Home Artikel/Opini Persatuan Melahirkan Kemerdekaan

Persatuan Melahirkan Kemerdekaan

222

Oleh: MartinusTarimanik⁕

 

Pengantar

Akhir-akhir ini terjadi banyak tindakan kekerasan yang terjadi dalam masyarakat, kekerasan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap masyarakat lemah. Kekerasan yang sering terjadi di atas tanah ini merupakan tanda sekaligus ancaman keras dalam ketahanan nasional bangsa Indonesia. Ada oknum-oknum tertentu yang terus ‘bermain’ demi kepentingannya. Dengan demikian masalah-masalah biasa dan kecil dijadikan sebagai masalah yang besar. Gambar di bawah ini adalah salah satu bukti tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak militer terhadap masyarakat sipil.

Mengamati gambar di atas, ini menunjukan sebuah bukti kekerasan di negeri kita. Kekerasan yang tak berujung, membuat orang akan terus bertanya dimanakah hak mereka dan apa arti “BhinekaTunggal Ika”, dasar ideology Negara Republik Indonesia? Dimanakah arti sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab? Artikel ini dibuat karena keprihatinan atas kekerasan yang terjadi dalam masyarakat, sebuah refleksi dan panggilan untuk menyadarkan kita kembali akan arti Bhineka Tunggal Ika yang merupakan ideology Negara KesatuanRepublik Indonesia.

Persatuan adalah hadiah yang diberikan Pencipta kepada bangsa ini, persatuan adalah merupakan nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Nilai luhur yang diperjuangkan selama beratus-ratus tahun lamanya sebagai bukti dari kemerdekaan bangsa ini. Tindakan kekerasan terhadap warga masyarakat Indonesia menjadi tanda yang menyatakan bahwa nilai persatuan telah pudar dalam diri sesama warga negara, pudar dalam diri bangsa Indonesia. Kemajemukan yang adalah kekayaan dalam membentuk kehidupan sebagai sebuah bangsa, kemajemukan yang adalah sumbangan berharga bagi pembangunan bangsa Indonesia, malah diporak-porandakan oleh pemerintah Indonesia.

Arti kata Persatuan Indonesa

Kata persatuan ada dalam sila ketiga Pancasila yang adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pesatuan adalah kekuatan, nilai yang dijunjung tinggi oleh para pendiri dan pejuang bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan[1].

Hari raya kemerdekaan Indonesia, yang selalu kita peringati adalah hari bersejarah, hari di mana dinyatakan, diumumkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan dunia. Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta Jalan Pegangsaan Timur oleh Presiden pertama Republik Indoensia Ir. Suekarno adalah merupakan spirit bersama sebagai bangsa Indonesia untuk terus bahu-membahu mengangkat martabat bangsa dan memupuk nasionalisme di seluruh bangsa Indonesia. Tanpa ada perbedaan antara suku, agama, ras, maupun golongan[2].

Dalam ilmu politik pembahasan mengenai nasionalisme tentu tidak terlepas dari kata Nation itu sendiri. Ernes Renan dalam tulisanya yang amat terkenal “What is Nation”? mengatakan bahwa “Nationadalah jiwa dan prinsip spirit merupakan sebuah ikatan bersama.

Kebangsaan Sebagai Per-Sate-An

Per-sate-an adalah kata yang berlawanan dengan kata persatuan yang adalah kata kunci dalam sila ketiga “Pancasila”. Persatuan merupakan nilai luhur bagi bangsa Indonesia, kekuatan dalam perjuangan selama beratus-ratus tahun lamanya untuk merdeka. Bahkan persatuan terus menjadi nilai yang dipertahankan, dipelihara dalam zaman kemerdekaan ini. Sebab persatuan itu telah pudar dalam diri bangsa Indonesia, buktinya terlihat banyaknya tindakan kekerasan yang terus mewarnai sejarah bangsa ini.

Kekerasan tampak dalam mengabaikan dan menghancurkan kemajemukan yang merupakan nilai luhur bagi bangsa Indonesia. Oleh para pemimpin bangsa, para pelindung bangsa, para elit bangsa justru diporak-porandakan, dianggap sebagai tantangan atau halangan yang segera mungkin harus diberantas bahkan dengan kekerasan.

Oleh karena itu istilah ini dipakai juga kepada para penguasa yang bertindak secara tidak adil terhadap masyarakat. Selain itu istilah ini juga muncul sebagai satu kritik terhadap persatuan dan kesatuan yang diabaikan selama ini.

Dalam situasi kekerasan yang sedang terjadi, Pancasila yang adalah dasar Negara tidak memberi makna kedamaian. Bahkan sebaliknya digunakan sekedar sebuah semboyan bagi para penguasa untuk menindas masyarakat yang lemah. Pancasila adalah dasar dan ideology Negara, tetapi dalam praktek tindakan-tindakan sama sekali untuk membenarkan hal ini[3]. Persatuan dan kesatuan yang adalah bukti kemerdekaan sejati, digunakan sebagai tameng untuk menindas harkat dan martabat sebagai manusia dan masyarakat.

Demikian halnya “Bhineka Tungal Ika” yang artinya ”Berbeda-beda tetapi satu” tidak mendapat makna dalam keseharian sebab perbedaan yang adalah kekayaan bangsa menjadi kekuatan untuk memecah belah bangsa. Perbedaan akhirnya menjadi tantangan, hambatan dalam membangun persatuan Indonesia.

