Home Artikel/Opini Perspektif Pendidikan di Papua Dari Pandangan Negara Indonesia

Perspektif Pendidikan di Papua Dari Pandangan Negara Indonesia

102

Oleh: Efendi Minai

Kehadiran pendidikan di Papua dengan tujuan, manusia memanusiakan Manusia dan mengenali teknologi-teknologi yang semakin hari semakin canggih di era global yang kian hari berevolusi sesuai perkembangan zaman di dunia nyata. Untuk itu, kita diajarkan atau diajak untuk mengenal pendidikan. Bicara pendidikan maka bicara sumber daya manusia (SDM) untuk memperbaharui dari tidaktauan menjadi tahu.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya. Dengan itu, negara dituntut masyarakat Papua untuk mengenal pendidikan kota hingga pelosok-pelosok.

Pemahaman Ki Hajar Dewantara, tidak berprasangka sepihak dalam sebangsa dan setanah air, dia memahami pentingnya pendidikan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa; sehingga, dengan harapan, masyarakat Indonesia khususnya Papua perlu mengenali pendidikan sejak usia dini, Karena suatu negara terlihat makmur dan sejahtera mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik dan mendapatkan metode yang baik dari guru yang baik.

Penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantara, yang menjadikan logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, “Tut Wuri Handayani” adalah semboyang dalam melaksanakan sistem pendidikanya, Sehingga karya abadi bagi seorang guru adalah dedikasinya yang mewujudkan pendidikan yang bermakmur, mensejaterakan, dan mencerdaskan bagi mereka yang merindukan mendapat pendidikan yang layak. Untuk itu, hadirnya pendidikan di tanah papua.

Karena itu, pendidikan adalah karakter suatu bangsa. Semakin baik pendidikan suatu negara, semakin baik pula moral, ekonomi, kesehatan, dan budaya tersebut. Dimaksud pendidikan yang baik adalah luasan pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. selain itu, pentingnya pendidikan untuk mengatasi penalaran moral, emosional sosial, diskriminasi, pencegahan kekerasan  dan resolusi konflik. Oleh sebab itu, semua individu menciptakan kesempatan belajar di suatu lingkungan   tidak selalu mulai dari guru, tetapi setiap individu berhak menciptakannya.

Dedikasi Guru di Papua

Dedikasi guru atau dosen sangat membutuhkan bagi anak-anak penerus bangsa untuk memegang tongkat estapet dalam Revolusi di Papua, karena pemahaman, kedewasaan, kemakmuran, tidak selalu bertahan pada satu posisi tetapi selalui berevolusi sesuai perkembangan zaman. Sehingga aset dan kebutuhan masa depan adalah anak-anak Papua yang merubah papua baru. Oleh karena itu, peran penting bagi guru adalah memegang tongkat estapet untuk massa depan Papua yang baru.

Pelayanag pendidikan di Papua tidak seperti yang kita indahkan pulau Papua, tetapi pelayanan pendidikan di Papua ibaratkan seperti “gelombang air laut naik turun” artinya naik gunung turun gunung dan melewati rawa untuk mengabdi. Sehingga disitulah  peran negara untuk kontribusi sarana dan prasarana bagi guru. selama ini guru yang mengabdi dengan hati, tidak perna merasa lela dan tidak perna membandingkan segala  kekurangan tetapi sebagai guru terus berjuang demi untuk masa depan bangsa dan negara. Oleh sebab itu, jika Papua benar-benar termasuk dalam negara yang kita cintai (Negara Indonesia ) maka melihatlah Papua  jangan dengan kaca mata politik tetapi lihatlah kecamata pendidikan.

Pendidikan di Papua dianggap terbelakang, tertinggal, tidak mampu beradaptasi dengan anak-anak luar Papua adalah perasaan dan tindakan yang menghilangkan harapan Ki Hajar Dewantara, karena Ki Hajar Dewantara tidak memikirkan itu, dia hanya memiliki harapan besar untuk pradigma manusia melalui pendidikan disaat menjajah oleh pemerintah Belanda. Oleh sebab itu, dalam negara perspektifnya diskriminasi, rasis jika masih terpelihara maka pendidikan di Papua tetap dianggap terbelakang.

