Home Artikel/Opini Pentingnya Kebebasan bagi West Papua

Pentingnya Kebebasan bagi West Papua

58

Oleh: Ernest Pugiye

Pada Selasa, 10 Desember 2019, pelanggaran HAM Papua masih tetap mendapat perhatian utama dan pertama dalam meja internasional dari semua bangsa. Semua bangsa di seluruh dunia berpartisipasi aktif dan penuh dalam merasakan peristiwa duka besar orang-orang Melanesia West Papua (selanjutnya akan disebut Papua). Setiap bangsa di dunia secara inisiatif turut berduka cita dan bergumul atas para pahlawan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan di tanah Melanesia khususnya di Papua. Dalam suasana duka kemanusiaannya yang paling terbesar itu, semua bangsa sudah memahami bahwa ada konflik di Provinsi Papua dan Papua Barat. Menurut sejarahnya, para pahlawan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan di tanah Papua yang telah mati dibunuh secara tidak manusiawi oleh pemerintah Indonesia melalui militer (TNI/Polri) dalam medan perjuangan perdamaian dan kemerdekaan politik Papua. Perasan duka kemanusiaan yang paling mendalam itu telah dinyatakan secara komprehensif oleh semua bangsa dan negera di seluruh dunia dalam bentuk doa damai dan rekonsiliasi. Jadi peringatan hari HAM sedunia yang ke 58 tahun dalam konteks Papua tersebut telah dimaknai dan dilaksanakan dengan doa duka, rekonsiliasi dan saling memberikan nasehat-nasehat yang meneguhkan serta mempersembahkan korban ternak dan derma oleh semua orang Melanesia Papua.

Bebas dari Duka Papua

Untuk memaknai peristiwa duka ini, orang-orang Mee di Tota Mapiha juga tidak tinggal diam. Semua orang datang berkumpul di Lapangan Geraldus Tigi. Mereka datang dari 40 kampung yang telah berada di Tota Mapiha bagian Gunung dan Pantai. Jaraknya amat jauh dari tempat pusat kegiatan doa duka Papua ini. Bila perjalanan dukanya melakukan jalan kaki, orang-orang dari bagian pantai Selatan Mimika dan Barat biasanya memakan waktu satu (1) bulan lebih. Mereka harus melewati banyak gunung, sungai dan danau dalam perjalanan menuju lapangan Geraldus Tigi yang terletak di Ibukota Distrik Mapia. Jadi, setiap warga duka Papua akhirnya telah berkumpul dengan damai, tanpa halangan di pusat kegiatan doa damai itu.

Dalam sejarahnya yang paling panjang, setiap orang-orang Tota Mapiha biasanya mengenang hari HAM sedunia di rumah-rumah sendiri. Juga di hutan buruan mereka. Bahkan mereka pun biasa menaiki di gunung untuk berduka, menangis dan melakukan doa duka di sana. Isi doa dukanya, mereka hanya meminta kemerdekaan politik West Papua. Sesama mereka tidak boleh dibunuh oleh pemerintah Indonesia. Karena mereka butuh hidup dan bekerja bebas sebagai manusia Melanesia Papua di tanah adatnya sendiri. Dengan demikian, mereka mau dapat melihat masa depan Papua yang damai dan bahagia.

Untuk memperdalam isi doa itu, setiap orang Papua wajib mempersembahkan korban darah ternak babi, kuskus dan ternak ayam ketika sudah mau masuk dalam doa duka dan menangis dengan berteriak-teriak dari hutan adat mereka. Dalam doa persembahan itu, setiap mereka biasanya mempersembahkan seluruh kerapuhan diri, pekerjaan dan nyawa mereka sebagai persembahan yang mulia dan abadi kepada Allah. Persembahan ini termasuk pergumulan mereka untuk tidak mau melihat lagi bendera merah putih Indonesia berkibar lagi dengan jaya dalam iklim darah rakyat kecil di tanah Melanesia Papua. Maka setiap mereka memohon kemerdekaan West Papua kepada Allah Tritunggal Maha Kudus di Surga. Intinya ada banyak pekerjaan kemerdekaan Papua yang dilakukan dari sejumlah tempat ini.

