Home Artikel/Opini Perjuangan Arnold Clemens Ap dan Nasionalismenya

Perjuangan Arnold Clemens Ap dan Nasionalismenya

142

Oleh: Uropmabin Vincent

Arnold Clemens Ap dan Nasionalismenya
Arnold Clemens Ap adalah budayawan Papua yang mengangat harkat, martabat dan jati diri manusia Papua melalui karya-karya seni musik khas Melanesia Papua. Putra terbaik Papua yang lahir di Pulau Numfor Biak pada tanggal 1 Juli 1945 ini berjuang melawan kapitalisme global dan kolonialisme Pemerintah Indonesia pada era orde baru melalui seni musik guna mempertahankan harkat dan jati diri orang Asli papua (OAP) di atas tanah leluhurnya Bumi Cenderawasih. Pada waktu itu masyarakat Indonesia pada umumnya menghadapi kehidupan yang sangat keras di bawah pemerintahan orde baru yang diktator. Dengan kediktatoran Presiden Soeharto leluasa melakukan kerja sama dengan pihak asing untuk berinvsetasi di seluruh Indonesia. Kerja sama yang dilakukan Presiden Soeharto dengan investor asing melahirkan beberapa perusahaan besar di Tanah Papua, yaitu PT. Freeport Indonesia di Timika, Perusahaan minyak dan gas British Petroleum (BP) di Sorong. Selain itu perusahaan kepala sawit di Keerom, Jayapura, Nabire dan Merauke.
Untuk memuluskan kepentingan bisnis tersebut telah mengorbabkan ribuan nyawa manusia Papua, perebutan hutan masyarakat adat, pencurian kekayaan alam secara besar-besaran. Dengan melihat situasi dan kondisi tersebut Arnold Clemens Ap mengkritisi dan melakukan perlawanan terhadap kapitalisme global dan kolonialisme pemerintah Indonesia melalui musik. Perlawanan Arnold Clemens Ap berhasil membangun kesadaran nasionalisme Papua. Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat atau suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan bersama terhadap bangsa itu sendiri. Dengan semangat nasionalismenya, Arnold Clemens Ap menyatakan sebuah kalimat fenomenal, yaitu “bernyanyi untuk hidup”. Artinya bernyanyi untuk kehidupan yang lebih baik dari sekarang, kehidupan yang bebas dari kolonialisme dan kapitalisme global.
Arnold Clemens Ap berjuang bersama teman-temannya dengan membentuk group MAMBESAK pada tahun 1987 di kampus Universitas Cendrawasih. Nama Mambesak diambil dari bahasa Biak yang artinya burung suci (Burung Cenderawasih). Melalui group ini mereka menciptakan lagu-lagu terbaik dalam bahasa suku-suku di Papua dari pesisir sampai pegunungan. Perjuangan nasionalisme Papua tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperoleh melalui aksi demonstrasi atau peperangaan. Tetapi kemederkaan sejati bisa diperoleh melalui non kekerasan seperti yang dilakukan Mahatma Gandhi di India dan Nelson Mandela di Afrika Selatan. Perjuangan dengan konsep non kekerasan pernah dilakukan oleh orang-orang kulit hitam pada beberapa puluh atau ratusan tahun silam di seluruh dunia. Perjuangan dengan cara non kekerasan untuk membebaskan rakyatnya dari penindasan, pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian dan perampasan tanah milik rakyat untuk kepentingan negara bukanlah hal baru. Seperti yang dilakukan musisi hebat dunia Bob Marley dan Lucky Dube. Namun kemudian mereka dibunuh karena dianggap mengganggu kepentingan pihak tertentu.
