Home Artikel/Opini OAP Menghidupi Kapitalisme Sampai Pada Tahap Imperialisme

OAP Menghidupi Kapitalisme Sampai Pada Tahap Imperialisme

186

Oleh: Ningdana.O

 

Pengantar

       Orang Asli Papua (OAP) saat ini ialah orang-orang yang telah dininabobokan oleh Orang Asing menggunakan barang dagang importir milik mereka. Tidak bisa di sangkal bahwa, dewasa ini OAP telah mendukung pengembangan modal Orang Asing dengan menjadi para konsumen barang dagangan impor. Bagaimana tidak, makanan pokok saja sebagian OAP telah jadikan makanan tambahan (cemilan), terutama mereka yang lahir besar Ibu Kota Provinsi dan Kabupaten. Dari fenomena inilah yang menjadikan Orang Asing sebagai tuan di Tanah Papua dan memperbudak OAP selaku pemilik hak ulayat atas Tanah Papua. Dengan menjadi budak dan tergantung pada barang dagangan Orang Asing inilah yang sekaligus menjadikan Orang Asli Papua sebagai pelaku perpanjangan rantai penindasan terhadap Rakyat dan Bangsa Papua yang adalah bangsanya OAP sendiri. Dalam artikel ini penulis mencoba mempersempit area penyebutan Orang Asing  yang lebih spesifik sebagai Kapitalis. Karena kapitalis  merupakan pemilik dan pelaku perluasan pasar barang dagang yang telah meninabobokan Orang Asli Papua untuk bermental konsumtif terhadap barang instan (impor) yang tidak membutuhkan kerja keras untuk menyambung kehidupan OAP. Secara umum, jika  menggunakan bahasa sederhana, kapitals ialah orang yang hidup dari kerja keras serta kerja cerdas orang lain.  Berdasarkan fenomena sosial-ekonomi yang diutarakan di atas maka penulis mencoba mendeskripsikan Orang Asli Papua yang menghidupi kapitalis sampai pada tahap tertinggi yaitu Imperialisme.

Dukungan OAP Terhadap Kapitalisme Menuju Imperialisme

Pada esensinya kapitalis ialah orang-orang yang  hidup dari kerja orang lain dan identik dengan persaingan bebas sebagai bisnis kapitalisme. Persaingan bebas ini muncul karena banyaknya jumlah barang yang diproduksi secara bersamaan oleh dua atau lebih perusahaaan milik kapitalis yang berbeda. Oleh karena sengitnya persaingan, kapitalis berupaya untuk memperluas wilayah pemasaran guna melancarkan proses perdagangan untuk meraup profit. Jika tidak melakukan perluasan wilayah pemasaran dengan membiarkan persaingan terus berlangsung tanpa memindahkan jumlah barang yang makin meningkat ke daerah lain. Maka harga barang tersebut akan mengalami penurunan yang sangat drastis dan mengakibatkan harga tersebut menjadi tidak laku dalam penjualan barang dagang. Menukik tentang proses kerja dan pemindahan barang dagang yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Karl Kautsky pernah mengeksplanasikan bahwa “ kaum kapitalis secara esensial adalah pedagang-pedagang kebanyakan (ordinary merchants) sekaligus produsen. Ia tidak hanya memindahkan barang-barang buatan produsen yang tidak laku di suatu tempat ke tempat lain dimana para pembeli sangat membutuhkan barang tersebut, namun karena ia melihat keuntungan hasil perdagangan yang tinggi, ia berusaha untuk membuat barang tersebut”(Krsena, Arya 2018: Hal 54).

