Home Artikel/Opini Narkoba Mengancam Kehidupan Manusia Aplim Apom Di Pegunungan Bintang

Narkoba Mengancam Kehidupan Manusia Aplim Apom Di Pegunungan Bintang

86

Oleh: Amokdakan M. Tapyor*

Narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan obat terlarang. Selain narkoba istilah lain yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik ‘narkoba’ maupun ‘napza’ mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki resiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu di salahartikan akibat pemakaian di luar pembentukan dan dosis yang semestinya.

Peredaran dan penyalahgunaan narkoba merupakan gejala sosial yang sudah menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia di dunia. Dalam perkembagannya penyebaran narkoba tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Di Papua persoalan tentang narkoba menjadi satu perhatian tersendiri. Bila merujuk ke wilayah yang baru dimekarkan menjadi kabupaten di Papua, misalnya di Kabupaten Pegunungan Bintang peredaran dan penyalahgunaan narkoba (jenis ganja) menjadi masalah sosial yang mengancam kehidupan masyarakat. Situasi saat ini, penyalahgunaan narkoba (ganja) di Pegunungan Bintang menyebar hampir ke seluruh distrik. Kenyataan di lapangan saat ini, dengan adanya narkoba (ganja) memunculkan banyak  penyakit sosial tumbuh subur. Akibatnya, masyarakat mengalami krisis dalam bidang-bidang vital seperti sosial budaya, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan bidang lainnya.

Penggunaan atau pemakaian narkoba menjadi salah satu masalah besar dan perlu adanya penanganan sesegera mungkin dilakukan. Tindakan ini demi menyelamatkan masyarakat pada umumnya dan generasi Aplim Apom di Pegunungan Bintang pada khususnya. Karena, memang untuk sampai dengan saat  ini belum ada penanganan yang secara intensif dilakukan dan juga belum tersedia dan memadainya sarana dan prasarana untuk mengatasi penyakit sosial ini. Melihat situasi seperti ini maka penting membangun kesadaran diri dari masyarakat terkait hal ini. Memiliki kesadaran diri merupakan satu alternatif untuk menjauhkan diri dari penyakit sosial yang menggancam kehidupan. Melalui hasil pengamatan penulis, bahwasanya masyarakat di Pegunungan Bintang saat ini tidak semuanya memiliki kesadaran akan ancaman karena narkoba jenis ganja yang menyebar dan ada di depan mata. Penulis memperhatikan juga bahwa beberapa tahun ke depan daerah ini akan ditelan oleh bahaya narkoba terutama adanya mengonsumsi dan memproduksi Ganja yang marak terdapat di hampir seluruh distrik yang ada di Pegunungan Bintang.

Penulis melihat bahwa pemakai dan pengguna narkoba jenis ganja di Pegunungan Bintang bukan saja hanya remaja, tetapi ada pula orang dewasa seperti bapak ibu (pasustri) yang notabenenya pernah bersekolah sampai jenjang pendidikan sarjana dan sederajat. Masyarakat yang masuk dalam kategori konsumen sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu, sehingga mereka tidak lagi menuruti apa yang disosialisasikan oleh beberapa pihak, yaitu pihak keamanan, badan narkotika nasional (BNN) dan pihak lain yang memberi kepedulian    untuk    menangani    penyakit    sosial    ini.    Dampak    negatif     dari     konsumsi narkoba ini banyak terjadi konfilik di dalam rumah tangga  dan  juga  masyarakat  umum  sehingga pekerjaan yang seharusnya dilakukan selalu dilalaikan. Akibat lain adalah terjadi pembunuhan, pencurian, perampokan, pengrusakan fasilitas umum dan juga mengganggu kenyamanan masyarakat.

Mengkunsumsi narkoba juga merembes hingga menimbulkan persoalan dalam pasangan suami istri yang berumah tangga akibatnya suami atau istri seringkali tidak menjaga kesucian perkawinannya sehingga mereka harus memilih melakukan tindakan amoral dengan cara menggotak-ganti pasangan. Serta ada pula yang iri hati dengan kedudukan dalam hal jabatan akhirnya menggunakan ilmu hitam atau (bit/bis) untuk membunuh orang lain. Seharusnya banyak persoalan yang mengangkat pada kesempatan ini, namun penulis hanya mau membatasi diri pada beberapa hal di atas karena hadirnya narkoba jenis ‘ganja’ di Pegunungan Bintang. Sebab dampaknya sangat berpengaruh pada masyarkat dan terutama generasi Alim Apom yang belum bisa terkontrol dengan baik untuk saat ini.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan para produsen dan konsumen yang melakukan transaksi bisnis narkoba jenis ganja di wilayah Pegunungan Bintang agar segera berhenti karena narkoba bukan budaya masyarakat Pegunungan Bintang. Selain itu, tujuan lain adalah mau mengingatkan kepada para generasi Aplim Apom, bahwa mengonsumsi ganja bukan budaya  masyarakat Aplim Apom di Pegunungan Bintang. Mengkonsumsi narkoba (ganja) merupakan budaya orang lain. Hal ini bukan juga warisan leluhur masyarakat Aplim Apom. Oleh sebab itu, sebaiknya mengikuti dan mempelajari budaya dan memegang warisan, ajaran, serta nasehat orang tua daripada melakukan hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Budaya (adat istiadat) masyarakat Aplim Apom di Pegunungan Bintang yang diwariskan oleh leluhur kepada generasi saat ini adalah bertani, beternak babi, menanam rokok tembakau asli untuk dikonsumsi bukan rokok jenis ganja.

Untuk menyikapi persoalan sosial yang diutarakan di atas, maka berikut adalah beberapa solusi yang penulis tawarkan agar diperhatikan secara saksama: Pertama, pemerintah dan para tokoh-tokoh adat agar bersama-sama menyelesaikan praktek narkoba ini demi nasib dan kehidupan masyarakat dan generasi Aplim Apom di Pegunungan Bintang. Kedua, perlu meningkatkan kerja sama antara semua pihak dalam hal ini pemerintah daerah, pihak keamanan (TNI dan POLRI) dan juga masyarakat agar bersama-sama memutuskan mata rantai penyebaran narkoba yang sedang menyebar di Pegunungan Bintang. Ketiga, penting adanya kesadaran diri dari masyarakat, konsumen dan pihak distributor untuk menghindari penyakit sosial yang mengancam kehidupan.

Sebaiknya, kita mencintai diri dan menjaga kesehatan serta berguru pada orangtua sehingga membangun kesadaran untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan tubuh kita yang “suci” ini. Kalau kita mencintai tubuh kita, lebih baik tidak usah mengonsumsi ganja, karena ganja membutakan saraf dan juga kesehatan kita akan terganggu terutama mematikan cara berpikir kita yang baik. Maka, hiduplah dan cintailah tubuhmu!,

Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG) Editor: O.B Uropmabin