Makna kemerdekaan bangsa Indonesia selama 74 tahun menjadi sebuah waktu yang pantas disyukuri juga sebuah rentang waktu yang mempertanyakan banyak hal antara lain nilai persatuan sebagai sebuah bangsa. Persatuan yang dirasakan dan dipelihara dan dirundukan oleh setiap warga negara. Kita tidak menyangkal bahwa dalam periode kepemimpinan bangsa ini, pemerintah dan pemimpin yang dengan tangan besi menindas masyarakat. Masyarakat yang berusaha untuk memperjuangkan keadilan, malah ditangkap, dihukam, bahkan dibunuh. Hak dan kewajiban masyarakat dihapus sehingga masyarakat tidak bebas dan mengalami damai dalam membentuk kehidupan mereka. Masyarakat diperlakukan ibarat daging sapi atau daging kambing yang disatekan.

Pandangan Gereja Katolik[4]

Salah satu Dokumen Dogmatis, Konsili Vatikan II mengatakan “Injil terus membangkitkan dalam hati setiap manusia akan tuntutan-tuntutan martabat manusia yang tak dapat didiamkan” (GS 26). Kesadaran akan martabat ini merupakan tuntunan Roh yang menjiwai, menyucikan dan meneguhkan keinginan-keinginan luhur umat manusia supaya membuat hidupnya lebih berperikemanusiaan.

Kepada setiap orang Gereja mewartakan Allah yang menyelamatkan umat-Nya, keselamatan itu terjadi dalam KristusYesus. Yesus Sang Penyelamat umat manusia adalah Allah yang telah menjadi manusia dan dengan hidup-Nya Ia memberi makna sesungguhnya tentang “siapa manusia itu? Selanjutnya perjuangan harkat dan martabat manusia adalah karya yang luhur yang terus diperjuangkan Gereja sepanjang sejarah (GS 40). Oleh karena Gereja dan para penganutnya mengakui bahwa sikap hormat, menghargai, mencintai, memelihara martabat manusia dan sikap solidaritas dalam hidup sebagai sebuah bangsa adalah nilai-nilai utama dalam tradisi Kristen.

Nilai-nilai dasar yang menghormati harkat dan martabat manusia, seperti penghargaan terhadap daya cipta manusia, kesamaan setiap orang di hadapan Allah dan perhatian untuk kepentingan bersama, sering dipakai baik sebagai tolak ukur moral, maupun untuk keputusan-keputusan pribadi. Oleh karena itu dalam kehidupan berbangsa “kemerdekaan, kesamaan dan persaudaraan” adalah kesepakatan dasar dalam menata hidup bersama dalam sebuah negara. Pandangan dan nilai luhur dalam iman Kristen telah menjadi terang yang menerangi, menjernihkan dan mendukung pelaksanaan nilai-nilai dasar itu dalam kehidupan berbangsa.

Paham Kesejahteraan

Kesejahteraan adalah hak setiap manusia. Sebagai warga negara Indoesia kesejahteraan adalah hak yang diperolehkan bangsanya. Kesejahteraan jika dirumuskan secara negative bangsa Indonesia harus bebas dari rasa lapar, dari kemiskinan, kecemasan, bebas dari rasa ketertindasan. Sejahtera karena masyarakat merasakan kedamaian, kesatuan dalam perbedaan, bukan sebaliknya bagai daging sapi yang dijadikan sate. Sejahtera dalam arti positif adalah bangsa Indonesia merasa aman, tentram, damai, selamat, sesuai dengan apa yang menjadi tujuan sekaligus cita-cita bangsa.

Persatuan, kesejahteraan adalah hak sekaligus nilai yang diperjuangkan oleh sebuah bangsa. Nilai luhur yang diperjuangkan oleh para pemimpin bangsa dan dihidupi oleh warga negara. Artinya persatuan dan kesejahteraan adalah nilai dan cita cita yang mengusik hati anak-anak bangsa dan para pemimpin jika kekerasan terus merambat dalam hidup masyarakat. Ketika suara masyarakat kecil meneriakan perdamaian, keadilan, hak dan martabat sebagai manusia. Tulisan ini adalah bentuk keprihatianan dan solider akan kenyataan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar negara tidak berbuah, tidak tampak dalam hidup bangsa.

Tidak ada kata akhir dan sikap dingin dalam menghadapi kenyataan masyarakat. Semua warga negara dipanggil pulang, masuk dalam kesadaran pribadi untuk membangun kembali tanggungjawab yang disalahgunakan dalam keseharian dan membangun rasa persatuan, cinta damai yang adalah nilai-nilai luhur sebagai bangsa.

Keterangan Catatan Kaki:

[1] Nanang Gunadi, Pendidikan pancasila dan Kewarganegaraan, Lubukagung, Bandung, 2001. hal. 4

[2] Ibid hal.59

[3] Frans Magnis- Suseno, Kuasa dan Moral,Gramedia Jakarta 1995, hal. 35

[4] Tomas P. Rausch, Katolisisme, Yokyakarta, Knisius, 2001, hal.248

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana STFT “FajarTimur” Jayapura-Papua.