Home Artikel/Opini PAP: Perempuan Asli Papua Bukan Barang Komoditas

PAP: Perempuan Asli Papua Bukan Barang Komoditas

154

Oleh: Florentinus Tebai)*

Tanah Papua sering dijuluki sebagai pulau surga, memiliki sumber daya alam yang melimpah, punya hutan lebat dan luas. Ia menjadi dapur dan paru-paru dunia. Akan tetapi, Tanah ini juga dikenal, karena beragam persoalan. Diantaranya seperti, persoalan sosial politik, ekonomi, budaya dan HAM. Semua persoalan (Konflik) sudah dimulai sejak tahun 1969, ketika bangsa Papua diintegrasikan ke dalam bingkai persatuaan NKRI melalui peristiwa PEPERA yang manipulatip.

Peristiwa ini dimaknai sebagai awal lahirnya beragam konfilik di tanah Papua, sehingga hingga kini masih terjadi kekerasan. Dinamika konflik tidak hanya terjadi dalam persoalan sosial-politik, ekonomi dan HAM. Akan tetapi, kekerasan juga masih terjadi terhadap perempuaan yang dilakukan oleh kaum kapitalis (Penguasa) dan kaum pria. Tidak sebanyak kaum pria yang berpandangan bahwa perempuaan sebagai barang komuditas.

Perempuaan lebih didefinisikan oleh uang daripada nilai-nilai budaya sendiri. Istri tidak boleh menolak kehendak suaminya karena mereka tidak dibeli. Perempuaan menjadi status sosial dan kekuasaan dalam kehidupan sehari-hari. Perempuaan menjadi tenaga kerja gratis. Kebun atau kandang babi dipercayakan kepada perempuan-perempuan. Sedangkan, Laki-laki berjalan santai. Kekerasan terhadap perempuaan hampir menjadi pemandangan sehari-hari. Persoalan demikian sudah terjadi dan sedang dialami oleh banyak perempuan Papua di Papua.

Sebenarnya, Perempuan Asli Papua (Selanjutnya akan disebut PAP) adalah emas bagi Papua. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pada edisi keempat menjelaskan bahwa perempuaan berarti orang yang bisa melahirkan anak. Sementara, asli berarti tidak ada campurannya, tulen, murni, emas, bukan peranakan, tidak diragukan asal-usulnya dan emas berarti logam mulia berwarna kuning yang dapat ditempa atau dibentuk, bisa dibuat perhiaasan, seperti cincin, kalung. Harta duniawi, sesuatu yang tinggi mutunya, berharga dan bernilai. Jadi dalam konteks ini, sebenarnya PAP adalah manusia yang bisa melahirkan anak, tidak diragukan asal-usulnya dan bernilai dan berharga dalam seluruh kehidupan Orang Asli Papua (Selanjutnya akan disebut OAP) di Papua.

Dalam konteks pemahaman lain, PAP adalah manusia yang diciptakan (Creature) oleh Allah. Mereka secitra, serupa, dan segambar dengan Allah, sehingga hakikat mereka sebagai ciptaan Allah tidak dapat dipermainakan dan dijadikan sebagai barang komuditas oleh penguasa dan siapapun dia. Sebab, di dalam diri mereka sudah mencerminkan kebaikan ilahi (Kej 1:31). Manusia diciptakan sebagai gambar dan dalam kesamaan dengan Allah (Kej 1:26-27).

Kitab suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan “Menurut Gambar Allah”, ia mampu mengenal dan mengasihi penciptanya; oleh Allah, manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah. Dalam hubungannya dengan ini, PAP adalah ciptaan Allah yang segambar dengan Allah, sehingga citra diri mereka harus dihargai dan dihormati dan bukan dipermainkan dan diperdagangkan. PAP adalah ciptaan Allah dan bukan barang komuditas atau permainan. Dalam kitab suci kita melihat segala sesuatu yang telah dibuaat-Nya, dan semua itu amat baik adanya” (Kej1:31).

