Home Artikel/Opini PERADABAN BANGSA PAPUA BARU 1 ABAD 65 TAHUN

PERADABAN BANGSA PAPUA BARU 1 ABAD 65 TAHUN

230

Oleh:Akmin Kisamlu

Peradaban orang Papua dimulai seiring dengan penyebaran agama modern di wilayah ini. Injil pertama kali masuk di Papua pada tanggal 5 Februari 1855. Sejak saat itulah awal peradaban Orang Papua dimulai. Orang Papua tidak pernah melalui berbagai peradaban ke peradaban seperti orang di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan di wilayah Indonesia lainnya. Banyak orang Indonesia lainnya menganggap Papua ketinggalan zaman namun kita perlu ketahui sejarahnya bahwa Papua baru 1 abad 65 tahun atau 165 tahun semenjak Injil masuk di wilayah Papua tepatnya di Pulau Mansinam, Manokwari Pada tanggal 5 Februari tahun 1855 oleh dua orang Misionaris asal Jerman yang bernama Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki di wilayah Papua untuk pertama kalinya. Sejak saat itulah Orang Papua memulai peradaban baru atau babak baru. Saat itupulah orang Papua keluar dari zaman batu langsung bersentuhan dengan dunia modern. Pekabaran injil di seluruh tanah Papua oleh Missionaris dari berbagai Negara seperti Jerman, Belanda, dan Negara lainnya dimulai dari Manokwari hingga menyebar ke seluruh Papua. Injil disebarluaskan tidak sekaligus tetapi pertahap hingga sampai dengan saat ini. Daerah paling terakhir yang baru mengenal injil adalah di wilayah SUKU UKAM (Suku Una, Kobkaka, Arimtab, Arubkor, Momuna, Mamkot) tepatnya di daerah Langda (tahun 1973), Bomela (tahun 1975), Sutamon (tahun 1978), Awinbon (tahun 1998), Seradala dan ekitarnya (1998) sebagian wilayah Kabupaten Yahukimo dan sebagiannya Kabupaten Pegunungan Bintang. Papua tidak melalui berbagai proses peradaban seperti di daerah lain di Indonesia. Awalnya, orang Papua masih berada pada zaman batu dan tidak pernah disentuh oleh orang dari daerah atau pulau lain. Pada saat itu, antara orang Papua sendiri dari suku yang satu ke suka yang lain belum sama sekali saling kenal.
Jika disandingkan dengan suku bangsa dari pulau lain seperti Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera dan lainnya. Mereka telah mengalami peradaban berabad-abad sebelum Papua sehingga telah merubah kehidupan menjadi lebih baik, bahkan sebelum agama masuk ke wilayah Indonesia, mereka sudah mengenal peradaban. Peradaban agama di Indonesia di mulai dari Aceh. Agama Islam sudah diperkenalkan dan ada di Indonesia sejak abad ke-7 Masehi atau abad pertama Hijriah, namun perkembangan yang lebih masif baru terlihat pada abad 12 dan 16. Adapun pembawa dan penyebar yang paling dominan adalah bangsa Arab, kemudian orang Persia dan India. Penyebaran agama, pertama kali dilakukan di pesisir utara Sumatera (Aceh), karena posisi selat Malaka merupakan jalur perdagangan penting dunia, dan kemudian menyebar ke daerah yang lebih timur dan utara, seperti Jawa (1450), Kalimantan (1580), Maluku (1490), Sulawesi (1600), Sulu (1450) dan Filipina Selatan (1480).
Sejarah Agama Katolik di Indonesia dimulai pada abad ke-14 dan ke-15, sejak saat itu telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah. Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat. Sedangkan perkembangan Agama Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah Barat Papua dan lebih sedikit di Kepulauan Sunda.
Jauh sebelum agam Islam dan Kristen, Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu. Pada abad ke 6 Masehi, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama. Seperti kerajaan Sailendra, Sriwijaya dan Mataram. Kedatangan agama Buddha telah dimulai dengan aktivitas perdagangan yang mulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra antara India dan Indonesia. Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia, mencakup candi Borobudur di Magelang dan patung atau