            Sadar atau tidak sadar, kita (OAP) secara umum dan khususnya  kita di daerah pedalaman adalah pengguna barang produsen yang tidak laku terjual di daerah maju. Contohnya pakaian yang cepat robek atau jangka waktu penggunaan yang sangat singkat di perdagangkan oleh para pedagang merupakan pakaian yang tidak laku terjual di kota-kota metropolitan atau dari para kapitalis yang memproduksi pakaian melalui tenaga buruh. Perdagangan barang produsen yang tidak laku terjual dilakukan dengan  harga yang disepakati oleh kartel-kartel para kapitalis guna meraup profit sesuai target yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Persaingan bebas yang membuat OAP menjadi pengguna barang produsen yang tidak layak pakai inilah yang membawa para kapitalis pada tahap yang paling tinggi. Pencapaian ini tidak terlepas dari kerja keras para buruh yang mengorbankan tenaga untuk meningkatkan nilai produksi di bawah tekanan dan kontrol para kapitalis. Lebih jauh dari  persaingan yang di utaran diatas, kaum kapitalis telah bertransformasi dari persaingan bebas menjadi kerja sama untuk memonopoli perusahaan kecil yang ditebarkan di berbagai daerah yang belum maju dari aspek produksi, lebih khusus aspek Ekonomi. Hal ini untuk melakukan perdagangan yang saling menguntungkan seperti yang di nyatakan lenin dengan membantah pendapat Kautsky yang salah menginterpretasikan buah pikiran Karl Marx mengenai tahap kebangkrutan kapitalisme akibat persaingan bebas antar kaum kapitalis. Menurut Lenin bahwa,“monopoli menggantikan prinsip persaingan bebas menjadi ‘kerja sama’ saling menguntungkan antar kaum kapitalis, karena setelah melakukan merger (penggabungan) dan mendirikan perusahaan baru berskala besar, mendirikan kartel dan melaksanakan monopoli, kaum kapitalis mampu mengatur segala hal yang tadinya berada diluar kemampuanya” (Krsena, Arya 2018: Hal 73).

Dalam proses kerja sama yang dilakukan untuk memperluas pasar perdagangan para kapitalis yang sudah mencapai tahap tertingginya yaitu imperialisme atas bantuan buruh dan pengguna barang produsen termasuk OAP, Ia melakukan  kolonialisme dengan mencari daerah tak berpemerintahan. Dalam konteks Papua, kolonial Indonesia telah memperluas teritori Papua sebagai daerah kekuasaannya secara paksa untuk melakukan perluasan pasar bagi kapitalis regional dan internasional. Aneksasi tersebut di tulis dengan jelas dalam buku sejarah bahwa” pada tanggal 1 Mei 1963 adalah sejarah kemenangan bagi Bangsa Indonesia. Sementara bagi Orang Papua adalah awal malapetaka”. (Yoman, Socrates Sofyan 2007: Hal79). Atas bantuan kolonialisme Indonesia yang adalah anak kandungnya kaum kapitalis melakukan program pemekaran sebagai upaya perluasan wilayah pasar dan  transmigrasi sebagai pengiriman pedagang guna membantu melakukan proses perdagangan barang produsen tidak layak terjual.

            Sebagai orang yang sadar akan fenomena ini, kita (OAP) sudah saatnya untuk membangun kesadaran akan kinerja kapitalis yang dibantu kolonial Indonesia. Untuk memulainya kita harus sadar dan membangun kesadaran kepada sanak saudara kita untuk mengurangi bahkan tidak menjadi konsumtif terhadap barang dagangan yang tidak terlalu urgen terutama dari kualitasnya  yang tidak menunjukan layak pakai. Dari sisi pangan, kita harus kembali menghidupkan dan mengonsumsi bahan pangan lokal sebagi bentuk penolakan kehadiran kapitalisme dan mendorong Agenda Komite Nasional Papua Barat  (KNPB) menuju Mogok Sipil Nasional (MSN). Sesuai dengan “keputusan pada kongres II KNPB yang menyatakan bahwa MSN sebagai agenda sentral untuk menciptakan referendum di Papua”.Hal tersebut disampaikan oleh Ketua I KNPB Pusat, Warpo Sampari Wetipo kepada SuaraPapua.com, senin(18/11/2019) di Jayapura. Karena, dengan kita menjadi konsumtif terhadap bahan makanan impor, disitulah kita membantu menghidupkan kaum kapitalis.

REFERENSI

Kresna, Arya 2018. Revolusi: Marxisme Ortodox Vs Komunisme. Yogyakarta: Lintas Nalar

Yoman, Socratez Sofyan 2007. Pemusnahan Etnis Melanesia. Jayapura: Cendrawasih Press

Www. suarapapau.com. Dia Akses senin(18/11/2019)

*Penulis Adalah Aktivis Kemanusiaan Dan Anggota Aplim-Apom Research Group (AARG)