Home Artikel/Opini Nilai Maskawin Suku Ngalum Ok di Pegunungan Bintang Mulai Terdegradasi

Nilai Maskawin Suku Ngalum Ok di Pegunungan Bintang Mulai Terdegradasi

346

Oleh: Jekson Kasipmabin*

Maskawin adalah suatu simbol penting dalam sebuah pernikahan (perkawinan). Maskawin merupakan harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan pada saat prosesi pernikahan (perkawinan). Maskawin sebutan dalam bahasa suku Ngalum Ok adalah kor sil dapat dimaknai sebagai bentuk balas budi yang diberikan kepada orang tua mempelai istri yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan anaknya oleh mempelai suami yang hendak melamar dan menikahinya. Kor sil ini amat berperan penting dalam pernikahan masyarakat suku Ngalum Ok. Masyarakat suku Ngalum Ok memahami bahwa kor sil adalah jaminan bagi perkawinan suami-istri, dalam hal ini berkenaan dengan hak-hak yang dimiliki dan dikenakan padanya.

Kor sil juga merupakan salah satu unsur (simbol) yang sering dipraktikan oleh masyarakat suku Ngalum Ok ketika mengadakan prosesi pernikahan. Kor sil adalah sesuatu yang harus ada dalam sebuah pernikahan masyarakat suku Ngalum Ok. Sebab pernikahan dengan menggunakan kor sil memiliki dan mengandung nilai tersendiri. Bentuk perkawinan dengan menggunakan kor sil di dalam masyarakat adat suku Ngalum Ok dilakukan dengan mengikuti tata cara yang telah berlaku dan diwariskan secara turun-temurun. Tata caranya yaitu dengan memberikan beberapa simbol yang telah ditetapkan jenisnya dan harus mengikuti beberapa tahapan ritual/prosesi adat. Teori yang digunakan dalam proses interpretasi kor sil ini ialah teori interaksi simbolik, yang digunakan karena kecenderungan perilaku atas pemaknaannya terhadap suatu simbol tertentu yang diminta oleh pihak mempelai perempuan (wanangkur kakaya) kepada pihak mempelai laki-laki (kakaki kakaya).

Syarat Pernikahan dan Pemberian Kor Sil Suku Ngalum Ok

Kor sil merupakan simbol yang amat berperanan penting dalam tradisi upacara pernikahan adat suku Ngalum Ok. Dalam pemilihan jodoh hingga upacara (ritual) pemberian kor sil masyarakat suku Ngalum Ok memiliki persyaratan-persyaratan yang harus terpenuhi. Ada pun syarat yang harus terpenuhi oleh mempelai laki-laki melalui orang tuanya sebelum melamar ke pihak mempelai perempuan antara lain: dilihat dari pola hidup keseharian si laki-laki, matang dalam cara berpikir dan bertindak, mantap dalam pergaulan kehidupan keluarga, telah diinisiasi adat secara baik dan benar, dan dinyatakan sudah dewasa, cakap dan siap untuk membangun sebuah keluarga.

Kalau beberapa syarat yang telah disebutkan di atas terpenuhi, maka selanjutnya orang tua dari pihak mempelai laki-laki akan mengambil inisiatif untuk melamar (noron) ke pihak mempelai perempuan dengan menggunakan simbol-simbol tertentu (kata kiasan), yaitu “noken ini menarik perhatian saya”(men peka ne yepserarki) dan sejenis barang lainnya. Setelah itu, pihak mempelai perempuan akan mendengar baik ungkapan yang disampaikan itu. Lalu pihak mempelai perempuan akan berkumpul bersama guna menerjemahkan ungkapan tersebut. Ketika mufakat bersama dan menyetujuinya, langkah selanjutnya ialah direncanakan untuk mengadakan persiapan ritual adat untuk peminagan. Prosesi ritual ini diadakan di dalam rumah. Tahap pemberian kor sil (maskawin) akan dijelaskan lebih lanjut.

