Home Artikel/Opini Petani Papua Dalam Pandangan Marhaenisme

Petani Papua Dalam Pandangan Marhaenisme

134

Oleh: Ferdinandus Feri Urpon

Pengantar

Dunia semakin berubah dan hal yang tidak terpikirkan oleh manusia sebelumnya akhirnya muncul pada peradaban yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda pula membuahkan hasil yang luar biasa. Buah-buah pikiran manusia yang cukup menggelengkan kepala pun bermunculan pada peradaban yang  sekarang sudah lazim dikenal dengan sebutan zaman modern atau zaman globalisasi. Hal ini juga menyebabkan masyarakat yang sebelumnya memiliki pekerjaan yang monoton, akhirnya beralih pada pekerjaan yang bersifat heterogen karena adanya spesialisasi pekerjaan yang cukup signifikan dengan pendapatan yang cukup memuaskan. Semua itu berkat adanya perkembangan zaman (modernisasi), namun ada juga dampak negatif dari perkembangan zaman. Tetapi point yang ditekankan di sini bukan mengenai  modernisasi sehingga pembahasan mengenai modernisasi cukup sampai di sini. Hal yang ingin dibahas di sini adalah mengenai  “petani Papua dalam pandangan marhaenisme” seperti pada judul di atas. Tanpa basah-basi mari kita bahas kata demi kata pada judul di atas.

 

Gambaran Umum Petani Papua dalam pandangan marhaenisme.

Ada beberapa hal yang akan dikupas dalam pembahasan ini, yaitu pertama; tentang  petani. Kata petani bukan sesuatu yang tak asing lagi dikenal secara nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, karena ada petani maka ada pangan. Itulah sederhananya.  Jika kita mengucapkan kata petani, dengan sendirinya terlintas di benak kita bahwa pekerjaan itu (petani) merupakan suatu pekerjaan yang berkaitan dengan tiga elemen penting yaitu tanah, air, bahkan udara yang menghidupi pekerjaan para petani. Karena pekerjaannya yang dianggap sederhana oleh kebanyakan orang, maka mereka beralih ke pekerjaan lain yang katanya bisa menaikan derajat status sosialnya (manusia). Namun jika kita melihat kilas balik perjuangan bangsa Indonesia, maka kita akan menemukan perjuangan para petani  bersama Presiden Soekarno yang pada saat itu para petani mendapat julukan para marhaenis, yang kemudian julukan itu berubah menjadi sebuah ideologi yang disebut marhaenisme. Mengenai marhaenisme sendiri akan dikupas pada pembahasan berikutnya. Kembali pada kata petani. Seperti yang sudah disinggung bahwa sederhananya ada petani, maka ada pangan. Sehingga jasa-jasa para petani pun harus dihormati.  Kedua ; kata Papua. Papua merupakan sebuah pulau dengan manusianya yang  lazim dikenal dengan sebutan melanesia. Sebenarnya melanesia merupakan sebuah ras yang melekat pada diri orang Papua, yang kemudian menjadi identitas dirinya (orang Papua). Papua merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam teritorial Indonesia yang masih dalam perkembangan menuju kesempurnaan, baik dalam bidang perekonomian, pembangunan infrastruktur, maupun pembangunan manusia. Jika kita menyinggung pembangunan manusia, maka mari kita lihat pembangunan manusia Papua dalam bidang pertanian. Jika dilihat secara skala kecil, maka kita akan mendapati petani Papua secara lokal. Seperti yang sudah disinggung pada bagian pertama bahwa petani adalah sebuah pekerjaan yang berkaitan dengan tiga elemen, yaitu tanah, air, dan bahkan udara yang bisa menghidupi  apa yang ditanam oleh petani (pekerjaan perani). Seandainya kita mendapati orang Papua atau bahkan diri kita sendiri sebagai  orang Papua berprofesi  petani, bukan berarti kita harus minder karena derajat status sosial kita rendah. Yang menganggap rendah adalah pemikiran orang terhadap pekerjaan tersebut (petani). Tetapi jika kita berpikir logis (luas/masuk akal), maka sebenarnya petani adalah sebuah pekerjaan yang menjadi sumber penghasil pangan terbesar bagi manusia, sehinggah kita perlu mengapresiasi hal itu. Yang ketiga; pandangan marhaenisme. Seperti yang sudah disinggung pada bagian pertama bahwa, marhaenisme adalah sebuah ideologi yang pertama kali dicetus oleh Bung Karno. “Jika kita menelusuri  latar belakang ideologi marhaenisme, maka kita akan mendapati Bung Karno yang pada saat itu melihat seorang  petani miskin yang menderita. Kondisi  petani yang memprihatinkan menginspirasi Bung Karno sehingga mengadopsi pikiran Karl marx tentang kaum proletar dan kemudian melahirkan ideologi yang dikenal dengan sebutan Marhaenisme” .  Dalam perjuangannya Bung karno melibatkan kaum marhaenis (orang terlantar seperti petani) untuk berjuang bersama  dan menyeruhkan tentang marhaenisme setiap kali Ia (bung karno) berpidato. Berdasarkan kilas balik sejarah ini kita mengetahui bahwa para marhaenis merupakan sekelompok tokoh dalam perjuangan bangsa Indonesia yang hampir dilupakan. Sekarang kita tahu bahwa sebenarnnya profesi yang dianggap memiliki status sosial rendah oleh kebanyakan orang ternyata merupakan pejuang sejati yang pernah berjuang di bawah pimpinan presiden pertama, yaitu Bung Karno sendiri.

