Home Puisi Secangkir Kopi di Menteng dan RDP

Secangkir Kopi di Menteng dan RDP

9

Siang itu membakar…

Tak satu pun yang dilewatkan, tidak juga aku dan dirimu.

Sepoian angin terasa pelit tuk memberikan sehelai sejuk…
Pahitnya kopi pun menusuk hingga dalamnya tubuh terasa.

Setetes demi setetes kopi terhenti sejenak, saat kubaca kian banyak pejabat yang nolak RDP.
Pahitnya kopi tak terasa lagi karna digantikan logika yang sedikit menertawakan lelucon para birokrat.

Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang wajib untuk rakyat ditolak birokrat, ironi bukan, gelitik hati, mungkin juga nyindir yang diekspresikan dalam senyum.

Kopi, terkadang kau mengajak ku tuk melihat lelocon dibalik upaya tutupnya demokrasi dan upaya mematikan kesadaran kritis rakyat.

Masih di bawah mentari…
Ditemani secangkir kopi tuk melirik pernyataan yang bertentangan dengan legal desentralisasi asimetris yang dimiliki MRP.“`

Jakarta, 17 November 2020.
*Marthen Goo* _(Penyair)_