Home Artikel/Opini Perempuan Papua Jangan Aborsi

Perempuan Papua Jangan Aborsi

70

*Oleh: Peipkon Ningmabin

Berbicara tentang Aborsi sebenarnya membicarakan tentang perempuan, dan tidak terlepas dari harga diri dan martabat perempuan di mata publik.  Hal ini dibenarkan karena perempuan dipandang sebagai pelaku tindakan moral bagi seorang bayi lewat aborsi, yang secara nyata terjadi dan ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Aborsi yang dilakukan oleh perempuan sebenarnya beresiko tinggi terhadap kesehatan dan keselamatan jiwanya, namun tetap menjadi pilihan mereka dengan alasan aborsi merupakan hak reproduksi atau hak otonomi perempuan atas tubuhnya. Walaupun sebenarnya hal itu merupakan hak reproduksi atau bentuk otonomi perempuan atas tubuhnya, tindakan aborsi mengandung resiko yang paling tinggi, apabila dilakukan secara tidak sesuai standar profesi dokter.

Bagaimana kita mencintai diri sendiri kalau dari awal melakukan tindakan aborsi? Sudah pasti seorang perempuan tahu bahwa aborsi itu dosa karena membunuh seorang bayi yang tidak berdosa namun tetap saja hal itu menjadi pilihannya.

Ada 3 macam aborsi yang dikenal dalam dunia kedokteran. Pertama, aborsi yang dilakukan dengan spontan disebut “Keguguran”. Aborsi secara spontan adalah tanpa merencanakan, hal ini terjadi karena beberapa hal terkait imun atau psikologis yang tak terhindarkan, maka bisa disebut aborsi spontan yang dapat mengindikasikan adanya hal kritis. Kedua adalah abrosi yang dilakukan dengan sengaja, aborsi ini yang disebut aborsi induksi. Aborsi yang kedua ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain adalah faktor ekonomi, faktor anak banyak, faktor sosial (khusus bagi pranikah). Faktor sosial ini yang sangat marak terjadi pada komunitas masyarakat termasuk gadis-gadis Papua. Dengan pergaulan bebas, dapat mempengharui kehamilan, dan solusi yang diambil adalah aborsi. Proses aborsi ini memiliki resiko dari sisi kesehatan juga dari sisi sikap dan moralitas seorang gadis perempuan atau seorang ibu. Dan yang ketiga aborsi medis. Aborsi yang dilakukan atas prosedur dokter karena hal kesehatan.

Aborsi adalah berakhirnya kehamilan dengan dikeluarkannya seorang bayi sebelum memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di luar Rahim. Dalam pandang keimanan, aborsi adalah pembunuhan manusia yang tidak berdosa. Dan itu resikonya tinggi saat menghadap diakhirat.

Dari sisi perempuan itu sendiri, perempuan adalah salah satu guru utama yang berpengaruh besar dalam keluarga dan regenerasi bangsa dan negara. Sehingga harus dijaga dalam pergaulan sosial dalam komunitas, meningkatkan pembinaan iman dan karakter, budaya, sehingga kita mampu hadirkan perempuan-perempuan yang berkualitas dan produktif untuk kelangsungan hidup suatu entitas, termasuk entitas Melanesia di Papua yang jumlahnya tinggal sedikit.

Sampai hari ini sebagian besar perempuan di Indonesia, dan khususnya Papua yang hamil diluar nikah, akibat pergaulan sosial dan komunitas masyarakat yang tidak sehat. Akibatnya, tanpa harus memikirkan panjang lebar, seorang perempuan mengambil keputusan mengaborsi anaknya, dengan alasan tersendiri seperti yang disebutkan di atas. Satu hal adalah ingin menjaga harga diri pada status sosialnya.

Oleh karena itu, saran kami adalah khusus bagi perempuan-perempuan Papua bahwa saat ini Papua butuh generasi yang banyak, yang cerdas dan jujur. Hindari dari proses aborsi yang dilakukan sengaja, karena resikonya berat bagi diri sendiri, generasi penerus, dan pertanggungjawaban kita terhadap firman Allah”Beranak cucu dan bertambah banyak, penuhi bumi dan taklukan segala isinya” maka jangan lagi ada aborsi. Sayangi diri kita karena diri kita lebih berharga dibanding harta dan benda dan keinginan awan nafsu dunia.

Jika semakin kesini kita bisa lihat sendiri bahwa realitas Papua tidak baik_baik saja, selalu hidup dalam kekerasan, ketidakadilan, bahkan pembunuhan manusia Papua dimana_mana terus menerus terjadi. Orang Papua semakin habis, bagimana kalau kesadaran perempuan Papua belum terjadi dengan kasus aborsi yang dilakukan dengan sengaja? Kita perempuan harus sadar bahwa yang kita lakukan adalah secara tidak langsung terlibat dalam proses genosida manusia Papua.  Kita harus dasar atau kita perempuan Papua ikut terlibat dalam praktek pembunuhan manusia yang tidak berdosa?

Entah kapan tinggal tunggu waktunya saja ras melanesia punah diatas tanah sendiri. Papua hanya bisa tinggal namanya saja seperti suku Aborigin adalah penduduk asli Australia yang dimana jadikan suku ini sebagai tempat wisata diatas tanah nya sendiri.

Saya sebagai perempuan Papua, saya mengajak untuk kita yang tersisa saat ini adalah calon ibu bagi anak_anak generasi Papua yang akan datang, maka jangan mudah  terpengaruh dengan hal_hal yang merugikan buat diri kita dan masa depan Papua. Ketidaksadaran kita bawa sampai saat ini tingkat aborsi di Papua semakin meningkat maka jangan jadikan itu biasa_biasa saja karena nanti jadi terbiasa dan kita akan punah. Kita harus berubah dari sekarang! kalau bukan mulai dari sekarang kapan lagi?

Salah satu cara untuk hindari dari semua ini adalah kembali pada kesadaran setiap perempuan itu sendiri, dan juga kurangi dari pergaulan sosial yang kurang sehat. Perempuan Papua harus punya komitmen yang jelas untuk mempertahankan manusia di atas tanah leluhur kita. Alternatif kedua adalah kuatkan pendidikan keimanan dan pendidikan kehidupan sejak dini dari keluarga. Berikut pemerintah juga harus serius meresponsi setiap peristiwa tidak sehat yang dapat merugikan diri sendiri dan masa depan Papua. ini penting dan harus dilakukan oleh semua pihak, mungkin lembaga adat juga harus turut hadir untuk menyadarkan perempuan-perempuan Papua yang menjadi sumber produksi manusia berkualiats dan produktif bagi masa depan.

Referensi:

Wikipedia. Com, defenisi aborsi.

*Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)