Home Artikel/Opini Pentingnya Pelestarian Bahasa Ngalum Di Era Globalisasi

Pentingnya Pelestarian Bahasa Ngalum Di Era Globalisasi

193

Oleh:  Uropmabin Vincent

Pengantar

Tuhan menciptakan manusia sekaligus dilengkapi dengan bahasa untuk berkomunikasi antara sesamanya. Oleh karena itu bahasa  merupakan pemberian Tuhan sendiri. Atas dasar pemahaman ini maka bahasa daerah sebagai pembertian Tuhan patut dilestarikan dari generasi ke generasi. Bahasa daerah berperan penting dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya, sehingga ketika bahasa daerah punah maka sekaligus budaya juga akan turut punah. Untuk itu, bahasa Ngalum termasuk bahasa pemberian Atangki (Maha Pencipta) perlu dilestarikan  agar budaya lokal juga turut terjaga dari ancaman globalisasi.

Penulis mengharapkan generasi suku Ngalum (orang Ok) agar terus mempertahankan bahasa daerah dan khusus yang belum tahu harus belajar supaya kita terus mempertahankan bahasa di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi. Boleh kita mengikuti perkembangan dunia di zaman sekarang ini, tetapi bahasa dan budaya kita tidak boleh ditinggalkan. Sebab jika kita tinggal bahasa maka saat itu pula orang Ngalum tidak memilki budaya. Penulis berharap kepada semua kalangan suku Ngalum, terutama para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Politikus agar memberikan pemahaman tentang betapa pentingnya bahasa Ngalum untuk generasi masa depan. Selain itu, tugas mahasiswa juga untuk mengkampanyekan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor-Faktor Penyebab Hilangnya Bahasa Ngalum (Bahasa Ok)

Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Ngalum atau bahasa Ok terancam punah, yaitu:

  1. Perkawinan Silang

Perkawinan silang dengan suku lain adalah salah satu faktor paling cepat punahnya bahasa Ngalum.  Mereka yang kawin silang, termasuk yang ada dalam satu rumah pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari selalu menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah sehingga  anak-anaknya tidak tahu berbahasa Ngalum. Selain bahasa mereka tidak tahu budaya Ngalum (budaya Ok), sil-sila keturunan dan hak ulayatnya,  sebab semuanya tidak terlepas dari bahasa daerah. Untuk itu, orang tua harus biasakan diri mengajarkan anak-anak berbahasa daerah Ngalum sekaligus dengan nilai-nilai budaya, sil-sila keturunan dan hak ulayat mereka.

  1. Anak-Anak Pejabat Ngalum Disekolahkan Di Luar Pegunungan Bintang

Pada umumnya anak-anak pejabat suku Ngalum sejak kecil disekolahkan atau diasramakan di kota-kota besar yang modern sehingga mereka lebih menggunakan bahasa Indonesia dan gaya hidup budaya modern. Hal tersebut membuat anak-anak pejabat rata-rata tidak bisa berbahasa Ngalum dan tidak  berkarakter seperti orang Ngalum sejati yang tahu budayanya, tahu keturunannya, tahu hak ulayatnya, tahu kondisi daerahnya, dan sebagainya.  Anak-anak pejabat dididik dengan fasilitas yang serba instan, misalnya mereka yang di asrama  semua disiapkan oleh pihak pengelola asrama, anak-anak hanya fokus belajar. Tugas orang tua setiap bulan menyetor uang belasan bahkan puluhan juta dalam setahun dengan anggapan bahwa anak-anaknya bisa berkembang dan  menjadi manusia modern yang bersaing dengan sesama bangsa lain. Namun disisi lain orang tua tidak menyadari  akan pentingnya bahasa dan budaya lokalnya. Anak-anaknya sudah berkembang bagus tetapi tidak tahu identitas dirinya sebagai manusia Ngalum.  Anak-anak tersebut ketika sudah besar mau arahkan untuk kembali ke akar budaya yang identik dengan tradisional akan sulit sebab mereka sejak kecil sudah merasakan betapa bahagia dan indahnya kehidupan di kota-kota besar dengan hiruk-pikuk keramaian dan modernisasi.

