Home Artikel/Opini Pandemi C-19, Nasib Hidup Antara Harapan Dan Kenyataan Bagi Bangsa Manusia

Pandemi C-19, Nasib Hidup Antara Harapan Dan Kenyataan Bagi Bangsa Manusia

149

(DalamPerspektif  Teologi Pengharapan)

Oleh: Oksianus Bukega

Pengantar

Bila kita mengikuti perkembagan zaman terdapat pandemi muncul tanpa harus dibendung oleh kemampuan manusia. Munculnya pandemi ini mengakibatkan penderitaan bagi nasib hidup bangsa manusia. Segala alat canggi dan obat-obatan untuk mengatasi pandemi  ini pun dapat ditemukan melalui percobaan-percobaan luar biasa. Ada pandemi  yang obatnya ditemukan, tetapi ada pula yang obatnya belum ditemukannya hingga saat ini. Tidak bisa dapat dipungkiri bahwa manusia yang memiliki kebebasan punya pilihan-pilihan  untuk memberi tuduan terhadap segala pandemi  (penyakit menular) yang muncul dalam kehidupan bangsa manusia di dunia. Pada konteks pemahaman yang sama penderitaan yang dialami bangsa manusia saat ini karena Covid-19 juga memiliki perbedaan pandangan.

Ada pandangan bahwa Covid-19 adalah pandemi  baru yang ditemukan; ada pandangan lain pula yang menghubungkannya dengan obat biologis yang diciptakan oleh manusia untuk memusnahkan bangsa manusia; dan ada pula pandangan lain yang lebih ekstrim yaitu sebagai teguran dan kutukan dari Allah. Untuk memberi jawaban alternatif terhadap pilihan-pilihan yang dibuat oleh manusia sebagaimana diuraikannya tentu membutuhkan pemahaman yang lebih untuk menuangkannya. Dalam pokok bahasan selanjutnya penulis akan memberi dan menawarkan alternatif jawaban dari pilihan-pilihan tersebut. Pokok pembahsan lebih lanjut akan dibatasi pada pemahaman wabah Covid-19 yang dihubungkannya dengan pengharapan nasib hidup bangsa manusia kini dan kelak dari sudut pandang teologi pengharpan(kristiani).

Corona Virus (Covid-19) dan Kenyataan Hidup Bangsa Manusia

Corona virus (Covid-19) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit (penderitaan) pada manusia. Ada setidaknya dua jenis corona virus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).Corona virus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus corona (Covid-19) pada manusia menyebabkan infeksi saluran pernafasan dari ringan hingga mematikan. Menurut lembaga kesehatan Amerika Serikat The Centre For Disease Control And Prevation (CDC), nama virus corona berasal dari bahasa Latin yang mengandung makna “mahkota”. Hal ini merujuk pada bentuk permukaan virus yang memiliki duri seperti mahkota. Sedangkan angka 19 disematkan untuk menjelaskan pertama kali kemunculan virus ini mengikuti manusia pada Desember 2019 di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China (Bdk. Buku Pedoman: Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19), hal. 11).

Bila mengikuti peradaban bangsa manusia terdapat catatan sejarah mengenai berbagai pandemi  (penyakit menular). Di mana penyakit menular muncul seperti flu burung, sindrom pernapasan, SARS, dan Ebola, HIV/HIDS yang memakan puluhan korban jiwa manusia. Pandemi  ini kembali mengingatkan bangsa manusia akan ancaman yang amat berbahaya bagi hidup bangsa manusia. Hal ini juga menggangu kesehatan dan keselamatan manusia serta keamanan ekonomi dan sosial. Sementara penyebaran Covid-19 khususnya dalam perkembangannya secara bertahap bisa ditanggulangi walaupun penyebarannya amat cepat ke hampir seluruh dunia. Untuk menyikapi pandemi  ini dibutuhkan pengetahuan dan kemahiran pencegahan dan kontrol menjadi hal yang mendesak dan penting tidak hanya untuk wilayah yang terserang pandemi Covid-19 ini tetapi juga untuk dunia.

Tidak bisa dapat dipungkiri bahwa pandemi  ini sudah mewabah dalam kehidupan bangsa manusia. Dalam proses mewabahnya Covid-19 ini manusia lalu mulai menyadari dan mengajukan pertanyaan yang sifatnya ingin mengetahui hakikat munculnya wabah Covid-19 hingga pertanyaan yang sifatnya pengharapan. Sebab disadari bahwa akibat wabah Covid-19 dapat menghancam kehidupan bangsa manusia. Kalau kita mengajukan pertanyaan seputar Covid-19, maka akan muncul sejumlah deretan pertanyaan yang bisa dikemukakan jawabannya tetapi juga ada pertanyaan yang tetap saja akan tergantung. Pertanyaannya adalah apa dasar obyek pengharapan manusia ketika menghadapi Covid-19? Bagaimana manusia menghayati pengharapan dalam situasi pandemi? Dua pertanyaan ini mendasari pembahasan lebih lanjut.

Dasar (Obyek) Pengharapan Bangsa Manusia dalam Situasi Wabah Covid-19

Pandemi Covid-19 yang timbul adalah situasi di mana kita semua hidup. Dan jika bukan Covid-19 yang muncul, maka kanker, ebola, HIV/HIDS, dll yang akan muncul atau ratusan bencana lain yang tidak kelihatan, yang dapat menghancurkan kehidupan umat manusia. Pengharapan yang melampaui kematian adalah pengharapan yang sekarang. Obyek dari pengharapan itu memang ada di dunia masa depan, tetapi pengharapannya ada di masa sekarang. Dan pengalaman yang sekarang itu sangat kuat. Sebab pengharapan adalah kekuatan; kekuatan di masa sekarang. Pengharapan mencegah manusia untuk bunuh diri-sekarang. Pengharapan menolong manusia di kala menghidap covid-19 sehingga diisolasikan, dikarantinakan, dan atau memiliki bekerja dari rumah-sekarang. Pengharapan membebaskan manusia dari ketakutan yang egois dan ketamakan-sekarang. Itu menguatkan kasih, menimbulkan keberanian mengambil resiko, dan berkorban-sekarang (Bdk. John Piper, 2020, hal: 13).

Dalam situasi mewabahnya pandemi  Covid-19 yang menelan ribuan korban jiwa itu, pada saat yang sama orang beriman tetap memiliki dasar pengharapan yang kuat dan teguh. Dalam paham alkitabiah dirumuskan bahwa dasar pengharapan orang beriman adalah Allah sendiri (Roma15:13). Kasih Allah (Roma 5:5), Rasul Paulus maksudkan bahwa orang yang menghadapi kesulitan, disadarkan bahwa ia tidak dapat percaya pada dirirnya sendiri. Kalau dalam kesadaran itu ia tidak menjadi putus asa melainkan tekun berpegang ada Tuhan dan janji-Nya, maka itulah pengharapan. Dan setelah menegaskan bahwa pengharapan tidak mengecewakan, Rasul Paulus menyebut “kasih Allah” yang dari satu pihak dinyatakan dalam Kristus (Roma6-11), dan dari lain pihak “dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus”; sebagai pembenaran (Roma 5:52; 5: 2). Maka jelaslah bahwa akhirnya Allah sendiri yang menjadi dasar pengharapan, dan Alkitab memberi kesaksian mengenai kasih Allah (bdk. Roma 16:26).

Secara kongkrit yang menjadi obyek pengharapan adalah “keselamatan” (I Tesalonika 5:8; bdk.I Korintus 1; 10), “kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Roma 8:20), “kemuliaan Allah” (Roma 5:2), pembebasan tubuh kita” (Roma 8:23), kebenaran (Galtia 5:5), Tuhan Yesus Kristus (Filipi 3:20). Yesus Kristus yang telah bangkit itu sekaligus dasar dan obyek pengharapan, justru karena pengharapan berarti partisipasi pada dinamika karya keselamatan Allah. Keselamatan Allah dalam Kristus sudah masuk dalam realitas hidup manusia, tetapi masih akan diwahyukan dalam diri orang beriman sendiri pada akhir zaman. Karena keselamatan dalam Kristus bersifat eskatologis, artinya: karena bergerak maju menuju kepenuhan dalam pembangkitan orang-orang mati oleh Allah, maka juga pengharapan bersifat eskatologis: secara dinamis terarah kepada kegenapan zaman.