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa penyebaran agama di Nusantara pertama kali dilakukan di pesisir utara Sumatera (Aceh), karena posisi selat Malaka merupakan jalur perdagangan penting dunia, dan kemudian menyebar ke daerah yang lebih timur dan utara, seperti Jawa (1450), Kalimantan (1580), Maluku (1490), Sulawesi (1600), Sulawesi Utara (1450), Timor (1613) dan di wilayah Papua (1855).
Penyajian sejarah peradaban tersebut hendak mengatakan bahwa Indonesia bukanlah daerah atau wilayah yang baru mengenal dunia modern. Indonesia sudah cukup tua untuk sebuah proses perkembangan. Indonesia terutama Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Indonesia lainnya) sudah berabad-abad mengalami proses peradaban, sehingga dari berbagai aspek telah berkembang dengan baik, termasuk di dalam transfer pengetahuan dan keterampilan dari generasi ke generasi yang sangat panjang. sedangkan Papua mengalami 165 tahun atau 1 abad 65 tahun. Papua dengan hanya 165 tahun ini tentu belum bisa dikatakan atau dianggap ketinggalan zaman. Sekali lagi, Papua tidak melalui abad ke abad atau zaman ke zaman bahkan peradaban ke peradaban untuk menyesuaikan dengan dunia moderen seperti saat ini. Perlu kita mengakui bahwa sesungguhnya orang Papua hebat karena sekalipun hanya 165 tahun namun perkembangan dan kemajuan sangat luar biasa bahkan mampu bersaing dengan orang Indonesia lainnya yang telah mengalami peradaban abad-abad.
Wajah Papua saat itu terutama wilayah Pedalaman (Pegunugan Tengah) merupakan hasil proses perintisan pembangunan manusia yang dilakukan oleh orang Belanda, Jerman dan Amerika melalui Gereja dan Yayasan dan bukan melalui Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia hanya secara aktif menyentuh masyarakat setelah pemberlakukan Otonomi Khusus kurang lebih dimulai tahun 2002. Sejak tahun 1885-1960, masyarakat Papua sudah dikembangkan dari berbagai aspek. Namun setelah Papua diintegrasikan ke dalam NKRI, seluruh proses pengembangan masyarakat tersebut dihentikan kurang 32 tahun. Selama kurang lebih 32 tahun tersebut, pemerintah Pusat hanya mengekploitasi sumber daya alam dan bukan membangun orang Papua. Bertahun tahun orang Belanda dan Jerman berada di daerah pedalaman Papua dan sedang berusaha untuk membangun tetapi orang Indonesia malah beranggapan bahwa orang Papua itu tidak mampu bahkan dianggap ketinggalan. Seharusnya sudah sadar dan mengerti bahwa Papua adalah bagian dari NKRI bukan bagian dari Belanda atau Jerman. Tetapi perspektif masyarakat dari pulau lain yang menganggap orang Papua masih terbelakang dan beberapa peristiwa yang terjadi beberapa tahaun terakhir terhadap orang Papua sungguh sangat tidak manusiawi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa orang Papua butuh waktu dan proses (diberikan ruang dan waktu) untuk merubah pola hidup yang lebih modern dan maju berkembang.
Papua sekalipun hanya 1 abad 65 tahun atau 165 tahun saja tetapi kemajuannya sangat pesat karena banyak orang Papua yang sudah berpendidikan dan mampu bersaing dengan orang lain. Memang benar bahwa orang Papua masih belum maju tetapi sudah dan sedang dalam proses perubahan atau pembangunan jadi jangan sekali kali menganggap orang Papua ketinggalan zaman atau miskin. Bukan hanya Papua saja, Jakarta yang sudah mengalami proses peradaban yang berabad abad namun kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan dan masih banyak orang yang hidup di pinggiran jalan bahkan di bawah jembatan. Rumah- rumah warga Jakarta pun masih tinggal di rumah kumuh yang memang di bawah standar yang layak. Sangat disayangkan melihat orang Jakarta yang masih miskin dan susah.
