Home Artikel/Opini Rasisme & Ketidakadilan: Akar Persoalan Mendasar di West Papua

Rasisme & Ketidakadilan: Akar Persoalan Mendasar di West Papua

74

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Karya ini sebagai: “SERUAN MORAL & PASTORAL KEPADA SELURUH RAKYAT & BANGSA WEST PAPUA DI TANAH MELANESIA YANG ADA DI DALAM DAN LUAR NEGERI” DARI ITA WAKHU PUROM, KAMIS, 25 JUNI 2020.”

A. Pendahuluan

Para kawanan MONYET (Orang Asli Papua), Anda perlu mengerti dan tahu serta sadar baik-baik. Anda jangan menjadi seperti MONYET berwatak rendah yang memiliki kepatuhan buta pada bangsa kolonial Indonesia yang rasis. Penulis sampaikan dengan jujur dan terbuka, bahwa selama ini yang menjadi DASAR pendudukan dan penjajahan Indonesia terhadap OAP adalah RASISME & KETIDAKADILAN.

Karena itu, selama 57 tahun sejak 1963-2020 sampai nanti ke depan penguasa kolonial Firaun moderen Indonesia dan TNI-Polri berlindung dan bersembunyi dibalik stigma/mitos makar, separatis, jargon NKRI harga mati. Masalah sesungguhnya ialah RASISME dan KETIDAKADILAN

Mitos atau stigma makar, separatis dan jargon NKRI harga mati dikreasi dan diopinikan oleh penguasa kolonial Indonesia sebagai domain dan dimensi politik dan dipelihara baik dan dijadikan sebagai jalan TOL tanpa HAMBATAN, HALANGAN serta RINTANGAN untuk membatai dan memusnahkan Orang Asli Papua tanpa merasa berdosa dan juga salah. Dan juga, tanpa diintervensi oleh negara-negara lain karena itu persoalan politik Dalam Negeri Indonesia. Karena Orang Asli Papua dipandang sederajat dengan binatang MONYET yang harus dimusnahkan atas nama RASISME dan KETIDAKADILAN.

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, rohaniawan Katolik mengakui dan membenarkan dengan pernyataan yang dikutip ini.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…”

Di tambahkan lagi “…Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.”( Sumber: Magnis: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015, hal. 255).

B. RASISME DAN KETIDAKADILAN
Telah Melahirkan 4 Persoalan Mendasar yang Menahun (Kronis)

RASISME DAN KETIDAKADIKAN merupakan akar persoalan yang melahirkan 4 pokok masalah yang dirumuskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

(1)Kontroversi sejarah dan status politik integrasi Papua ke dalam wilayah Indonesia yang masih bermasalah;

(2) Kekerasan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan negara selama 57 tahun;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang Papua di tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat.

Sepertinya Tim LIPI sangat hati-hati merumuskan akar persoalan Papua. Bagi Tim LIPI merasa sangat berbahaya kalau akar persoalan sebenarnya diungkapkan. Tetapi, Tim LIPI berhasil memetakkan akibat 4 akar masalah sebagai hasil dari akar masalah sesungguhnya yaitu RASISME dan KETIDAKADILAN.

Penulis mengurutkan akar persoalan yang diderita rakyat dan bangsa West Papua sebagai berikut:

1. RASISME sebagai sumber masalah;

2. KETIDAKADILAN sebagai sumber masalah;

3. Sejarah pengintegrasian dan status politik West Papua dalam Indonesia sebagai hasil dari RASISME dan KETIDAKADILAN.

4. Pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara selama 57 tahun sebagai akibat dari RASISME dan KETIDAKADILAN.

5. Diskriminasi dan Marginalisasi yang disebabkan dari RASISME dan KETIDAKADILAN.

6. Kegagalan pembangunan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi Penduduk Asli Papua karena OAP dianggap MONYET sehingga tidak perlu dibangun dan ini disebabkan oleh RASISME dan KETIDAKADILAN.

C. Terima Kasih TUHAN atas peristiwa Surabaya 15-17 Agustus 2019

Mengapa penulis mengucapkan terima kasih kepada TUHAN? Karena, TUHAN telah memakai orang-orang ini MENYATAKAN dan MENGUMUMKAN akar persoalan rakyat dan bangsa West Papua, yaitu RASISME dan KETIDAKADILAN.

Peristiwa RASISME yang terjadi pada 15-17 Agustus 2019 di Semarang, Malang dan Jogyakarta yang dilakukan oleh organisasi massa radikal seperti: Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Pancasila (PP), anggota TNI dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI (FKPP) ini MEMBUKA MATA kita semua, bahwa akar persoalan di West Papua bukan makar, bukan separatis, bukan juga NKRI harga mati, tetapi RASISME & KETIDAKADILAN.

