Home Artikel/Opini PENTINGNYA PENDIDIKAN BERPARAS KEMANUSIAAN DI PAPUA

PENTINGNYA PENDIDIKAN BERPARAS KEMANUSIAAN DI PAPUA

64

Oleh: Novilus K. Ningdana
Dunia zaman globalisasi ini, pentingnya pendidikan kemanusiaan di tengah-tengah pola pikir dan mental manusia yang menghasilkan uang dan kekayaan. Namun keinginan manusia ini notabene berbanding terbalik dengan hakikat harmoni hidup manusia yang terancam karena berbagai konflik kemanusiaan. Misalnya pelanggaran Hak Asasi Manusia, sekularisme, rasisme, kerusakan lingkungan hidup, pembunuhan massal, korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), perang, pengungsian, dan sebagainya. Segala nafsu manusia untuk menguasai dan memperoleh uang dapat merusak tatanan dan makhluk ciptaan Allah, terutama manusia. Hal ini karena manusia mengesampingkan hakikat pendidikan yakni kemanusiaan.
Pendidikan kemanusiaan merupakan suatu model pendidikan yang menumbuhkan jiwa kemanusiaan terhadap martabat manusia secara holistik. Dalam artikel yang diterbitkan di majalah mingguan newsweek oleh Nussbaum yang diberi judul Teaching Humanity seorang Professor Hukum dan Etika di Universitas Chichgo ia menekankan pentingnya pendidikan kemanusiaan di era globalisasi ini. Saya pun merasa terkesan dengan artikel ini yang dikutip dalam buku (Reza A. A. Wattimena. Filsafat Perselingkuhan Sampai Anorexia Kudus, 2010). Saya mencoba mengkontekskan betapa pentingnya pendidikan kemanusiaan di tengah maraknya konflik-konflik di tanah Papua dengan melihat dimensi-dimensi hakiki pendidikan.

Kita harus mengakui bahwa dengan logika dan imajinasi manusia mengacu pada suatu hal yakni keuntungan ekonomi. Sehingga tujuan hidup kita pun diarahkan untuk mencari keuntungan ekonomi, bermental ekonomi, berpikir ekonomi dan bertindak ekonomis termasuk pendidikan diekonomisasi. Pendidikan menjadi mesin produk Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermental ekonomi. Fakultas yang menjadi prioritas dunia pendidikan kini ialah Teknik dan Sains. Mengapa demikian, karena dapat memberikan keuntungan ekonomi pada Negara dan setiap pribadi. Sehingga kini orang berlomba-lomba untuk Study di dua fakultas tersebut. Sebenarnya bagi saya tidak ada masalah namun yang dikhawatiran ialah ketika dominasi manusia pada kedua bidang tersebut maka konflik subdimensi akan mengancam kehidupan harmoni manusia.
Kini, manusia telah meninggalkan kehidupan harmoni dan melakukan eksperimen-eksperimen di bidang Sains untuk menciptakan bahan-bahan kimia, obat-obatan, nuklir, bom, dll. Sedangkan di bidang Teknologi dapat menciptakan perlatan canggih seperti peralatan perang, transportasi, komunikasi, industri, dll. Sebenarnya ini sebuah kemajuan IPTEK yang patut diapresiasi sejauh berdampak positif dan melindungi rakyat dan Negara. Namun pertanyaannya apakah sejahui ini kedua bidang ilmu itu menciptakan suatu kehidupan yang harmoni? Dapatkah dengan perlengkapan perang yang canggih menciptakan dunia yang aman? Ataukah perlengkapan perang yang canggih itu membawa lebih banyak kesengsaraan dan kerugian dari pada keuntungan. Apalagi perlengkapan perang yang mengerikan dan mahal sehingga perang sebagai sarana penyelesaian konflik-konflik terlalu bengis dan tidak manusiawi. Hemat saya pengembangan bidang ini dapat mengakibatkan kematian sifat kemanusiawiaan manusia dalam tindakan hidup real sehingga manusia secara membabi buta menembak dan membunuh sesama manusia yang tak bersalah.
Akhir-akhir ini di Papua terjadi penembakan oleh TNI/Polri terhadap warga sipil yang menewaskan 1 siswa dan 1 warga sipil serta 2 warga sipil terluka di Kabupaten Intan Jaya (suarapapua.com, 18/2/2020). Baru ini akibat kontak tembak antara TNI/Polri dan KKSB di distrik Tembagapura yang menyebabkan pengungsian dan kematian jiwa satu orang anggota TNI (Cepos, Selasa 10/302020, hal 1), serta operasi dan pengungsian besar-besaran warga di Nduga yang berkepanjangan hingga kini belum kondusif. Sangat disayangkan bukan hanya warga sipil namun anak sekolah pun ditembak mati menunjukan kematian satu jiwa pendidikan kemanusiaan Papua. Pelanggaran HAM di Papua menunjukan suatu kesombongan pertunjukan kecangihan peralatan perang (senjata) modern oleh Negara dengan menjadikan rakyat sipil sebagai kelinci percobaan. Rakyat pun berbalik melawan dengan peralatan tradisional yang terbatas namun senjata menjadi tuan atas manusia Papua. Begitu pula teknologi dapat menghancurkan alam dan perut bumi Papua melalui eksploitasi pertambangan, perusahaan kelapa sawit, penebangan hutan (illegal logging), penangkapan ikan (illegal fishing), kematian jiwa karena racun dan berbagai kejahatan kemanusiaan lainnya yang tumbuh subur di tanah Papua. Itulah realitas tangisan kemanusiaan Papua hingga dunia, alam dan bahkan Tuhan pun menangis melihat kejahatan dan penderitaan alam dan anak-anak manusia Papua. Maka itu, apa alternatif pendidikan Papua untuk menciptakan kehidupan yang harmoni? Pendidikan kemanusiaan merupakan solusi mendidik dan menghasilkan manusia yang mencintai harmoni, kedamaian dan persaudaraan hidup di tanah Papua.