Dalam pengertiaan lain, PAP adalah manusia yang memiliki satu jiwa dan raganya. Melalui kondisi badaniahnya sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya. Mereka mempunyai unsur-unsur itu untuk mencapai tarafnya yang tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Siapa pun dia tidak mempunyai hak untuk meremehkan hidup jasmaninya. Artinya, siapa pun dia wajib memandang baik serta layak untuk menghormati badannya. Sebab, mereka adalah ciptaan Allah yang mempunyai kodrad sebagai manusia.

Dalam pandangan lain, PAP adalah manusia yang mempunyai akal budi. Artinya, mereka memiliki akal budi yang dapat melampaui seluruh alam semesta. Mereka bukan barang, tetapi mereka adalah manusia yang punya akal cerdas, pernah mengalami kemajuan dalam segala bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya, tak terkecuali prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknis serta ilmu-ilmu lainnya. Mereka adalah manusia yang berakal budi (Animale Rationale).
Dalam konteks lain, PAP adalah manusia yang telah dianugrahi kesempurnaan akan kebijaksanaan. Oleh karena itu, kodrat mereka yang sempurna dan pribadi yang mempunyai kebijaksanaan tidak dapat direndahkan dan bahkan tidak dapat dipermainkan oleh siapapun. Karena, dengan kebijaksanaan yang dimilikinya, mereka diantar untuk melihat suatu kenyataan yang tidak kelihatan. Mereka adalah manusia yang bijaksana dan bukang mainan. Mereka adalah manusia yang sempurna dan bermartabat.

Dalam pemaham di atas, PAP adalah manusia yang memiliki hati nurani. Di dalam diri mereka terdapat suara hati. Artinya mereka bukan barang komuditas, tapi manusia yang bisa memainkan peranan suara hatinya. Punya energi untuk mencitai dan melaksanakan apa yang baik dan terus menghindari yang jahat. Ingat suara hati terus menggema dalam lubuk hatinya, sehingga mereka dapat menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Mereka adalah manusia yang punya hati nurani.

Sisi lainnya, PAP adalah orang yang memiliki kehendak bebas. Kebebasan sejati yang mereka miliki merupakan suatu tanda gambar Allah di dalam diri mereka. Mereka adalah benar-benar manusia, sebab melalui kehendak bebasnya, mereka dapat mencari pencipta-Nya, mengabdi kepada-Nya, sehingga mereka dapat mengalami kebahagiaan. Ini dapat digerakan dan didorong oleh kesadaran dan kebebasan yang timbul dari dalam diri mereka dan bukan karena dirangsang oleh hati nurani yang buta (Bukan Paksaan).

Tidak hanya itu, PAP adalah sebuah gereja (Church) komunitas yang didirikan oleh Yesus Kristus dan diurapi oleh Roh Kudus sebagai tanda terakhir kehendak Allah. Mereka adalah sakramen (Tanda) kehadiran Allah diantara manusia. Oleh karena itu, PAP mesti dihargai sebagai sebuah komunitas gereja dan persekutuaan kecil di dunia pada umumnya dan Papua pada khususnya. Artinya, Ketika kita melihat PAP sebagai gereja, maka secara otomatis PAP mempunyai ciri yang utama, yakni satu, kudus, katolik dan apostolik. PAP adalah sebuah gereja.

Akhirnya, PAP adalah bukan barang komuditas atau permainan yang dapat diperdagangkan, diperjual belikan oleh penguasa (Kapitalis) dan oleh siapa pun. Sebab, PAP adalah ciptaan Allah yang secitra, segambar dan serupa dengan Allah. Mereka mempunyai akal budi, kodrad, kebijaksanaan, hati nurani, dan kehendak bebas serta sebagai sebuah gereja komunitas yang didirikan oleh Yesus Kristus dalam urapan roh kudus. PAP bukan barang komuditas.

)*Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Anggota Kebadabi Voive Group di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.