Home Artikel/Opini Pemikiran Lenin Untuk Membangun Kesadaran Perjuangan Pembebasan Papua Barat

Pemikiran Lenin Untuk Membangun Kesadaran Perjuangan Pembebasan Papua Barat

639

Oleh: Ningdana.O 

 Pengantar

Dalam artikel ini penulis akan mencoba mengantar pembaca sekalian untuk mengenal sosok Lenin secara umum. Bahwasanya Lenin lahir dengan nama Vladimir Illych Ulyanov. Ia  dilahirkan pada tanggal 22 April 1870 di Kota Simbirsk, Rusia. Ia merupakan pendiri organisasi Marxis di Samar dan penerbit koran politiknya yang terkenal adalah Iskra(Bunga Api). Lenin pernah memimpin pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan revolusioner Manshevik menggunakan konsep “Partai Pelopor”dengan pendukung partainya  Bolshevik, mulai dari St. Petersburg yang berhasil dengan gemilang pada bulan Oktober 1917. Lenin juga merupakan pendiri paham dalam gerakan sosialisme hasil interpretasi terhadap ajaran-ajaran Marx yang dipopulerkan oleh Engels yaitu Komunisme (1870-1924) (Kresna, Arya 2018: Hal 72,74,75,&76)

Pada bagian ini penulis pertegas upaya interpretasi buah pikiran Lenin untuk kesadaran masyarakat. Secuil pun penulis tidak punya niat untuk mencoba mendoktrin pembaca yang penulis hormati agar pembaca sekalian menjadi Komunis. Tujuan penulis artikel dalam penulisan ini ialah mencoba untuk mengintepretasi buah pikiran seorang komunis (Lenin) untuk kepentingan literasi dalam membangun kesadaran yang tentunya sangat diperlukan pada proses perjuangan menuju pembebasan Papua Barat dari kolonial Pemerintah Indonesia dan Imperialisme Internasional.

Buah Pikiran Lenin

Berbicara tentang kesadaran masyarakat, Lenin sendiri telah mengklasifikasikan berdasarkan tingkat kesadaranya. Menurut Lenin ada dau tingkat kesadaran kaum proletar yaitu; kesadaran tingkat bawah “trade union” dan kesadar tingkat tinggi “kesadaran kelas”. Kesadaran kelas bawah yang dimaksud Lenin merupakan kesadaran masyarakat yang timbul karena kondisi objektivitas sosial-ekonomi yang dialami masyarakat itu sendiri. Kesadaran spontan  yang muncul tersebut tanpa adanya pendidikan dan pelatihan melalui diskusi-diskusi serta agitasi dan propaganda melaui media oleh mereka yang telah sadar tentang pentingnya suatu kesadran akan adanya suatu penindasan yang dilakukan oleh kelas penguasa terhadap kelas bawah atau tepatnya Para Revolusioner.

Menurut Lenin gerakan massa spontan kelas bawah yang sering terjadi sebelum adanya paham sosialisme sebenarnya telah melakukan perjuangan kelas melakukan pemberontakan budak, pemogokan demi upah, pengrusakan terhadap alat-alat produksi sebagai bentuk protes dan lainnya” (Kresna, Arya 2018: Hal 95). Gerakan yang dilakukan dengan menanam pondasi kesadaran spontanitas karena adanya kondisi objektif masyarakat setempat mempunyai jangka waktu yang sangat pendek, dibanding kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran kelas. Sebab Lenin sendiri mengatakan bahwa “gerakan massa spontan tidak mempunyai konsep tentang cara perjuangan dan tujuan yang jelas dan oleh karenanya tidak bertahan. Solidaritas antar anggota gerakan hanya sebatas dalam lingkaran peristiwa, maksudnya setelah gerakan itu berhasil maupun gagal, para anggotanya akan menghilang satu demi satu kembali ke kehidupan pribadinya masing-masing”(Kresna, Arya 2018: Hal 95)