Pendidikan kemanusiaan (teaching humanity) kini sangat urgen untuk menciptakan kehidupan harmoni. Dengan pendidikan kemanusiaan yang baik akan membangun pemikiran dan sikap kritis terhadap segala macam kejanggalan kehidupan, membentuk perspektif dan pemahaman tentang dunia di mana kita hidup dan meningkatkan rasa simpati dan bela rasa terhadap penderitaan orang lain. Pendidikan seni untuk membangkitkan kepekaan dan simpati terhadap isu-isu krusial bagi pelajar dan mahasiswa yang membidanginya. Sehingga pendidikan di Papua tidak hanya menghasilakan para politikus, birokrat, pengusaha, yang bermental ekonomis namun perlu menghasilkan kader-kader yang sungguh-sungguh mencinta dan menjaga tatanan hidup harmoni dan memiliki kepedulian terhadap keutuhan makhluk ciptaan di tanah Papua.
Oleh karena itu, saya memberikan beberapa alternatif solusi bagi para pemangku pendidikan di Papua agar secara efektif dan efisien memperhatikan pendidikan kemanusiaan dan seni. Kepada pemerintah terutama Dinas Pendidikan Provinsi atau daerah agar dapat memfasilitasi setiap sekolah untuk mengembangkan seni musik tradisional maupun modern agar para siswa dan mahasiswa dapat mengembangkan potensi dan kreativitas mereka. Hal ini untuk membangkitkan rasa simpati dan empati untuk melihat persoalan hidup manusia menjadi persolah bersama. Untuk kalangan umum pemerintah dapat memfasilisasi musisi-musisi yang bertumbuh agar lebih kreatif menciptakan dunia yang humanistis. Dan bagi kampus sebagai pusat pembelajaran dan produk SDM dikembangkan seni-seni musik. Dalam bidang ilmu yang ditawarkan pun mendapat porsi lebih pada bidan ilmu-ilmu kemanusiaan seperti antropologi, sosiologi, dan sebagainya agar mahasiswa dapat berpikir kritis, logis, sistemati dan koheren serta kontekstual melihat suatu kejanggalan kehidupan manusia demi menjaga keharmonisan hidup.
Dengan demikian saya yakin pendidikan kemanusiaan dan seni akan memberikan dampak positif bagi keselamatan kehidupan manusia dan alam Papua. Mengurangi bidang-bidang ilmu sains dan teknologi, manusia dapat menghargai eksistensi kehidupan harmoni dan berbelaras terhadap kejanggalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita sebagai tanggung jawab bersama. Maka akan tercipta kehidupan harmoni, damai dan penghargaan akan nilai-nilai hidup manusia di tanah Papua.

Penulis adalah Mahasiswa di STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua