Home Sosial Politik Peringati 75 Tahn Aneksasi Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK Semarang Gelar...

Peringati 75 Tahn Aneksasi Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK Semarang Gelar Diskusi

101

Semarang, Jelata News Papua. Com,- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Semarang menggelar diskus di bukit Padepokan, Jumat (1/5/2020).

Sebelum memulai diskusi bersama, moderator, Bernadetha Agapa, menyatakan bahwa “diskusi tersebut untuk memperingati 57 tahun Integrasi atau Anekasasi West Papua oleh Bangsa Indonesia yang jatuh pada tiap 1 Mei dalam setahun ”Salah satu peserta, Licarda Ogetai, menyampaikanya bahwa “Papua Barat telah merdeka dan berdaulat secara de facto dan de jure pada 1 Desember 1961 sebagai kebangsaan secara konstitusional yang dimenangkan oleh rakyat Papua Barat sendiri” Urainya saat disela-sela diskusi berlangsung.

Namun, tepat pada 19 Desember 1961 lahirlah Tri Komando Rakyat (TRIKORA) dengan tujuan menggagalkan Papua Barat yang masih 19 hari telah merdeka dan lahirnya perjanjian-perjanjian yang di atur sepihak mengenai status Papua Barat.

Ia (Licarda Ogetai) mengakuinya bahwa “perjanjian New York (New York Agreement) yang terjadi pada tanggal 15 Agustus 1962 dan The Secret Memmorandum of roma pada 30 September 1961 serta Joint Statement, pada tanggal 20-21 Mei 1962 adalah perjanjiaan yang hanya dilakukan oleh sepihak tanpa melibatkan perwakilan dari rakyat Papua Barat. Padahal perjanjian itu berkaitan dengan keberlangsungan hidup rakyat Papua Barat sebagai suatu bangsa yang bermartabat. Kesepakatan dalam perundingan itu, memerintahkan Belanda menyerahkan Papua Barat kepada United Nation Temporary Executive Authority (UNTEA) paling lambat pada 1 Oktober 1962. Sesudahnya, UNTEA atas nama PBB diminta menyerahkan Papua Barat ke Indonesia paling lambat pada 1 Mei 1963, urainya mengakhiri pernyataan.

Sementara itu, Felix Magai, menyatakan bahwa Intergrasi  hanya merasakan senasib, penderitaan, komunitas, ikut secara sukarelah dalam suatu bangsa, sehingga bila disimak untuk konteks Papua saat ini adalah Aneksasi, karena sejak 1 mei 1963 bangsa Indonesia mengintegrasikan bangsa Papua secara paksa ke dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Artinya bahwa saat adanya perjanjiaan antara Indonesia, Amerika, dan Belanda yang ditengahi oleh PBB untuk menyelesaikan persoalan Papua melalui badan UNTEA pada waktu itu, mereka tidak meibatkan orang Papua di dalamnya.

Bagi saya bahwa Indonesia menganeksasikan West Papua (Papua Barat) ke dalam pangkuan NKRI hanya kepentingan Ekonomi-Politik dan bukan untuk memberdayakan orang asli Papua. Karena kenyataannya hingga kini, Bangsa Indonesia sudah menunjukkan sikap dan praktiknya yang paling bobrok terhadap bangsa Papua, yakni pendekatan Militerisme, kemudian Indonesia menjadi alat masuk imprealisme di tanah Papua untuk eksploitasi sumber daya alam (SDM)”, tuturnya.

Lanjutnya, bahwa “Keadaan dari manipulasi sejarah gerakan Rakyat Papua Barat oleh Kolonial Indonesia, masih terus berlangsung hingga kini dengan perlakuan teror, intimidasi, penahanan, diskriminasi, penembakan, dan bahkan pembunuhan terhadap rakyat Papua Barat terus secara subur”.

Dewasa ini, Militer (TNI-Polri) menjadi alat negara Indonesia yang paling ampuh untuk menghalau gejolak perlawanan rakyat Papua yang menghendaki kemerdekaan sepenuhnya dari Indonesia. Ujar Stef disela-sela diskusi. Karena, pada 04 Deseber 2018 kembali meletus operasi militer Indonesia di kabupaten Nduga, Papua hingga kini di tahun 2020, masih terus beroperasi oleh (TNI-Porli) hingga menyebabkan ratusan warga sipil meninggal dunia, karena kurannya gisi serta kurannya penanangan tim medis secara baik dan efisien, sembari ribuan warga sipil yang mengunsi masih terus berlangsung hingga kini.

Pada 28 Januari 2020 warga sipil bernama AL tertembak, kemudian dua orang tewas pada 18 Februari 2020 di Intan Jaya dan Paniai, warga sipil mengalami luka-luka termasuk anak-anak akibat operasi militer, seorang anak JS (8) korban hingga sampai saat ini aparat masih melakukan penyisiran ke pemukiman akibatnya warga sipil di distrik Banti mengungsi ke Timika sebanyak 900 orang.

Selain itu pendropan TNI di Pengunungan Bintang pada tanggal 27-30 maret 2020 terjadi penyisiran rumah warga di distrik Serambakon, Oksob dan Okaom dan melakukan penembakan secara membabi buta. Ditengah ketakutan rakyat terhadap Covid-19 rentetan penembakan dan penyisiran pun masih berlangsung hingga kini oleh TNI/Porli. Ujar Ney peserta diskusi yang lain.

Untuk merebut kembali Hak Menentukan Nasib sendiri, segalah bentuk persoalan semenjak Papua dianeksasikan ke dalam Indonesia itu tidak terlepas dari pada historis sejarah orang Papua yang begitu panjang. Oleh karenanya, banyak konsekuensi yang harus diterima oleh bangsa Papua. Artinya bahwa dari peristiwa aneksasi yang manipulatif itu telah melahirkan banyak persoalan HAM, kehancuran sumber daya alam, pembatasan ruang demokrasi dan masih banyak persoalan lainya.

Hal paling penting yang mestinya kita lakukan dari semuanya itu adalah bahwa  bagimana membanguan satu persaudaraan dengan mengedepankan nasionalisme anti penindasan.  Artinya bahwa seluruh bentuk dan upaya dari semua proses perjuangan orang Papua  harus dibuka secara luas baik di dalam dan luar Papua sejak dini.

Megakhiri seluruh rangkaiaan diskusi ini, Ada beberapa point penting yang disimpulkannya bahwa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Semarang menuntut kepada Rezim Jokowi-Ma’ruf, dan Negara-negara imperialis PBB untuk segera:

  1. Memberikan Kebebasan dan Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi Rakyat West Papua sebagai Solusi Demokratis.
  2. Tarik Militer (TNI-Polri) Organik dan Non-Organik dari Seluruh Tanah Papua Barat.
  3. Tutup perusahaan milik Imperialis, Freeport, BP, LNG Tangguh, MNC, MIFEE, dan yang lainnya, yang merupakan dalang kejahatan kemanusiaan di atas atas tanah Papua.
  4. Dijaminnya Kebebasan Jurnalis Nasional, Internasional dan akses terhadap informasi di Papua Barat.
  5. Bebaskan Tahanan Politik Papua tanpa

Diskusi ini dimulai pada pukul 15.00 WIB – 18.00 WIB tiga jam lamanya. Dengan kuota diskusi yang hadir berjumlah 15 orang. Diskusi dari awal hingga akhir berjalan lancar tampa ada kendalah apapun.

Pewarta: Boas Iyai, Mahasiswa Asal Papua di kota Studi, Semarang