Para kawanan MONYET (Orang Asli Papua), dimana saja Anda berada di dalam Negeri atau di Luar Negeri. Anda harus Ingat! Anda Jangan lupa! Anda harus Sadar! Anda harus Mengerti! Anda harus Tahu! Anda harus pegang! Anda harus perjuangkan dan kampanyekan dalam doa dan moril!

D. Rakyat dan Bangsa West Papua Tidak Sendirian Melawan RASISME DAN KETIDAKADILAN

Untuk memastikan dan meyakinkan rakyat dan bangsa West Papua tidak sendirian, penulis mengutip Realitas Jumat, 19 Juni 2020 dengan topik: “PEMERINTAH INDONESIA PANIK: PENGUASA INDONESIA MEMELIHARA RASISME, MEMPRODUKSI HOAX DAN MEMPROVOKASI ORANG ASLI PAPUA.”

“Pertanyaan penulis ialah mengapa Indonesia panik? Apakah benar penguasa Indonesia memelihara rasisme, produksi hoax dan provokasi terhadap orang asli Papua untuk menciptakan konflik besar-besaran di West Papua dari Sorong-Merauke?”

“Analisa penulis bahwa penguasa Indonesia sedang panik. Karena, para penguasa Indonesia selalu menggampangkan masalah dengan mengandalkan kekuatan TNI-Polri, kekuatan finansial, kekuatan para diplomat, kekuatan media massa yang dikontrol negara dengan berita-berita hoax yang disajikan terus-menerus yang dapat mempengaruhi opini rakyat Indonesia dan kekuatan para peneliti serta akademisi.”

“Singkatnya ialah penguasa Indonesia gagal dalam diplomasi internasional di kawasan Negara-Negara Pasifik. Sementara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) memenangkan diplomasi. Penguasa Indonesia juga gagal meyakinkan anggota Negara-Negara Afrika, Carabia dan Pasifik (ACP) dan lagi-lagi ULMWP didukung oleh 79 Negara anggota ACP pada 10 Desember 2019 di Nairobi, Kenya.”

“Sebelumnya, penguasa Indonesia tidak berhasil menggagalkan ULMWP menjadi Observer (Peninjau) dalam Grup anggota Negara-negara Melanesia (MSG) pada KTT MSG pada 26 Juli 2015 di Honiara Solomon Islands.”

E. Persoalan West Papua Sudah Antara Negara dengan Negara

Pemerintah Indonesia jangan membohongi rakyat Indonesia dan rakyat West Papua. Karena persoalan West Papua merupakan persoalan kemanusiaan secara Internasional. Persoalan West Papua sudah menjadi persoalan bangsa-bangsa berdaulat atau bangsa merdeka.

Negara Vanuatu telah menjadi sponsor ULMWP. Dan juga Negara-Negara Pasifik (PIF) bersama ULMWP. Negara-Negara Carabia, Afrika, Pasifik (ACP) bersama ULMWP.

United Liberation Movement for
West Papua (ULMWP) juga didukung oleh lembaga pengawal moral dan iman, yaitu Dewan Gereja Papua (WPCC) secara resmi pada Minggu, 17 Februari 2019 merekomendasikan Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC) dan Dewan Gereja Dunia (WCC) untuk mendukung ULMWP untuk memperjuangkan dengan JALAN DAMAI supaya mengakhiri penderitaan Orang Asli Papua atas korban RASISME dan KETIDAKADILAN selama 57 tahun.

“RASISME, RASISME, RASISME dan KETIDAKADILAN, KETIDAKADILAN KETIDAKADILAN ADALAH AKAR PERSOALAN PAPUA MELAHIRKAN EMPAT AKAR MASALAH YANG TELAH BERHASIL DITEMUKAN LIPI.”

“JADI, SUDAH MENJADI JELAS DAN TERBUKA BAGI SEMUA ORANG BAHWA AKAR PERSOALAN PAPUA BUKAN MAKAR DAN SEPARATIS TETAPI RASISME DAN KETIDAKADILAN.”

F. Jalan Penyelesaian

Pemerintah Republik Indonesia duduk setara dengan United Liberation Movement for West Papua (RI-ULMWP) untuk dialog DAMAI tanpa syarat dimediasi pihak ketiga di tempat netral. Referensinya ialah GAM-RI di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Black Lives Matter. West Papua Lives Matter. RASISME dan KETIDAKADILAN harus diakhiri demi kebaikan umat Tuhan di Tanah ini.

Ita Wakhu Purom, Kamis, 25 Juni 2020.
____________
Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota: Konferensi Gereja Pasifik (PCC).
4. Anggota : Baptist World Alliance (BWA).