Sejarah membuktikan bahwa, mereka biasa mengungkapkan duka atas para pejuang yang gugur melalui doa damai dan rekonsiliasi bangsanya dalam sejarahnya. Doa perdamaian dan rekonsiliasi bangsa Papua ini dimaknai dengan pantun, syair lagu dan tarian adat pukul Tifa dan anak panah-busur. Tarian dan lagu-lagu adat ini mengandung pesan-pesan permohonan kemerdekaan. Pesan kemerdekaan politik bangsa West Papua ini merupakan hak absolut yang harus direbut dari tangan para penjajah dan kolonialisme Indonesia. Bahkan mereka pun mengungkapkan rasa duka yang paling mendalam dengan melakukan mati raga, puasa berbulan-bulan dan mengasingkan diri mereka di hutan pertapaan adat mereka. Jadi semua kegiatan duka Melanesia dan perdamian Papua mereka telah bermuara kepada pengudusan dan perebutan kemerdekaan politik West Papua dari konflik Papua yang paling panjang itu.

Peristiwa duka ini melahirkan korban yang tidak sedikit. Dalam proses duka dengan sejarahnya yang paling penting itu, ada banyak pejuang yang telah gugur demi kemerdekaan Politik West Papua. Belajar dari sejarah Papua bahwa mereka sudah mengorbankan dan menyerahkan seluruh hidup dan nyawanya secara total kepada Tuhan demi mendirikan Negara West Papua. Penyerahan nyawa mereka secara total itu telah diabadikan dalam banyak sumber sejarah Papua. Para pejung kemerdekaan West Papua itu diantaranya ialah Petigawi Kegiye, Auki Tekege, Akainawi Butu dan Bernabas Magai serta Theodorus Hiyo Elluay, Arnold Clemens Ap, Kelly Walik dan Very Awom dan Pater Neles Kebadabi Tebai Pr. Mereka itu adalah para pejuang awal dari sejarah kemerdekaan politik West Papua. Para pejuang ini lahir jauh sebelum Indonesia merdeka secara politik. Mereka tidak pernah terlibat dalam sejarah perjuangan Indonesia merdeka karena tidak ada relasi apapun dalam sejarahnya dari semua aspek. Jadi, perjuangan kemerdekaan West Papua bukan untuk orang melayu dan tanah melayu, melainkan hanya dari dan untuk orang-orang Melanesia di Papua.

Merebut Kemerdekaan West Papua

Seperti terlukis dalam sejarahnya, orang-orang asli West Papua tidak meminta kemerdekaan politik kepada pemerintah Indonesia. Mereka juga tidak berjuang pembangunan Papua dalam berbagai aspek. Bahkan para pejuang bersama rakyat Papua pun tidak meminta kesejahteraan berkadar kepentingan Jakarta.

Namun orang-orang Melanesia Papua hanya meminta pengakuan atas eksistensi Papua. Mereka mutlak perlu diakui dan dihargai sebagai manusia adanya. Nilai karakter mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan dengan segala nilai ke-allahan yang sudah melekat dalam dirinya wajib diletakan di atas segala nilai. Lebih-lebih, mereka wajib perlu diakui sebagai bangsa yang pernah mendeklarasikan Negara merdeka penuh secara politik (secara defakto dan dejure) sejak 1 Desember 1961 di Hollandia (sekarang Jayapura). Tanpa pengakuan seperti ini, Papua akan tetap ditetapkan sebagai daerah konflik keempat di dunia.

Bagi rakyat Papua, meminta kemerdekaan dan semua bentuk pembangunan kepada Indonesia itu sama dengan meminta kematian mereka dari Indonesia. Belajar dari pengalaman, mereka biasanya ditempatkan sebagai objek pembangunan dari semua aspek. Orang-orang Papua sudah benar-benar tidak pernah menikmati kemerdekaan Negara Indonesia yang besar itu. Eksistensi mereka biasanya dikuburkan dalam semua kebijakan pembangunan yang berkadar hanya menjawab kepetingan pemerintah pusat. Maka mereka hanya berjuang bagaimana Papua dapat dibangun sebagai tanah damai melalui pembangunan kemanusiaan, dengan jalan damai, bekerja tanpa upah dan dialog damai. Inilah yang telah berada dan terlukis dalam lembaran sejarah Melanesia Papua yang paling panjang demi merebut kemerdekaan dan perdamaian Papua secara komprehensif dan permanen.

Penulis adalah Alumnus pada STFT Fajar Timur Abepura Jayapura.