Home Artikel/Opini Potensi Emas yang Kini Ditambang Secara Ilegal di Wilayah Suku Ukam

Potensi Emas yang Kini Ditambang Secara Ilegal di Wilayah Suku Ukam

74

Oleh: Panuel Maling

 

Papua merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber alam sebagai akibat kegiatan lempengnya yang terus mengalami perkembangan. Geologi Papua merupakan sesuatu yang kompleks, melibatkan kegiatan interaksi konvergen Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik serta proses pengendapan di masa lalu yang mengalami perkembangan dan pengangkatan.

Peristiwa-peristiwa geologi di Papua telah banyak diteliti dan dipelajari oleh para ahli geologi. Pelopor penelitian adalah Visser dan Hermes (1962), sejak itu pulau ini menjadi pusat perhatian bagi para ahli geologi, geofisika, maupun ahli eksplorasi. Para ilmuwan yang meneliti pulau ini umumnya berpendapat bahwa orogenesis( pengangkatan) pada kala Oligosen adalah awal mulainya proses tektonik di Papua hingga terbentuk fisiografi yang terlihat pada masa sekarang ini dan lazim dikenal sebagai Orogenesa Melanesia. Orogenesa ini mengakibatkan pola struktur Pulau Papua menjadi sangat rumit dan khas. Secara keseluruhan unsur ini diakibatkan oleh gaya pemampatan berarah barat daya-timur laut, searah dengan tumbukan (Dow, drr (1984).

Struktur geologi yang berkembang di daerah ini (secara regional wilayah Suku UKAM) adalah sesar anjak, antiklin dan sinklin yang mengarah hampir barat laut – tenggara, sesar geser berarah hampir utara – selatan. Struktur tersebut diakibatkan oleh interaksi antara Lempeng Samudera Pasifik di utara dan Lempeng Benua Australia di selatan permulaan Tersier. Batuan malihan (kelanjutan dari Batuan Derewo ke arah timur) di tepi utara Benua Australia boleh jadi akibat peristiwa tektonik di awal Oligosen. Tektonik ini dihasilkan oleh tumbukan antara busur kepulauan Eosen (formasi Auwewa, Visser dan Hermes, 1962) dengan Benua Australia. Batuan ofiolit yang tersingkap di daerah ini kelihatannya teralihtempatkan di kala ini. Setelah itu tidak ada tektonik sampai pada akhir Miosen, saat mana tektonik berikutnya mulai giat (Orogenesa Melanesia. Dow dan Sukamto, 1984; Dow drr 1988) yang menghasilkan struktur utama di daerah ini.

Batupasir dan batulempung yang merupakan bagian dari kelompok kembelangan dan batugamping Tersier (Batugamping Oksibil dan Formasi Yawee) mungkin dapat digunakan sebagai bahan untuk industry semen. Batuan ultrabasa dan batuan intrusi dapat digunakan sebagai bahan bangunan, seperti bahan pengeras jalan dan pondasi.

Batuan intrusi yang terdiri dari diorite dan granodiorit menerobos batugamping Tersier (Formasi Yawee dan Batugamping Oksibil) memungkinkan terjadi endapan skarn yang terdiri dari mineral bijih yang bersifat ekonomis misalnya tembaga, emas dan lain-lain.

Daerah pembahasan di dominasi oleh Formasi Buru, Batugamping Oksibil, Batugamping Yawee, Kelompok Kembelangan, Batuan Intrusi dan Kipas Aluvium.

Berdasarkan informasi Geologi Regional Papua diatas, sudah bisa  kita ambil kesimpulan sementara bahwa daerah Suku UKAM yang secara administrasi terletak di Kabupaten Yahukimo bagian timur dan Kabupaten Pegunungan Bintang bagian barat ini kaya akan sumber daya alam yang bernilai ekonomis, prospek dan memiliki cadangan yang cukup. Salah satunya adalah Emas, yang sampai sekarang aktivitas penambangannya masih berjalan secara ilegal sejak tahun 2017 hingga sekarang. Aktivitas penambangan emas yang masih berjalan adalah emas sekunder. Emas sekunder adalah emas hasil transportasi dari pelapukan batuan pembawanya di kaki-kaki gunung.

Nilai jual emas batangan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk terakhir pada tanggal 3 Juni 2020 berada di angka Rp. 904.000,/gram atau turun Rp. 16.000,/gram dari sebelumnya. Itu artinya, harga jual di pasaran yang belum dimurnikan bisa dapat dijual belikan pada kisaran Rp. 500.000, – 600.000,/gram. Di Yahukimo harga pergram buruh kasar (burkas) pada tanggal 3 Juni 2020 dijual belikan Rp. 570.000. Secara resmi di bursa komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar amerika..

Perkembangan persaingan ekonomi global yang kian pesat, dapat mempengaruhi dampak negative terhadap kestabilan perekonomian masyarakat asli Papua maupun non Papua. Hal itu kemudian menyebabkan membludak masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia masuk secara liar ke area lokasi tambang emas di Wilayah Suku UKAM.

Berbagai upaya untuk mengatasi mobilisasi masa dan logistic secara Ilegal ke lokasi tambang sudah dilakukan, dari sita barang dan hentikan penerbangan helicopter di bandara, di jalan utama menuju lokasi tambang, akses lewat sungai ke lokasi tambang, ketemu muka dengan muka (face to face) di rumah penambang, hingga demo besar-besaran oleh masyarakat Suku UKAM di Kantor DPRD Kabupaten Yahukimo pada tanggal 20 Agustus 2020, dan DPRD bentuk Pansus dan hasil kerja merekomendasikan 3 poin dan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo melalui Sidang Paripurna pada tanggal 12 Desember 2018. Tapi upaya masyarakat itu sia-sia belaka, karena Pemerintah Daerah Kabupaten Yahukimo tidak menindaklanjuti 3 (tiga)  rekomendasi Pansus DPRD,  yaitu

  • Membatasi mobilisasi logistik dan masa ke lokasi tambang emas;
  • Membangun posko sepanjang jalan masuk ke lokasi tambang di 3 tempat;
  • Pemda mengurus administrasi untuk menetapkan area tambang sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
  • Kini, ekosistem di area tambang sudah rusak. Harapan hidup masyarakat bebrapa tahun mendatang yang bermukim di area tambang perlahan hilang. Sumber daya alamnya diambil secara liar, tapi kebutuhan masyarakat tidak dipenuhi dan manusianya tidak dibangun. Semoga saja ada upaya tindak lanjut dari Pemerintah

 

Referensi:

  1. https://amp.kompas.comm/money/read/harga-emas-antam-turun- rp-16000-berikut-daftar-lengkapnya. Diaskes 3 Juni
  2. -. Profil Wilayah Provinsi Papua Barat , dalam www.rtrwpapuabarat.info%2Ffakta%2Fpdf%2Fasp-fisik.pdf , diunduh 19 November 2015 pm.
  3. Widijono, B.S. dan B Setyanta. 2009. Medan Gaya Berat pada Batuan Ofiolit (Ultramafik) di Beoga Papua dan Implikasi terhadap Genesis Alih Tempatnya, dalam http://www.jurnal.pdii.lipi.go.id, diunduh 19 Juni
  4. Sidarto dan U. Hartono, 1995, Peta Geologi Lembar Jayawijaya-3411, Skala 1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
  5. P. E.C. J, TRAILS.D. S, DOW. D.B, RATMAN. N DAN SUKAMTO. R (1983). membahas tentang Stratigrafi Irian jaya.

Penulis adalah Alumni Teknik Geologi, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG).