Home Artikel/Opini Orang Mapia, PT Dewa dan Dampak Negatifnya

Orang Mapia, PT Dewa dan Dampak Negatifnya

157

(Sebuah Refleksi atas Realitas Kehidupan di Tanah Mapia)

Oleh:Yulianus Magai*)

Mapia adalah salah satu daerah yang terletak di Papua tengah. Mapia sendiri dikelilingi oleh pegunungan dan terdapat beberapa sungai, satu dari sekian sungai diantaranya, ialah sungai Mapia. Tanah Mapia sendiri terdapat beragam kekayaan, serta alam kekayaan yang amat menggiurkan, sehingga banyak orang menjulukinya sebagai  tanah yang memiliki keindahan yang mempesona. Tanah Mapia sendiri terdapat beberapa distrik dan dusun. Kehidupanya sangat bergantung pada hutan dan kekayaan alam.

Dalam seluruh kehidupan bersama, nilai-nilai universal, seperti cinta kasih, persahabatan, persaudaraan, keadilan, perdamaiaan dan kejujuran selalu menjadi warna dari seluruh dinamika kehidupannya. Ringkasnya orang Mapia di tanah Mapia sendiri hidup dalam penuh kasih dan persaudaraan. Di sana ada kerukunan dan kedamaiaan yang tercipta dan terpelihara. Walupun realitas kehidupan orang Mapia di tanah Mapia yang cukup menjanjikan harapan hidup yang demikian, tetapi sangatlah disayangkan dengan melihat adanya satu fenomena menarik yang sudah dan sedang terjadi di tanah Mapia, yakni kehadiran dari PT. Dewa di tanah Mapia, tepatnya di Bukabado yang telah memberikan dampak negative bagi kehidupan masyarakat di Mapia.

Sekilas Mengenai PT.Dewa

PT Dewa adalah salah satu perusahaan milik penguasa yang terbesar di tanah Mapia. PT ini sudah dan sedang mengolah tanah kekayaan alam yang terdapat di tanah Mapia-Bukabado yang terletak di pinggir sungai Mapia. PT ini didirikan sekitar tahun (2008-2009). Ia (PT.Dewa) sudah lama menetap dan telah memberikan dampak buruk bagi kehidupan orang Mapia di tanah Mapia,

Dampak Negatif dari Kehadiran PT.Dewa bagi Kehidupan Orang Mapia di tanah Mapia

Merusak kerukunan hidup. Artinya bahwa yang tadinya orang Mapia hidup di dalam bingkai persaudaraan, persatuan, penuh damai dan rasa kenyamanan serta ketentraman yang kuat, kini terkesan bahwa dengan hadirnya PT.Dewa di atas tanah Mapia telah menghancurkan lingkaran dan betis kehidupan yang sebenarnya sudah ada, terjaga dan terpelihara sejak dahulu hingga kini di atas tanah Mapia. Saya pernah mendengar bahwa ada pertikaiaan dan perselisihan yang sudah dan sering terjadi karena sengketa tanah antara pemilik hak ulayat yang tidak jelas. Ini satu contoh dan bukti yang sudah dan sering terjadi. Dan ini merupakan tanda dan buktinya merusak betis kehidupan orang Mapia di tanah Mapia yang sebenarnya tidak boleh terjadi di tanah leluhur orang Mapia.

Dampak negatif lainya, ilah bahwa kehadiran PT.Dewa juga merusak merusak tanah, alam, hutan dan seluruh kekayaan sumber daya alam di tanah orang Mapia. Dari realitas kehidupan orang Mapia sejak dahulu hingga kini orang Papua pada umumnya dan orang Mapia di tanah Mapia hidupnya sangat bergantung pada hasil tanah, hutan beserta seluruh sumber kekayaan alam yang ada di tanah Mapia. Satu contoh bahwa dengan kehadiran PT ini, Ia telah mencemari kali Mapia yang satu-satunya kali terbesar dan menjadi sumber utama kehidupa orang Mapia di tanah Mapia.

Dengan pencemaran ini, Ia telah mematikan kekayaan alam yang terdapat di dalam sungai, seperti Doge (Katak), Tobaa (Beruduk), Agaii (Ikan) dan sejenis makanan lannya yang terdapat di dalam kali Mapia. Tidak hanya itu, pencemaran lainnya juga dalah debu dan asap solar juga menjadi faktor utama penyebab pencemaran terhadap kebun-kebun, rumah dan bahkan hutan rimba yang terdapat di tanah Mapia. Debu dan asap solar bisa mengundang sakit pada tubuh manusa Mapiha saat ini.

Terkhusus untuk pemilik hak ulayat yang telah memberikan lokasi ini. Sebenarnya, pemilik hak ulayat (Maki Ipuwe) sendiri telah memiskinkan diri dan anak cucunya di atas tanah Mapia. Ia tidak memikirkan nasib hidup bagi diri, keluarga, dan kelennya serta anak cucuknya untuk saat ini dan di masa yang akan datang. Ingat bagi orang Papua pada umumnya dan kita orang Mapia di tanah Mapia pada khususnya tanah adalah Mama. Artinya bahwa segala sesuatu kita sangat bergantung pada tanah, sumber daya alam, hutan, dan lainya. Oleh karena itu, kehilangan tanah, alam, dan hutan, sama halnya dengan kehilangan kehidupan di atas tanah Mapia. Jangan jual tanah, jangan merusak kekayaan alam, jangan menebang pohon secara sembarangan, tetapi satu hal yang saya ingin pesan dan sampaikan ilah stop jual tanah, dan jagalah duniamu dengan baik, agar anda dan saya tetap terjaga dan terpelihara di atas tanah tota Mapia.

Akhirnya bahwa hanya dengan menjaga dan melestarikan hutan, alam, beserta seluruh kekayaan alam di tanah Mapia sajalah yang dapat/bisa memberikan kehidupan yang harmoni (Damai, Nyaman, dan penuh kedamiaan di atas tanah tota Mapiha) di tanah Mapia. Ingat jangan menjual tanah, tetapi mengutamakan olah tanah. Dan untuk pemilik hak ulayat, segera tutup PT. Dewa, karena PT. ini telah memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan orang Mapia di tanah Mapia. Pemilik hak ulayat, ingat jangan berpikir nasih hidup sendiri.

Semoga!

*)Penulis adalah Pelajar SMK Negeri 3 Jayapura, Papua.