Sejauh ini, semenjak tahun 2000 sampai dengan saat ini Pemerintah Indonesia sudah, sedang dan akan berupaya untuk melakukan sebuah perubahan di seluruh Tanah Papua, sehingga marilah kita mengesampingkan anggapan ataupun ungkapan sebagian orang terhadap seluruh Papua bahwa sebagian besar wilayah di Papua adalah daerah tertinggal. Kitapun perlu mengapresiasi terhadap Missionaris dari Belanda, Jerman, Amerika Serikat dan Roma yang masih berusahan keras, jatuh bangun membantu Pemerintah Indonesia membangun Papua terutama di wilayah Pedalaman Papua yang berada di daerah pedalaman Papua bertahun-tahun. Betapa hebatnya Missionaris Belanda, Jerman, Amerika Serikat dan Roma ini menerobos masuk ke daerah-daerah pedalaman Papua yang notabenenya sulit dijangkau oleh Pemerintah Indonesia. Bicara pembangunan belajarlah pada orang Belanda ataupun Jerman. Pembanguan di Papua perlu mengadopsi pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh para misionaris yang mampu menkombinasikan dengan baik antara teori dan proses pelaksanaan pembangunan.
Pemerintah harus mengubah stereotip negatif terhadap para misonaris yang berkarya di pedalaman Papua. Setiap ada masalah di Papua, pemerintah Indonesia selalu berpandangan bahwa ada campur tangan pihak lain atau orang asing dan dianggap sebagai sebuah ancaman terhadap NKRI, tetapi itu adalah pandangan yang sangat keliru karena missi mereka (orang Belanda, Jerman, dan Roma) adalah murni misi kemanusiaan dan tidak ada unsur kepentingan Negara mereka ataupun secara individu. Justru yang sebenarnya adalah orang Indonesia sendirilah yang tidak paham secara baik bagaimana membangun masyarakat yang ada di seluruh pedalaman Papua dengan berbagai program pembangunan yang real dan bukan hanya berteori. Itu adalah sifat dasar kita yang tentu tidak berdasar pada missi kemanusiaan tetapi hanya berdasar pada kepentingan Negara sehingga pandangan orang Indonesia terhadap orang asing adalah ancaman. Kenyataannya tidak demikian karena ancaman bagi Orang Papua adalah orang Indonesia lainnya. Menyalahkan pihak lain adalah sesuatu yang keliru, seharusnya kita berkaca dulu sendiri dari berbagai program yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat, apakah setiap program atau kebijakan yang dilakukan itu berpihak pada masyarakat atau tidak, apakah kita paham dan tahu tentang bagaimmana melayani dan membangun masyarakat di pedalaman Papua. Sejauh ini saya pikir pemerintah hanya berteori, berdiskusi panjang lebar, berencana, tetapi dalam pelaksaaanya tidak seimbang dengan teori-teori kebijakan ataupun pembangunan yang selama ini dilakukan.
Pembanguan peradaban orang Papua belum berakhir. Namun salah satu tantangan terberat adalah terisolirnya sejumlah wilayah. Oleh karenanya, salah satu solusi yang bisa saya usulkan adalah di setiap distrik di daerah pedalaman Papua yang sulit dijangkau melalui jalan trans atau pesawat besar jenis ATR. Pemerintah Daerah harus memiliki pesawat kecil atau jenis Cessna atau SIL. Pengadaan alat transportasi ini udara jenis Cessna atau SIL ini dorong untuk mampu beroperasi di daerah pedalaman Papua agar mempermudah kelancaran pembangunan dari berbagai bidang kehidupan.
Selain itu, hal penting lain harus membangun kapasitas diri secara baik. Janganlah berkecil hati dan termakan oleh ungkapan atau anggapan orang lain terhadap perkembangan dan kemajuan di Papua. Karena Papua sesungguhnya sudah, sedang dan akan berupaya sekuat dan sesuai dengan kapabilitasnya masing-masing untuk memajukan Papua. Perlu kesadaran penuh pula bahwa untuk melakukan suatu perubahan atas berbagai bidang kehidupan manusia tentu bukanlah hal yang mudah. Tetapi membutuhkan waktu dan proses yang sangat panjang. Papua butuh waktu dan proses untuk menjadi daerah maju seperti di daerah atau wilayah lain di seluruh Indonesia bahkan dunia.“Papua, Indah dipandang namun sulit ditelusuri”.

Sumber Bacaan:
1. http://www.muslimedianews.com/2015/03/sejarah-masuknya-islam-ke indonesia.html#ixzz41u9Fl7rP/
2. http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menelusuri-sejarah-peradaban-papua-di-pulau-mansinam/
3. https://fatihsaputro.wordpress.com/fakta-fakta-unik/sejarah-dan-perkembangan-agama-di-indonesia/

*Penulis adalah Intelektual Muda Papua Bekerja di Jakarta.