Fasilitas Pendidikan di Papua

Bicara pendidikan tentu membutukan sarana dan fasilitas pendidikan yang memadai, dan juga bicara tentang berkualitas pelajar atau mahasiswa di lihat dari kualitas sekolah atau kampus dan juga tenaga pengajar yang memadai. Karena pendidikan dapat memberikan kesempatan bagi seseorang dalam menggapai cita-cita untuk kesuksesan dalam instansi pemerintahan maupun instansi aspek lainya.

Jalan menuju kesuksesan tidak lepas dari peran guru dan peran pemerintah. Sehingga  mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas semua yang dibutuhkan di pendidikan harus memadai. Dengan demikian, fasilitas seperti sarana lab praktek di bidang eksata sangat membutuhkan oleh anak-anak yang ingin mendapatkan pengetahuan secara langsung dilapangan.

Mengapa pentingnya peralatan atau sarana seperti lab biologi, fisika, kimia, komputer dan bidang lainya? Jawabannya, tentu beda jauh ketika mengkaji atau analisa suatu persoalan secara ilmiah dengan anak-anak yang belajar diluar Papua yang fasilitasnya memadai. Oleh sebab itu, jangan heran jika anak-anak Papua bicaranya lebih linca dibanding anak-anak luar Papua karena diajarkan seperti itu.

Pembangunan pendidikan di Papua tidak sesuai dengan jumlah kapasitas peserta didik yang tersedia, sehingga  ruang-ruang perpustakaan, lab praktek tidak menjamin untuk mendapatkan pengetahuan secara berilmu dengan matan. Dan itulah realita di dunia pendidikan di Papua.

Pengalaman saya didunia pendidikan, saya curhat sedikit tentang nasib pendidikan di Papua yang saya dapatkan. Saya memang anak kampung yang tidak pernah mimpi untuk bersekolah tetapi  dengan isu pendidikan saya pun terjun di dunia pendidikan. Semenjak saya di pendidikan dasar (SD) hingga pendidikan menenga (SMA) namanya praktek dilab-lab sangat buta, tetapi ketika saya melanjutkan ke jenjang pendidikan tingkat kuliah, hal baru bagi saya namanya lab adalah ruang praktek. Sehingga itu tandanya, di Papua belum mengenal pendidikan seratus persen.

Saya yang sekolah tingkat SMP dan SMA di kota saja, nasib seperti ini apa lagi kampung-kampung yang terpencil seperti pegunungan Papua yang pelosok-pelosok. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan arti “Tut Wuri Handayani” jangan melihat pendidikan Papua dari kaca mata politik  melainkan pendekatan pendidikan yang lebih utamakan.

Orang papua bagian dari aset negara, berhak berkontribusi dalam aspek apa saja, orang Papua bukan warisan ketinggalan dan terbelakang terus. Orang papua menempu pendidikan bukan menjadi pemberontak terhadap negara tetapi kami juga punya kontribusi terbesar untuk negara.  Sehingga negara memberikan kesempatan melalui pendekatan-pendekatan pendidikan, bukan dengan pendekatan militer dan pendekatan perdagangan di papua yang setiap saat dikontrol oleh pihak keamanan negar. Oleh karena itu, kami butuh pendekatan pendidikan di Papua bukan dengan pendekatan-pendekatan  yang orang papua tertinggal dan terus terbelakang. Papua Butuh Pendidikan!

Penulis adalah Mahasiswa Sedang Menempu pendidikan di Uncen

Referensi:

https://kompasiana.com/amp/Zuwarno sarana dan fasilitas pendidikan papua.

https://suarapapua.com/2016/05/16/pokok permasalahan masa kini dipapua.

https:// maxmanroe,com/vid/uumum/pengertian pendidikan.