusan yang berlaku bagi banyak orang. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Yesaya bernubuat bahwa melalui penderitaan Yesus banyak orang akan diampuni, dibenarkan, ditebus, dan disembuhkan. Penderitaan-Nya juga akan menghasilkan pemuliaan-Nya.

Naskah tentang “hamba Tuhan yang menderita” dapat kita temukan dalam Kitab Yesaya 52:13-53:12. Secara umum naskah ini berbicara mengenai nubuat nabi Yesaya tentang karya keselamatan Allah melalui hambaNya yang akan mengalami banyak penderitaan.

Ucapan selamat jalan untuk Kebadaby dalam bahasa Mee

Kokee Naitai Tebay Patoga waee, kagegai bagekeike okeinaa Ugatamepa bokopetaitai Akiyaa wagidakegaka koya Iboyaa enaidaka owapa  uwii. Ugatameya enaidaka makikoda make ini akiyokane nidoutoumaa, migauguma nitaikodokoyee. Inuwaibo Yesus Kristus kidima enaidaka bageidomaa iniya makiyonimana wegaitage duba ikinidoutou kodokoyee.

Akadoudato woakado, Kebadaby iboya yimubeuowapa koya uwii.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura Jayapura-Papua

[1] PLC, Papua Lawyers Club