Tahap Pembayaran (Pemberian) Kor Sil

Pembayaran kor sil dalam ritual adat suku Ngalum Ok terdiri dari empat tahap. Pertama, makan bersama (tangbolmum), yang artinya ritual adat makan bersama kedua bela pihak (mempelai laki-laki dan perempuan). Ritual adat ini dilakukan di rumahnya mempelai laki-laki. Simbol yang digunakan dalam ritual makan bersama ini adalah berupa keladi bakar (om midonki) dengan sepotong daging babi yang sudah masak (kang uperonki).

Prosesnya adalah sebelum memulai upacara ritual adat pihak mempelai perempuan yang datang tidak diijinkan untuk masuk ke dalam rumah sebelum pihak laki-laki menyiapkan bagian-bagian penting yang perlu disediakan. Setelah selesai barulah pihak mempelai perempuan dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah guna mengikuti sesi makan bersama.Yang wajib masuk ke dalam rumah yaitu hanya ayah dan ibu (olki okur) dengan paman (mapolki) dari pihak mempelai perempuan. Ketika pihak mempelai perempuan masuk ke rumah dan sebelum duduk di tempat yang disediakan diawali dengan menggantungkan noken diatas kepala (men dakan abol diren sipnon). Prosesi menggantungkan noken (men) ini sebagai tanda bahwa acara ritul tersebut sudah dimulai. Setelah selesai ritual pihak mempelai perempuan akan meningglkan rumah mempelai laki-laki. Bentuk ritual adat ini diadakan dalam rumah atau tempat tertutup (abib tilatan semon min).

Kedua, memberikan maskawin (kor sil) kepada pihak mempelai perempuan. Pengertian dari kor sil’adalah sama dengan tangbolmum pada penjelasan point pertama di atas, yaitu memberikan harta benda dalam bentuk simbolik melalui ritual adat kepada pihak perempuan (wanangkur kakaya) oleh pihak mempelai laki-laki. Pada tahap kedua ini terdapat perbedaan, yaitu harta benda berupa simbol yang diberikan. Harta benda dalam bentuk simbol yang diberikan adalah babi (kang), busur dan anak panah (ebon, arah), bulu cendrawasih (kulep abol), kampak batu (takol papi), noken (men), koteka (okbul), cawat (unom), taring babi (kang ningil), taring anjing (anon ningil), manik-manik (bitol, minimana) dan sebagainya. Harta benda dalam bentuk simbolik yang diberikan adalah sesuai kemampuan pihak laki-laki. Bentuk ritual ini diadakan di luar rumah atau di tempat terbuka(dum isop tan semonmin atauabibtilbon tan semonmin).

Ketiga, memberikan imbalan dari pihak mempelai perempuan (tabin) kepada pihak mempelai laki-laki. Tabin(imbalan) artinya pembalasan dari pihak mempelai perempuan terhadap pihak mempelai laki-laki berupa benda simbolik sesuai ritual adat yang berlaku. Pada proses ini pemberian imbalan sama seperti pemberian dari pihak mempelai laki-laki terhadap pihak mempelai perempuan. Namun, biasanya nilai imbalan (tabin) lebih rendah dari kor sil(maskawin). Misalnya kor sil(maskawin) berupa kampak batu (takol papi), babi perekor dan lain-lain. Sementara pada imbalan (tabin) berupa kaki babi (kang yon), sejumlah noken (men) dan beberapa bentuk simbol lainnya.

Keempat, tena sibi, proses ini dilakukan apa bila sang perempuan beranak cucu atau menambah generasi marga dari laki-laki, lalu pihak laki-laki memberikan sesuatu yang bernilai kepada keluarga perempuan. Selain itu sebagai sebuah penghargaan dan ucapan terima kasih dari pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan secara khusus maupun secara umum pada pihaknya.

