Home Tulisan Papua Barat Tidak mungkin sampai hari kiamat ada dalam bingkai NKRI

Papua Barat Tidak mungkin sampai hari kiamat ada dalam bingkai NKRI

1647

Sebuah tanggapan balik perspektif HAM
Oleh: Sebedeus Mote
Terlansir di media Online JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Selasa 21 Juli 2020, Sebanyak 57 Pastor Pribumi Papua yang dikoordinatori oleh Jhon Alberto Bunay, menyatakan agar pemerintah Indonesia menggelar referendum di West Papua. Mendengar tuntutan tersebut, tokoh oposisi Tengku Zulkarnain berharap hal tersebut tidak Terjadi. Untuk itu, ia meminta Pemerintah Indonesia memberi perhatian lebih baik kepada rakyat Papua.
Lanjut seorang Tengku Zulkarnain, (Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, atau disingkat MUI), menyatakan; Kami berdoa dan berharap saudara saudara kami di Papua khususnya Papua Barat tetap bergabung dengan NKRI sampai Hari Kiamat. Semoga Pemerintah RI memberi perhatian lebih baik ke Papua ke depan. Amin, begitulah ucapannya.
Penulis sebagai mahasiswa Papua yang tinggal di Papua Barat dan seluruh orang Papua, merasa tidak terima atas tanggapan balik yang diutarakan oleh sekretaris MUI. Pikiran, perasaan serta naluri umat kristiani di Papua merasa terganggu. Penderitaan selama otsus jilid I berjalan sangat mengerikan terutama pelanggaran Hak Asasi Manusia. Otsus menjadi tahu dan tempe busuk yang dipaksakan supaya orang Papua barat harus makan, pada hal orang Papua mayoritas tidak suka makan tahu dan tempe.
Doa dalam dosa HAM, apakah masuk akal?
Pandangan bagi umat kristiani di Papua barat sungguh sangat tidak setujuh atas tanggapan Tengku Zulkarnian yakni dirinya mau berdoa supaya Papua Barat tetap bergabung dengan NKRI sampai hari kiamat. Sebagai orang yang beriman dan percaya kepada Allah tentu berdoa kepadaNya sebagai pencipta alam semesta. Tetapi kami menanggapi hal ini dengan akal, pikiran bahwa pelanggaran HAM terus terjadi sejak otsus jilid I dan sebelumnya di Papua Barat, ribuan umat kristiani di bunuh, disiksa, dibantai, diperkosa.
Sebagai umat beragama seharusnya yang sekretaris MUI lakukan adalah berdoa supaya seluruh pelanggaran HAM serta ketidakadilan yang terjadi di Papua Barat itu segera selesai bukan berdoa supaya Papua ada dalam bingkai NKRI, soal itu urusan nomor seratus. Rupanya terkesan dan terlihat bahwa orang Indonesia itu mencintai kekayaan alam Papua Barat bukan manusia Papua Barat. Dan ini sangat aneh melalaikan manusia yang adalah rupah dan gambar Allah, kalau demikian sekretasis MUI ini melawan Allah. Karena secara tidak sadar mendukung NKRI untuk terus melakukan konflik berkepanjangan di Papua Barat. Dimanakah hatimu sebagai orang yang beragama? Tidakkah tahu bahwa umat kristiani di Papua Barat selama otsus jilid I berjalan mengalami kekerasan dari negara Indonesia itu sangat luar biasa?
Papua Barat Tidak mungkin sampai hari kiamat ada dalam bingkai NKRI
Doa bukanlah sebuah sarana untuk membujuk atau menyogok Tuhan tetapi Doa adalah berjuang bersama Tuhan. Negara Indonesia sudah tidak bisa melawan orang Papua. Kami sudah tahu, belajar melalui didikan dari orangtua, guru-guru, dosen-dosen dan belajar mandiri, melihat realitas secara menyeluruh tentang semua peristiwa sadis yang dilakukan oleh negara Indonesia atas umat kristiani di Papua Barat. Hari ini anak kecil pun tahu bahwa kami dibunuh oleh negara Indonesia.
Mengapa penulis mengatakan tidak mungkin? Ya karena jelas dalam bangkai NKRI manusia Papua Barat terus dibunuh, baru saja juga terjadi pembunuhan atas warga sipil dari TNI di ndugama yakni, Selu Karunggu (anak) dan Elias Karunggu (ayah),” ungkap sumber Jubi melalui sambungan telepon, Minggu (19/7/2020). Papua Barat sangat tidak mungkin sampai hari kiamat ada dalam NKRI, mau berdoa apa lagi. Sekretaris MUI, penulis mau bilang; lebih baik bapak mengajak warga Negara Indonesia supaya bergabung bersama umat kristiani Papua Barat berdoa agar pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan dan bentuk kejahatan lainnya ini, segara berakhir dari tanah Papua, dengan demikian tercipta perdamaian antar semua orang yang percaya kepada Allah.
Cepat atau Lambat Papua Merdeka
Bukan hanya seorang Tengkul Zurkarnain saja yang menulis tanggapan balik atas seruan dari 57 Pastor pribumi ini. Tentu ada banyak pihak yang tidak suka, terutama para kapitalis yang mau merampas kekayaan alam Papua Barat, dengan demikian melalaikan manusia Papua. Penulis melihat sekretaris MUI bapak Tengku Zurkarnain tingkat kepanikannya sangat tinggi, langsung menanggapi. Justru langsung menanggapi ini yang membuat kami orang Papua Barat senang, karena anggapan kami bapak menyambut kemerdekaan kami yang diperlengkapi dengan hidup damai didalamnya. Seperti yang dijelaskan diatas kami orang Papua Barat sudah belajar banyak hal, kami tidak bisa ditipu-tipu lagi.
Kebusukan negara sangat terlihat, otak-otak negara yang melalaikan nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi nilai kekayaan alam pun terlihat. Yang menjadi pertanyaan bagi kami OAP itu mengapa melalaikan nilai kemanusiaan bagi manusia Papua, yakni tidak menyelesaikan pelanggaran HAM berat maupun ringan di Papua Barat?
Hemat penulis, Penulis berharap semoga Sekretaris MUI Indonesia, jangan berdoa supaya Papua Barat sampai hari kiamat ada dalam NKRI tetapi berdoa supaya seluruh pelanggaran HAM berat maupun ringan segera selesai dalam bingkai otsus jilid I bukan jilid II. Jilid II itu jelas tidak ada di tanah Papua barat karena seluruh lapisan masyarakat sudah tolak. Kalau sudah tolak berarti tidak perlu diadakan. Yang perlu diadakan adalah dialog secara bermartabat. Dialog tidak membunuh siapa pun. Orang Papua sudah mempercayakan UMLWP. Maka negara Indonesia segera dialog secara bermartabat, dalam hal ini Jaringan Damai Papua (JDP) siap memfasilitasi sebagaimana fungsinya sebagai fasilitator.

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur
Abepura-Papua