Kaitan antara petani Papua dan pandangan marhaenisme

Alasan mengapa petani Papua dikaitkan dengan pandangan marhaen (isme) adalah agar para petani Papua mempunyai pikiran-pikiran  radikal yang bersumber dari paham marhaenisme. Radikal sendiri makna sejatinya adalah ‘akar’. Artinya  para petani Papua harus memiliki pikiran-pikiran yang berakar dari pandangan marhaen (isme). Semuanya itu (mempunyai pikiran marhaen)  bukan dengan sebuah tujuan untuk merugikan satu pihak, namun memiliki pikiran-pikiran tersebut sebagai sebuah motivasi, inspirasi, sekaligus fondasi dalam berkarya di tanah Papua tercinta. Apalagi manusia Papua yang hidup dan diberi makan dari tanah, maka tidak ada salahnya para petani mempunyai sebuah pemikiran yang sumber atau asal usulnya jelas, yakni melalui pandangan marhaenisme. Dengan begitu para petani Papua dapat  membangun sesama dengan cara memberi makan sesama manusia Papua melalui karya-karyanya dibidang agraria. Karena pandangan ini (marhaenisme) dilahirkan oleh Presiden Soekarno yang adalah orang Jawa, bukan berarti pandangan ini hanya berlaku di dataran Jawa saja tetapi  boleh diadopsi secara nasional. Artinya semua dataran di mana pun di seluruh Indonesia yang berprofesi sebagai petani mempunyai hak untuk menggunakan pikiran ini, bisa sebagai motivasi atau inspirasi dalam berkarya. Bahkan tidak sebatas profesi petani saja yang dapat menggunakannya, namun dikalangan mana pun dapat menggunakannya asalkan demi suatu tujuan yang mulia, karena pada dasarnya pikiran ini muncul oleh karena sebuah inspirasi demi tujuan yang mulia pula.

Pesan singkat dari penulis bagi petani Papua

Tetap berkarya bukan karena pandangan orang tentang petani adalah profesi yang derajat sosialnya rendah, melainkan demi sebuah tujuan yang mulia yaitu utuk memberi makan sesama saudara se-tanah Papua. Tuhan memberkati karya petani petani Papua.

Referensi 

Diakses dari: Hmjpsundiksha.blogspot.com, ideologi marhaenisme dan perkembangannya (29 Mei 2020)

 

*Penulis adalah Mahasiswa Pegunungan Bintang Kursus di IALF  Bali