Home Artikel/Opini Nyanyian Mambesak yang Dilupakan di Masa Kini

Nyanyian Mambesak yang Dilupakan di Masa Kini

890

Mengenang Pemusik Perjuangan Papua Merdeka yang sudah Tiada sebagai yang ada

Secerca Refleksi

Oleh: Sebedeus Mote

Menangis dan menangis, air mata yang berlumuran darah terus dialami oleh rakyat West Papua. Nyanyian hidup mambesak pun semakin dilupakan. Ketika nyanyian itu dilupakan, persekutuan sebagai satu bangsa Melanesia pun terus merosot. Ketika orang muda Papua mulai melupakan nyanyian perjuangan demi kebebasan umat manusia, yang hilang bersama dengan waktu. Sehingga, yang ada dibenakku hanya tangisan derita melalui kelemahan dan kelembutan hidup. Biasanya penyanyi dikenal dengan “orang yang bernyanyi sambil berdoa”. Orang Papua mesti hidup dengan nyanyian budayanya, yang sudah ada. Nyanyian juga merupakan ungkapan jiwa yang mengalami dan menyalami identitas jiwa. Sebab, setiap nyanyian yang dinyanyikan seirama dengan tari-tarian budaya itu sendiri. maka itu, tidak dapat disangkal bahwasannya, nyanyian perjuangan ini dihadirkan sebagai bentuk hidup bangsa.

Arnold Ap (1 Juli 1945 – 26 April 1984) adalah budayawan, antropolog, dan musisi Papua Barat. Arnold merupakan ketua grup Mambesak dan kurator Museum Universitas Cenderawasih. Ia juga memperkenalkan budaya Papua dalam acara radio mingguan yang diasuhnya. Studi dan pementasan budaya dan musik Papua oleh Ap dipandang oleh banyak pihak sebagai tantangan terhadap upaya pemerintah Indonesia yang menggerus nasionalisme dan identitas Papua. Pada waktu kematian Ap, pemerintah sedang berusaha keras menyatukan rakyat Indonesia di bawah pengaruh budaya Jawa. Pada bulan November 1983, ia ditangkap oleh pasukan khusus militer Indonesia, Kopassus, lalu dipenjara dan disiksa atas dugaan menjadi simpatisan Organisasi Papua Merdeka meski pada akhirnya tidak ada tuduhan yang ditetapkan. Pada April 1984, ia tewas akibat tembakan senjata api di punggungnya. Kesaksian resmi mengklaim ia berusaha kabur dari penjara. Banyak pendukungnya percaya bahwa Ap dieksekusi oleh Kopassus. Musisi lain bernama Eddie Mofu juga tewas.

Mambesak merupakan Grup Musik Papua yang sempat dinakodai oleh Bapak Arnold AP bersama teman-temannya. Mereka pernah melalui puncak-puncak keemasannya sebagai Grup Musik Lokal yang menada di Bumi Cenderawasih. Sebagai Orang Papua sendiri, tentu ada rasa sedih dan juga serasa diajak masuk dalam suasana batiniah yang menghidupkan kemanusiaan itu sendiri. Sebab, alunan irama dalam setiap birama nada yang menggerogoti jiwa, sudah tidak dimaknai lagi sebagaimana mestinya. Mambesak sudah terasa tawar di masa kini, alunan suara mambesak hilang bersama jalannya waktu. Pada masa-masa itu mereka berada dalam tekanan gejolak batin. Gejolak yang tak terperikan lagi, ketika Grup Mambesak menggemakan suara penderitaan Orang Asli Papua. Kegelisaan panjang menghimpit Arnold AP, sebab lagu-lagunya yang memberitahukan situasi sosial masyarakat Papua di dalam duka derita kemanusiaan. Oleh karenanya, iapun meninggal oleh tangan kotor aparat.

Grup Mambesak sungguh mempersatukan orang papua melalui lagu-lagunya. Persatuan menuju kemerdekaan, namun kini pudar dirosoti oleh musik modern. Musik yang banyak dinuansai oleh anak muda dengan tidak memperhatikan esensi jiwa dari musik itu sendiri. Kita tidak bisa hidup dalam budaya kita sendiri, sebab corak budaya modern begitu mempengaruhi kebudayaan lokal. Namun, Melalui Grup Mambesak bangsa Papua yang ada dan lahir dari persekuatan manusia Papua. Tentu persekutuan hidup yang mengedepankan kebersamaan hidup, yang hendak memperlihatkan kelemahan dan kekalahan. Cerita satu budaya Papua,  di situ pula kita sudah hampir melupakan musik Mambesak sebagai satu persekutuan bangsa Melanesia. Ap menyuarakan kekhasan budaya Papua dalam grup Mambesak dan  tari-tarian budaya setempat. Sebagai Orang Asli Papua, semestinya kita mampu menghidupkan nyanyian budaya seperti Grup Mambesak, yang sungguh-sungguh mengalami kelumpuhan dan kemerosotan nilai budaya. Ap bersama teman-teman mempertahankan grup musik sebagai bentuk kecintaan akan kearifan lokal. Semakin kita menoleh ke belakang dan mulai mencintai grup musik lokal seperti mambesak, maka kita akan memahami perjuangan kebebasan yang sesungguhnya. Terlintas, di manakah letak kemanusian sebagai manusia sejati yang dapat memaknai budaya?

