Home Artikel/Opini Merindukan Pemimpin yang Cerdas

Merindukan Pemimpin yang Cerdas

28

Oleh Silvie Ananda

Mohon kepada para pejabat di negeri ini, belajarlah menjadi ‘pembuat keputusan’ dari mendiang BJ. Habibie. Saat ia menyetujui sebagai Presiden, Indonesia sedang terjerat krisis moneter. Angka Kemiskinan melonjak Drastis, Nilai mata Uang rupiah Jatuh terpuruk, Inflasi menyebabkan harga sembako meroket naik.

Tak sampai dua tahun pak Habibie jadi Presiden, apa pernah kita lihat dia blusukan ke pasar inpres, masuk gorong-gorong, sibuk ngatur lalu lintas, ikut membaca bingkisan sembako, berkubang dalam banjir, ikut kerja bakti, pegang sapu lidi, minum kopi di warung kaki lima? TIDAK. Saat rakyat kesusahan, pak Habibie sibuk melakukan rapat marathon dengan para menteri, ia merumuskan berbagai kebijakan makro yang akan dipersiapkan oleh beragam juta rakyat Indonesia.

Begitulah yang menjadi pemimpin. Peduli dengan takdir rakyat harus disimbolkan dengan blusukan rumah orang miskin, ikut nasi aking, pake kemeja sederhana 100%. Nyatanya pak Habibie berjas, pakai dasi ekslusif, sepatunya mahal, pakai jam tangan Rolex, kesana kemari mengendarai mobil mewah, rapat dewan di ber-AC dengan aneka ragam makanan lezat yang telah didukung oleh istana kepresidenan.

Namun semua kemewahan itu tak membuat pak Habibie terlena. Dalam pemulihan hanya ada satu agenda, bagaimana memulihkan ekonomi bangsa pasca didera krisis moneter.

Terbukti, berbagai kebijakan (kebijakan) yang dikeluarkan pak. Tak sampai dua tahun disetujui, nilai tukar rupiah menguat, gejolak kredit bisa diredam, harga barang kebutuhan normal, daya beli masyarakat berangsur meningkat. Pembenci pun akhirnya menerima prestasi pak Habibie.

Gue pribadi butuh pemimpin yang doyan pencitraan. Buat apa memoles diri dengan pakaian murah meriah, buat apa bikin video blusukan ke tanah abang, jika tak bisa mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, memperbolehkan sosial.

Pak Habibie dulu dihina, dicaci maki, dikritik habis-habisan. Adakah beliau peduli dengan segala nyinyiran? Tidak. Malah ia balas hujatan dengan senyum menawan. Kita perlu pemimpin yang bisa memetakan masalah makro dengan analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman). Bukan pejabat baperan  yang suka menunjukkan muka sewot.

Penulis adalah Seorang Wartawan Kabar24News