Perbedaan Teknis Pemberian Kor Sil dalam Suku Ngalum Ok

Pemberian kor sil dalam masyarakat suku Ngalum Ok pada masa lalu, praktek pemberiannya berlaku seperti empat tahap yang dijelaskan di atas. Teknis penyerahan atau pemberian kor sil kepada pihak mempelai perempuan dengan menggunakan ritus adat adalah sebagai hak penentuan nilai seorang perempuan dari segi perkawinan adat dan skaligus mengangkat harkat dan martabatnya sebagai perempuan dalam kebudayaan suku Ngalum Ok.

Pemberian kor sil di masa kini berbanding terbalik dengan praktek pemberiannya pada masa lalu. Di masa kini pemberiannya sesuai dengan keinginan atau permintaan pihak mempelai perempuan (wamangkur kakaya). Dalam hal ini tidak terwujud atau terjawab sesuai permintaan oleh pihak mempelai laki-laki (kakaki) sebagai pemikul beban (kor sil diparon) yang diembankannya. Dengan demikian, dalam hal ini hasil kesepakatan kedua belah pihak (dari pihak mempelai laki-laki atau perempuan) tidak berlaku. Pemberian kor sil di masa kini teknis pemberiaan dalam bentuk penggunaan simbol kultur seperti babi (kang), busur dan anak panah (ebon, arah), bulu cendrawasih (kulep abol) dan lain-lain semua diukur dengan nilai uang atau diuangkan. Dengan diterapkan pemberian kor sil dalam bentuk uang ini sebenarnya sedang mendegradasikan (menghilangkan) kebiasaan pemberian kor sildengan mengggunakan simbol-simbol kultural masyarakat suku Ngalum Ok.

Sebenarnya nilai tentang penumpukan modal atau kekayaan di masyarakat suku Ngalum Ok lebih bersifat sosial dan bukan ekonomi atau fungsional. Artinya, masyarakat suku Ngalum Ok dituntut atau terdorong untuk mengumpulkan kekayaan bukan dalam rangka agar kekayaan tersebut dapat membantu mengembangkan nilai kehidupan sebenarnya, melainkan bahwa kekayaan akan memberikan status sosial di masyarakat untuk upacara perkawinan, ritual adat, atau untuk menyelesaikan persoalan-persoalan adat. Oleh karena itu, nilai kekayaan bagi suku NgalumOk sekarang tidak mengarah ke nilai dan simbol ritual yang pernah diterapkan oleh nenek moyang yang seharusnya dipertahankan. Namun yang dipraktekan sekarang adalah uang sebagai ukuran dalam suatu pernikahan. Bahkan pernikahan dan perkawinan pun tidak sesuai mekanisme sebenarnya pada masa lalu. Ketidaktaatan ritual budaya seperti ini sebenarya mengakibatkan nilai perkawinan runtuh atau mulai terdegradasi.

Berikut adalah beberapa saran penulis yang perlu diperhatikan. Pertama, kepada masyarakat adat suku Ngalum Ok agar kembalikan tradisi pembayaran mas kawin (kor sil) yang dipraktikan nenek moyang dulu dalam Ap Iwol (rumah adat) masing-masing klen. Tindakan ini akan mengembalikan tradisi adat yang pernah diterapkan masyarakat adat suku Ngalum Ok. Kedua, masyarakat suku Ngalum Ok segera merubah paradigma berpikir saat ini guna menerapkan polah hidup yang sebenarnya. Ketiga, demi menerapkan pola hidup yang sebenarnya, penulis mengharapkan semua tokoh masyarakat bersatu sehati, kembali menerapkan seutuhnya pola hidup budaya Ngalum Ok.  Dalam hal ini dibutuhkan pihak-pihak lain seperti gereja dan pemerintah yang saat ini berafiliasi di wilayah masyarakat suku Ngalum Ok (Pegunungan Bintang) agar memperhatikan dan mendukunng praktik pernikahan dan pemberian maskawin yang berlaku dalam kebudayaan suku Ngalum Ok.

*Penulis: Jekson Kasipmabin, mahasiswa USTJ, Jurusan Teknik Sipil

Editor: O.B Uropmabin