  1. Antar Sesama Orang Ngalum Sering Berkomunikasi Dengan Bahasa Indonesia

Dalam kehidupan sehari-hari antara orang Ngalum sendiri lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah, kalaupun menggunakan bahasa daerah biasanya selalu campur-campur dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu faktor bahasa Ngalum mulai ditinggalkan. Oleh karena itu kita perlu belajar dari teman-teman kita dari suku Dani/Lani, menurut pengamatan penulis selama ini ketika ada dua atau tiga orang Dani/Lani berkumpul mereka selalu menggunakan bahasa daerah, artinya mereka sangat mencintai bahasanya agar tidak tertelan dinamika perkembangan dunia yang semakin modern dan canggih ini. Pantas jika turis manca negara yang perjalanan ke Papua selalu mengatakan Jika Anda Tidak Ke Wamena (Jayawijaya), Maka Anda Ke Tanah Papua.  Salah satu faktornya karena  budaya dan bahasa suku Lani/Dani yang masih eksis dari generasi ke generasi. Oleh karena itu orang dari luar yang hidup di kabupaten Jayawijaya selalu mengikuti gaya hidup budaya orang lembah baliem (suku dani dan suku lani).  Kita suku Ngalum juga mesti melakukan hal yang serupa. Orang luar yang datang tinggal di wilayah suku Ngalum harus terpengaruh dengan gaya hidup kita, bukan sebaliknya kita mengikuti gaya hidup mereka. Untuk menjaga eksistensi bahasa Ngalum maka perlu ada  tindakan-tindakan konkrit, terutama di kalangan mahasiswa yang sedang berstudi di Papua maupun luar Papua agar  gunakan bahasa Ngalum dalam kehidupan setiap hari, misalnya kehidupan dalam kontrakan, asrama, kos-kosan dan pertemuan-pertemuan diupayakan menggunakan bahasa daerah sebagai wujud pelestarian bahasa yang sedang dalam ancaman kepunahan.

Seringkali menurut pandangan kebanyakan orang jika kita sering menggunakan bahasa daerah Ngalum akan mempengaruhi  pola berpikir dan penggunaan bahasa Indonesia yang yang tepat. Bagi penulis itu alasan yang kurang tepat, sebab hanya dengan berorganisasi, banyak baca buku dan menulis orang Ngalum bisa berkomunikasi bahasa Indonesia yang baik sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Jangan kita meninggalkan bahasa Ngalum hanya untuk berbicara bahasa Indonesia yang baik, sebab bagimanapun bahasa daerah adalah pemberian Tuhan yang kita harus pertahankan dan wariskan kepada setiap generasi.

Peran Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelestarian Bahasa Daerah

Dalam rangka menjaga eksistensi bahasa daerah maka Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pegunungan Bintang perlu mengambil kebijakan atau program untuk pengajaran bahasa lokal di setiap sekolah. Melihat perkembangan globaliasi dan modernisasi yang sangat berpengaruh terhadap semua dimensi kehidupan masyarakat di daerah, misalnya di ibu kota Oksibil yang mayoritas berpenduduk suku Ngalum tetapi anak-anak muda sekarang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah. Anak-anak yang lahir dan besar di Oksibil mereka lebih fasih berbicara bahasa Indonesia dan menjadikan bahasa Ngalum sebagai bahasa kedua. Ini pertanda bahwa bahasa Ngalum dalam ancaman kepunahan, oleh karena itu pembelajaran bahasa daerah di sekolah mesti digalakan.  Salah satu cara orang tua bisa yang paham bahasa dan sastra Ngalum bisa dijadikan guru kontrak untuk mengajarkan anak-anak dari tingkat SD-SMA. Selain itu kita pelajar dan mahasiswa Ngalum harus memainkan peran sebagai agent of change dan agent of social control  untuk merubah paradigma (pola berpikir) untuk tetap berpikir global tetapi bertindak lokal untuk mempertahankan bahasa dan budaya kita. Dengan cara-cara demikian kita turut menciptakan generasi muda Ngalum yang fasih berbahasa daerah dan berbudaya demi mempertahankan harkat dan martabat manusia Ngalum di atasa tanah leluhur ciptaan Atangki (Allah).

*Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)