Home Artikel/Opini Pater Neles Tebay, Pr Sebagai “Imam Mediator” Untuk Keselamatan Umat Allah

Pater Neles Tebay, Pr Sebagai “Imam Mediator” Untuk Keselamatan Umat Allah

184

Pengantar
Dalam teologi sakramen Tahbisan Gereja Katolik, pangkal dan tolak thabisam ialah Yesus Kristus sendiri. Dialah satu-satunya imamat sejati. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, surat Ibrani Yesus disebut sebagai Imam Agung (bdk. Ibr 8:1-2). Maka pada hakikatnya seluruh imamat yang ada dalam Gereja Katolik merupakan partisipasi dalam imamat Yesus Kristus (E. Martasudjita. 2003; 385). Dengan demikian Pater Neles sebagai seorang Imam Projo Keuskupan Jayapura secara total telah menyerahka diri seutuhnya dalam berpartisipa Imamat Yesus Kristus, Sang Imam Agung. Di dalam partisipasi dalam gereja kudus ia telah menjalankan salah satu tugas pelayanan dalam keselamatan umat Allah dengan menawarkan konsep Dialog Jakarta-Papua sebagai media untuk menyelesaikan konflik subdimensi orang Papua. Dengan kekuatan rahmat tahbisan Allah ia menjadi model imam mediator dalam menyelesaikan konflik demi keselamatan umat Allah di tanah Papua. Oleh karena itu, dalam artikel ini saya mengulas tentang model perjuangan dialog Jakarta-Papua Pastor Neles Tebay dari perspektif dia sebagai imam mediator antara Allah dan manusia seperti Yesus putra-Nya.
1. Biografi Pater Neles Kebadabi Tebay, Pr
Saya mencoba mengutip biografi Pastor Neles dari biodata buku (Dialog Jakarta-Papua, Sebuah Perspektif Papua, 2011; 51) yang pernah ditulisnya karena secara sistematis belum ada.
Neles Tebay lahir di Godide, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, pada 13 Februari 1964. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 dalam bidang teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) “Fajar Timur” tahun 1990 di Abepura, Papua. Ia ditahbiskan menjadi Imam (Katolik) Projo Keuskupan Jayapura pada 28 Juli 1992, di Waghete, Kabupaten Deiyai. Dalam perayaan pentahbisan imamatnya, dia diberi nama adat yakni kebadabi, yang dalam bahasa suku Mee berarti “orang yang membuka pintu atau jalan”. Dia menyelesaikan program master dalam bidang Pastoral Studies Pada Universitas Ateneo de Manila tahun 1997 dengan tesisnya berjudul Ekarian Christian Image Of Jesusu. Setelah mengajar dua tahun (1998-2000) dia dikirim belajar Misiologi di Roma, Italia. Pada bulan Maret 2006, ia menyelesaikan program doctoral dalam bidang Misiologi pada Universitas Kepausan Urbanian, di Roma. Sejak Januari 2007, dia mengajar Misiologi di STFT “Fajar Timur” Abepura, Jayapura, Papua. Ia wafat pada tanggal 14 April 2019 di rumah sakit Carolus Jakarta. Karya-karya ilmiahnya berupa artikel dapat ditemukan dalam sejumlah jurnal ilmiah berbahasa Inggris, artikel-artikel opininya tentang konflik Papua di temukan di surat kabar harian lokal dan nasional dan juga buku-buku yang ditulisnya dengan tawaran ide yang cemeralang bisa dibaca oleh siapa saja.
2. Pastor Neles Tebay Sebagai “Imam Mediator”
Pastor adalah imam (sacerdos, priest). Imam ialah seorang laki-laki yang menerima tahbisan imamat di Gereja Katolik dari tangan seorang uskup (pemimpin tertinggi setempat). Hanya imam dan uskup yang bisa dapat memimpin ekaristi kudus dan memberikan sakramen tobat. Pastor Neles Tebay sebagai seorang imam yang secara resmi ditahbiskan menjadi imam pada 28 Juli 1992, di Waghete, Kabupaten Deiyai. Sejak itu ia membaktikan hidupnya bagi gereja dan umat Allah, memiliki rahmat dan kuasa Allah untuk merayakan ekaristi (konsekrasi) dan memberikan sakramen tobat demi keselamatan manusia.
Neles sebagai seorang manusia yang unik di mata pribadi saya dan juga publik dari subdimensi yang diintegrasikan dalam tindakan dan sikap hidup serta karya. Neles sebagai imam ia menjiwai spiritualitas hidup religius. Dan juga sebagai imam di tengah dunia bersama-sama bergumul tentang situasi kehidupan sekitar, terlebih situasi kemanusiaan di tanah Papua.
Persoalan orang asli Papua merupakan suatu perjuangan ideologi antara NKRI harga mati dan Papua Merdeka harga mati yakni TNI/Polri dan TPNPB-OPM. Persoalan sosio-politik bertumbuh subur dan rakyat menderita. Tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengidentifikasikan bahwa ada empat akar konflik Papua yakni (1) marjinalisasi dan diskriminasi terhadap orang asli Papua. (2) kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat. (3) kekerasan Negara di masa lalu. (4) kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta (Lihat, Neles Tebay, 2011; 51). Di tengah krisis kemanusiaan dan kehidupan inilah muncul suatu konsep dialog Jakarta-Papua yang digagas oleh Dr. Neles Kebadabi Tebay untuk menyelesaikan persoalan ini dengan jalan dialog damai.
Jiwa sosialnya yang tanggap terhadap situasi kemanusiaan yang buruk di tanah ini mendorong dirinya berjuang secara damai. Konsep dialog yang dicetusnya telah mencerminkan tugas imam di dunia sebagai mediator antara manusia dan Allah.
Sebagai imam yang menyelematkan, Neles memiliki beban moril untuk menyelamatkan dan menyelesaikan persoalan yang dialami oleh umatnya di tanah Papua. Ia berbicara sebagai imam yang bukan hanya di altar saja, namun ia berbicara dan bertindak sebagai seorang yang dipilih dan berdiri pada posisi Allah bagi umatNya. Sebagaimana ia sebagai seorang imam yang setiap hari merayakan ekaristi kudus ia pun menterjemahkan kurban ekaristi Yesus Kristus dalam seluruh hidup, karya hingga maut menjemputnya. Neles menjadi mediator yang berdiri di tengah mempersatukan, mendengarkan, dan membawa kedua pihak pada perdamaian dan keselamatan. Ini merupakan Misi Allah yang dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai mediator Allah dan manusia yakni sebagai Imam Agung yang mempersembahkan diri-Nya bagi menebus dosa manusia dan membawa manusia pada Allah. Namun Misi Pastor Neles untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan dengan jalan damai, Dialog Jakarta-Papua belum terealisasi hingga dirinya pergi ke rumah Bapa di surga. Semoga jalan dialog yang dirintis oleh Pastor Neles sebagai harapan kita bersama untuk menciptakan Papua tanah damai. Waa…Waa…Waa…

Sumber:
Martasudjita. M. Sakramen Sakramen Gereja (Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Tebay, Neles. Dialog Jakarta-Papua Sebuah Perspektif Papua. Jayapura: SKP Keuskupan Jayapura, 2011.