Penghayatan Pengharapan Antara Sudah (harapan) dan Belum (Kenyataan)

Pengharapan orang beriman (kristiani) bukanlah wishfull thingking mengenai masa depan, justru karena pengharapan ini berarti partisipasi dalam dinamika karya keselamatan Allah sendiri. Pengharapan pertama-tama menyangkut hidup sekarang. Pengharapan merupakan penjabaran iman dan iman menghindarkan kita dari bahaya melayang-layang di angkasa khayalan subyektif-psikologis atau obyektif-apokaliptis. Sebenarnya karya keselamatan Allah sudah terlaksana, khususnya dalam diri Yesus Kristus, tetapi masih belum mencapai kepenuhannya. “Sekarang kita melihat dalam cermin,…tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (I Korintus 13:12).Kalau hanya dikatakan “sudah” saja, itu tidak benar; tetapi hanya “belum” saja, itu tidak tepat. Kekhasan karya Allah adalah justru menyangkut seluruh karya Allah, dalam kesatuan antara “sudah” dan “belum” (Bdk. Tom Jacob, 2007, hal: 153).

Saat memikirkan tentang Covid-19 (yang dapat dihubungkan dengan situasi paskah), orang beriman (kristiani) perlu menyimak kembali arti penting dari kebangkitan Kristus (Paskah). Peristisiwa itu bukan sekedar bukan suatu keajaiban hebat yang menyangkut kematian satu orang. Kebangkitan Kristus merupakan jaminan pasti yang diberikan Allah atas pembaruan umat manusia dan juga jaminan pasti pembaruan alam ciptaan-Nya. Kedua hal tersebut saling berkaitan, dan sama-sama bergantung pada kebangkitan Yesus Kristus. Apa yang dialami ciptaan berkaitan dengan apa yang dialami umat manusia.

Kita pun mengeluh dalam batin kita ketika menderita sembari menantikan “Allah membebaskan diri kita seluruhnya. Pembebasan diri kita, yaitu kebangkitan tubuh kita dari kematian, sudah dijamin karena kita terhubung dengan Kristus, yang telah dibangkitkan sebagai buah sulung atau pertama dari apa yang akan datang (I Korintus 15:20-27). Virus corona ada karena dunia ini dibiarkan menjadi rapuh. Namun, seperti kita menantikan kepada suatu hidup yang bebas dari penderitaan, kesakitan, dan kematian, alam ciptaan pun akan diperbaharui –bebas dari penderitaan, kesakitan, kematian … dan virus corona. Kita mempunyai pengharapan tersebut karena Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati- suatu jaminan pasti dari Allah bagi umat manusia dan alam ciptaan-Nya.

Penutup

Pengharapan dari satu pihak berarti kepercayaan yang sangat kuat akan Allah. Tetapi bersama dengan itu terungkap juga keinginan dan hasrat yang sangat terasa dalam hati manusia. Maka pengharapan berarti kepastian dan ketidakpastian sekaligus. Kepastian, karena Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya. Ketidakpastian, karena keselamatan itu belum dengan sepenuhnya terlaksana, dan bahkan gelapnya masa depan itu termasuk ciri khas pengharapan. Tetapi dari lain pihak pengharapan itu juga lebih dari pada hanya keterangan pada masa depan saja, sebab pengharapan ke masa depan berdasarkan kepercayaan kepada Allah. Oleh karena itu Allah adalah obyek dan kepenuhan dari pengharapan bangsa manusia di masa kini dan kelak.

Referensi

Buku Pedoman. 2020. Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19). Direktorat Jenderal Pencegahandan Pengendalian Penyakit.

Dister S. Nico.Eskatologi.2011. Bahan Kuliah untuk Mahasiswa STFT “Fajar Timur, Abepura-Jayapura.

Jacob Tom. 2007. Syalom, Salam, Selamat. Yogyakarta: Kanisius.

Piper John.2020. Coronavirus And Christ (Kristus dan Virus Corona). Literatur Perkantas Jatim.

*Penulis adalah mahasiswa STFT “Fajar Timur” dan                                                                                               anggota Aplim Apom Research Group (AARG)