Home Puisi Puisi-Puisi Yon Boni

Puisi-Puisi Yon Boni

85

Berita Pagi

Di suatu pagi tanpa sengaja, seorang sahabat mengajakku menikmati kopi
Yang diracik dengan cita-rasa pandangan
Dicampur dalam aroma perbedaan
Yang akhir-akhir ini ramai dicecap bibir-bibir fitnah.
Di setiap jeda tegukan kopi ia menguraikan sebuah dongeng tua:
Bahwa sering penghuni negeri ini diperiksa oleh orang-orang mahabesar
Tentang asal-usul, apa agama dan siapa Tuhannya
Diintai berapa banyak ibadah, juga berapa amalnya.
Dalam pusaka doa terdengar teriakan minta Tuhan tolong
Kejamnya habis teriak, lanjut hujat Tuhan yang lain
Sesudah menghujat minta ampun.
Batinku menjerit-jerit sesudah mencerna isi dongeng beragama itu
Lalu aku berbalik arah. Mencari tempat tapa yang lebih nyaman
Agar tenang menuntaskan kopi persabahatan.

Catatan Rindu

Salam sehimpun rindu dari Bukit Sandar Matahari
Teruntuk: “dunia sedang berduka oleh rupa-rupa virus kebobrokan”
Maafkan aku Puela, aku tidak bisa menjumpaimu di akhir tahun ajaran kali ini
Sebab banyak ajaran menghalang jalan kembali
Mengadakan suatu pertemuan singkat
“Tentang cinta, tentang kematian tanpa kita ”
“Di sini aku duduk di pondok kopi membelakangi kenangan yang mulai menua”
Juga engkau pasti tahu:
“aku ke kemari berserah diri pada rindu yang mengikuti panggilan kopi”
Ketika sudah bangun dari kenangan
Aku bertemu senja di depan jendela
Barangkali di perhentian ini akan sangat menyenankan
Dengan memelukmu di sudut-sudut bayang
Di hadapan jendela sore yang merunduk
Tertumpah kopi rindu yang banyak jumlahnya

Penulis adalah seorang mahasiswa tingkat 1 STFK Ledalero Tinggal di Unit Gabriel-Ledalero.