Kesadaran tingkat tinggi atau kesadaran kelas dibangun oleh masyarakat secara umum dan secara khusus masyarakat proletariat. Secara ontologi kesadaran kelas ada karena adanya pendidikan, pelatihan  dan pematangan kesadaran melalui praksis serta agitasi dan propaganda tentang adanya penindasan terstruktur yang dilakukan oleh kelas penguasa dan dipelopori oleh para revolusioner selain karena adanya kondisi objektif  sosial-ekonomi dan politik setempat. Menurut Lenin, “kesadaran kelas tidak tumbuh begitu saja dalam semalam, namun membutuhkan pendidikan dan pelatihan terus menerus, dan berdiri di atas kesadaran ekonomis. Setelah melalui proses pendidikan dan pelatihan maka kesadaran kelas akan tercapai. Lenin menekankan pentingnya pengetahuan teoritis, pentingnya peran  ideologi sebagai sarana yang perlu dimiliki oleh kelas bawah. Teori dan praktek di lapangan harus berlangsung secara bersamaan, karena keduanya bersama-sama membangun kesadaran kelas” (Kresna, Arya 2018: Hal 98 & 100).

Hubungan Buah Pikiran Lenin Dengan Perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat

            Berangkat dari buah pikiran Lenin tentang kesadaran kelas bawah tersebut di atas, tentunya Penulis punya perspektif sendiri untuk menginterpretasi buah pikiran Lenin dalam tulisan ini. Dalam Perjuangan Pembebasan Papua Barat, sebagai orang sadar kita harus berangkat dari pengertian bahwa kita sedang dijajah. Untuk menanamkan kesadaran tersebut, perlu kita bangun kesadaran dengan sedikit mengadopsi buah pikiran para Revolusioner dari Negara lain seperti yang dipaparkan di atas  yang juga pernah berada di situasi yang tidak kalah bedanya dengan kita (West Papua) selain belajar dari kondisi objektif. Hal itu pun tidak cukup, karena harus  dibarengi dengan terjun langsung dalam Parati-Parati Revolusiner yang telah ada dan tentunya keberadaannya telah dibentuk oleh para pendahulu Revolusioner yang sadar tentang semua penindasan yang dilakukan oleh para koloni anak kandung imperium. Menyentil tentang Partai Revolusioner, kita sebagai orang sadar pasti mengetahui bahwa kita sudah punya partai perjuangan yang ada dalam negri seperti; Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Oleh karena demikian, kita perlu menyebur ke dalam partai-partai tersebut demi mematangkan kesadaran yang telah ada secara spontan untuk ikut andil dalam proses perjuangan melawan kolonial sebagai tugas sejarah. Kesadaran kelas, sesuai kondisi objektif yang ada di West Papua tentunya kita semua sebagai pelaku peradaban pasti tahu bahwa ada ketimpangan Sosial-Ekonomi tentang pendistribusian ekonomi rakyat  demi menyambung kehidupan masyarakat kelas bawah. Sedangkan dari sisi politik, bagi masyarakat kelas bawah lebih khusus Orang Asli Papua ( OAP) tidak ada kebebasan ruang demokrasi di West Papua.

            Dampak dari tidak adanya kesadaran, pasti sangat amat mempengaruhi Perjuangan Pembebasan Papua Barat. Ambil contoh saja untuk saat ini, banyak sekali OAP yang belum sadar dan diorganisir lalu dijadikan bagian dari Barisan Merah Putih untuk diadu domba antar sesama OAP guna menciptakan konflik horizontal untuk memperpanjang rantai penindasan. Dalam tubuh faksi perjuangan juga tentunya mengalami hal demikian antara satu faksi dengan yang lainnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, para pejuang (seluruh rakyat tertindas) harus meletakan kesadaran sebagai batu pertama yang menopang Perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat untuk menggapai cita-cita kemerdekaan penuh dari cengkraman Kolonial Indonesia dan Imperalisme Internasional.

REFERENSI

Kresna, Arya 2018. Revolusi: Marxisme Ortodox Vs Komunisme. Lintas Nalar, Yogyakarta

*Penulis Adalah Aktivis Kemanusiaan Dan Anggota Aplim-Apom Research Group (AARG)