Hal serupa dilakukan Arnold Clemens Ap membangun nasionalisme Papua melalui lagu-lagu dan budaya Papua. Ia berhasil menyadarkan masyarakat Papua bahwa pendudukan Indonesia di atas tanah Papua adalah ilegal. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa proses integrasi dilakukan dengan penuh manipulatif dan tidak manusiawi, melanggar perjanjian New York Agreement tanggal 15 agustus 1962 yang mestinya dilaksanakan menggunakan cara one man one vote tetapi dimanipulasi oleh kolonial Indonesia. Oleh karena itu Arnold Clemens Ap selaku bapak pemersatu bangsa Papua melawan Pemerintahan Soeharto yang otoriternya sama seperti Adolf Hitler di Jerman. Perjuangan nasionalisme Papua oleh Arnold Clemens Ap bersama teman-temannya dalam Group Mambesak tersebut akan selalu dikenang selamaya oleh bangsa Papua. Selain musik yang abadi, alat-alat tradisional Papua yang dikumpulkan oleh Arnold Clemens Ap di Museum Universitas Cenderawasih akan senantiasa dikenang dan digunakan untuk mempelajari kebudayaan Papua.
Jiwa Arnold Clemens Ap di Universitas Cenderawasih
Universitas Cenderawasih diresmikan oleh kepala pemerintahan perwakilan UNTEA pada tanggal 10 November tahun 1962 di Kota Hollandia Binen (Abepura). Pada saat itu Papua belum dianeksasi ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Arnold Clemens Ap termasuk salah mahasiswa pertama yang dedikasinya sangat besar terhadap kampus UNCEN. Jiwa nasionisme yang diwariskan Arnold Clemens Ap begitu mengental di setiap generasi Papua yang mengeyam pendidikan di kampus Universitas Cenderawasih. Dari UNCEN orang Papua belajar dan mempersiapkan diri untuk berdiri di atas kakai sendiri. Oleh karena itu mahasiswa Universitas Cenderawasih tak henti-hentinya melakukan pemalangan dan demonstrasi untuk menyikapi persoalan Papua yang tidak manusiawi sebagaimana yang diajarkan Arnold Clemens Ap selaku Bapak budaya bangsa Papua melalui perjuangan non kekerasan.
Nasionalisme Arnold Clemens Ap yang diwariskan kepada generasi muda Papua akan terus ada sepanjang perjuangan bangsa Papua. Nasionalisme tersebut sudah mendarah daging dari generasi ke generasi. Khususnya mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di kampus Universitas Cenderawasih benar-benar menyadari perannya sebagai agen perubahan (agent of change) bagi bangsa Papua sehingga selalu ada di garis depan untuk memperjuangkan warisan Arnold Clemens Ap. Ada beberapa kalimat fenomenal dari Arnold Clemens Ap yang membakar semangat perjuangan generasi muda adalah “Mungkin Orang Berpikir Saya Gila, Tetapi Saya Akan Lakukan Apa Yang Pikir Bagi Masyarakat Saya Sebelum Saya Meninggal”. Selain itu kalimat lain yang memperkuat nasionalisme Arnold Clemens Ap adalah sepenggal kalimat dari salah Bapa Peradaban Papua, yaitu Pdt Ishak Samuel Kijne mengatakan “Di atas Batu Ini Saya Meletakkan Peradaban Orang Papua, Sekalipun Orang Memiliki Kepandaian Tinggi, Akal Budi dan Marifat, Tetapi Tidak Dapat Memimpin Bangsa Ini, Tetapi Bangsa Ini Bangkit dan Memimpin Dirinya Sendiri”. Semangat perjuangan diperkuat juga dari lirik lagu Suara Kemiskinan yang dipopulerkan Edo Kondologit: “Kami Tidur Di Atas Emas, Berenang Di Atas Minyak, Tapi Bukan Kami Punya. Kami Hanya Menjual Buah-Buah Pinang”. Beberapa kalimat tersebut di atas sebagai energi perjuangan generasi muda Papua. Kalimat-kalimat tersebut menyadarkan generasi muda Papua bahwa bangsa Papua bukan bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga semangat perjuangan akan terus membara hingga bangsa Papua bangkit memimpin dirinya sendiri.

Penulis Adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG), Tinggal Di Kota Hollandia (Jayapura)