Dari Pantai selatan sampai utara, barat sampai timur, suara mambesak hampir tidak terdengar lagi. Sehingga, adakah secerca suara yang timbul dari sana? Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, kita dihadapkan untuk menikmati kearifan lokal, “kalau ko OAP, ko dengar saja, sungguh sedih nyanyiannya hanya ko dengar di rekaman saja. Tidak bisa ciptakan, cipta dari jantung sudahlah hilang dengan waktu.” Generasi masa kini terlarut dalam modern. Proses gaya hidup dalam nyanyian yang  dulu sepertinya sudah dilumpuhkan, sehingga persekuatuan pun hancur, hancurlah bersama pemusik sejati yang menarikan keanggunan nada. Sungguh sedih, semua orang ingin mengumandangkan nyanyian tempo dulu, tetapi ada pembatasan yang menjadi hakim untuk mengadili, mengadili nada yang lahir dari realitas, harapanpun menjadi sirna, rasanya itulah kenyataan saat ini.  Apakah ini menjawab realitas hidup manusia Papua saat ini?

Rupanya melalui lagu kita sedang mengikat keaslian budaya dan dari situlah Mambesak hidup sampai hari ini. Sebenarnya, nyanyian menjadi sarana urgen untuk mengangkat martabat manusia yang luhur dan sekaligus memperkenalkan martabat manusia Papua sebagai masyarakat Melanesia, rambut kriting dan kulit hitam. Ketika nyanyian yang adalah ungkapan jiwa dengan nada yang dinyanyikan dan dilagukan melalui alunan ke-Allah-an yang hidup secara transenden hadir dan membumi. Generasi kita Papua hari ini, pembuat masalah persekutuan musik grup Mambesak yang melantun di Melanesia antara barat, timur, utara dan selatan.

Mambesak hadir dengan porsi mapan di atas panggung untuk memberikan hasil musik yang diukur dengan kebijaksanaanya. Sesampainya di bukit, ada rasa bahagia yang dalam di surga sebelum ke surga, yang hidupnya berkepanjangan yakni hidup dalam keabadian. Air mata darah belum menampakkan bentuk diam, suara masih terdengar nyaring. Orang Asli Papua belum melihat dirinya yang bernyanyi. Tetapi, justru melihat di mata yang mengerdilkan musik Melanesia, sungguh ngeri dan rancuh rasanya. Kengeriannya terlihat dengan pengadobsian musik  yang amat menyayangkan, sehingga ada kebangkitan yang lahir dari dalam dengan “berpikir dan berpikir”.

Sungguh, kata-kata baru terberikan padanya musik dengan lirik yang tajam. Dengan apakah dapat diumpamakan lirik-lirik ini, persekutuan pun rusak seirama dengan lirik pun dinodai dengan kesempatan yang dinodai, kepuraan-puraan pun terjadi dalam pengungkapan setiap nada yang terlalu jauh dari identitas West Papua. Pembungkaman nyanyian budaya, terus dibatasi oleh sistem program yang lengkap, manja pun terjadi, apakah dengan ini persekutuan sebagai satu bangsa melanesia yang hidup? Masa kini terlalu dungu dan sudah merdeka dengan misi program yang lengkap. Kenyataan pun terjadi yakni membalas keburukan dengan keburukan antar wilayah. Hal yang sebenarnya tidak masuk di akal, sebab bagi pemusik hal demikian merupakan hal yang masuk di akal. Adapun, serasa terperangkap di dalam suasana rancuh. Sungguh itu, misi yang bagus, namun membongkar persekutuan sebagai keluarga Melanesia, dan kata dalam kalimat terus muncul sebagai pertanyaan, apakah dengan ini kita bisa merdeka?. Ketika manusia itu berada pada sikap instan (easy going), langsung siap saji, lupakanlah impian menjadi seorang pekerja keras untuk menghidupkan nyanyian dalam budaya.

Sulit dan benar sulit untuk menemukan budaya musik tradisional Melanesia seperti Mambesak di masa kini. Sebab, Laptop dan Handphone serta alat elektronik lainnya menjadi tuan atas jiwa sejati itu sendiri. Permenungan yang merenungkan nyanyian modern dengan berdoa yang penuh harapan untuk merdeka. Musik modern terlihat di acara goyang, walaupun liriknya sakral, yang seharusnya merenungkan di bukit, di pantai atau di gunung renungkan dalam acara senang-senang. Letak rusaknya persekutuan ada di situ. Nampaknya anak muda, masa kini sudah tidak terlihat dan hampir hilang dalam situasi sesat yang menjauhi harapan kemerdekaan sebagai satu bangsa Melanesia. setiap gereja di seluruh Tanah Papua mulai tidak terlihat lagi.

Keinginan untuk menjadikan semua bangsa (One People One Soul) dalam satu bangsa yakni bangsa Melanesia. Namun harapan hanyalah harapan. Harapan kemerdekaan kebebasan untuk hidup, hanyalah suatu misteri. Apakah manusia Papua mati dibunuh dalam bingkai NKRI?. Aneh tapi nyata itulah realitas musik terkini di West Papua. Apakah Papua Merdeka itu suatu misteri? Kita belum tahu pasti tahun kapan kita dapat bebas dari kolonial Indonesia, tetapi marilah kita bernyanyi dan bernyanyilah untuk terus menantikan kemerdekaan kita yang sesungguhnya.

Penulis adalah Mahasiswa STFT-Fajar Timur, Abepura-Papua