Home Artikel/Opini Menciptakan Papua Tanah Damai: Tanggung Jawab Bersama

Menciptakan Papua Tanah Damai: Tanggung Jawab Bersama

43

Menciptakan Papua Tanah Damai: Tanggung Jawab Bersam
Oleh: Florentinus Tebai)*
Masih banya orang yang menjuluki tanah Papua sebagai medan konflik yang subur. Dinamika kehidupan yang penuh dengan pertumpahan dara, perang, bermusuhan, kerusuhan. Ringkasnya, sistem polah dan dinamika hidup yang demikian sudah dimulai sejak bangsa Indonesi menganeksasikan bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI melalui peristiwa PEPERA pada tahun 1969 silam yang manipulatif (Penuh Tipu Daya/Kebohongan). Dampaknya, konflik masih terjadi. Ia bertumbuh subur dan telah menghilangkan beragam nyawa manusia. Korban berjatuhan antara kedua belah pihak (Papua dan Indonesia).
Sayangnya, sistem kehidupan yang demikian masih tertanam kuat dalam seluruh dinamika kehidupan di tanah Papua pada khusunya dan Indonesia pada umumnya. Diantaranya seperti konflik yang terjadi di Timika pada akhir-akhir ini.“Seorang karyawan PT Freeport Indonesia yang merupakan warga negara asing (WNA) tewas karena ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di Kuala Kencana, Timika, Mimika, Papua, Senin (30/3/2020). Penembakan tersebut juga mengakibatkan dua WNI yang juga karyawan Freeport mengalami luka-luka. (Kompas.Com, 30 Maret 2020). Pertanyaanya, Bagaimana menciptakan Papua sebagai Tanah Damai?
Tanah Damai
Kamus Besar Bahasa Indonesia pada edisi keempat menjelaskan bahwa damai adalah situasi yang tidak ada perang, permusuhan, jauh dari kerusuhan, adanya iklim hidup yang aman dan nyaman, suasana hidup yang tenang dan tenteram, rukun, tidak saling bertengkar (Permusuhan). Jadi, kata damai dalam konteks Papua tanah damai berarti terciptanya suatu sistem kehidupan yang tidak ada perang, permusuhan, tidak ada kerusuhan, terciptanya suatu iklim hidup yang aman dan nyatam, adanya ketenangan dan ketenteraman, kerukunan, dan keadaan yang tidak saling bermusuhan antara satu dengan sesama yang lainya dalam hidup bersama sebagai manusia di atas tanah Papua.

Upaya Mewujudkan Papua Tanah Damai
Bagi saya upaya pertama adalah kedua bela pihak yang bertikai (Indonesia dan Papua) mesti meninggalkan segala pikiran yang saling curiga antara pihak satu dengan pihak lainya. Artinya, kedua belapihak mulai membagun posisi dengan berpikir yang positif (Positive Thinking). Memandang segala persoalan hidup yang dialami oleh kedua belah pihak sebagai bagian dari seluruh kehidupan bersama. Ia tidak jauh dari hidup, tapi persoalan adalah bagian dari kehidupan manusia di bumi. Oleh karena itu, adanya persoalan bukan untuk menghindari, melainkan perlunya tanggapan dari kedua belah pihak atas semua persoalan yang dihadapinya. Ringkasnya bahwa dengan berpikir positif berarti mampu memandang dan menerima persoalan hidup di dunia sebagai bagian dari hidup, sehingga sesudahnya sama-sama mencari solusi secara bersama demi kehidupan yang damai.
Kekuatan memberi dan menerima juga merupakan poin penting. Point ini terletak pada kemampuan menerima masalah sebagai bagian dari hidup dari semua pihak yang bertikai. Artinya, setiap masalah dilihat sebagai masalah bersama dan bukan masalah sepihak. Di sini sangatlah penting dalam mengelolah masalah sebagai persoalan bersama dan bukan konflik individu semata. Sebab, sikap yang demikian adalah manajemen permasalahan yang komprehensif (Menyeluruh) dan bukan parsial. Kordinasi yang baik dan efisien dalam memanajemen konflik akan menunjukkan kualitas (Mutuh) penyelesaiaan konflik dalam persoalan-persoalan bersama.
Hal lainnya yang sering menjadi kendala dalam menghadapi konflik adalah ketika kita melihat suatu persoalan atau konflik para digma (Cara berpikir) kita yang keliru terhadap konflik yang ada, sehingga ketika pola pikir kita yang demikian telah tertanam kuat dalam dinamia seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, maka secara otomatis sering menggerogoti (Mempengaruhi) dan terbawah arus dalam upaya mewujudkan Papua sebagai tanah Damai. Oleh karena itu, salah satu hal paling penting bagi kita adalah mesti mengubah cara berpikir yang demikian. Sebab, jika cara berpikir yang demikian selagi masih tertanam kuat dalam seluruh dinamika kehidupan kita sehari-hari, maka konflk antara kedua belah pihak tidak akan pernah berhenti. Konflik akan terus bertumbuh subur di atas tanah ini. Upaya wujudkan Papua tanah damai pun menjadi suatu visi yang sia-sia.
Sekali lagi bahwa upaya wujudkan Papua tanah damai adalah mimpi bersama. Sebab, setiap konflik yang terjadi antara kedua bela pihak adalah masalah bersama dalam satu ruangan. Maksudnya, tiap masalah adalah tanggugjawab bersama, sebab yang bertikai adalah masing-masing dari keduabelapihak dalam waktu, kesempatan, dan dari dalam satu ruangan yang sama. Oleh karena itu, Masalah dalam ruangan adalah persoalan bersama, tanggungjawab bersama dan bukan orang lain. Oleh karena itu, Kedua belah pihak harus berhenti bermusuhan. Tidak boleh lagi ada pertumpahan darah, perselisihan, dan persoalan-persoalan lainya yang merugikan kedua belah pihak dan mengganggu kenyamanan dan ketenteraman hidup bersama dalam kehiduapan bersama. Saling percaya adalah kuncinya.
Sesudah saling percaya berarti harus rubah sikap dari kedua belah pihak. Artinya bahwa jika selama ini negara Indonesia mengabaikan manusia Papua, tapi mementingkan dan mengutamakan sumber daya alam Papua, maka sikap mental yang demikian harus berubah. Sebab, sikap yang demikian adalah sikap negara yang mentalnya belum dewasa. Negara yang dewasa akan menunjukkan sikap yang lain, yakni ia akan mengutamakan nilai kemanusiaannya. Ia mengedepankan martabat, harga diri, jati diri, dan identitas dari bangsa, suku, rasa, dan budaya yang lain. Ingat hanya negara bodohlah yang akan mengabaikan nilai dan martabat manusia. Negara yang maju dan berkembang serta dewasa adalah negara yang mampu menghargai dan menjunjung tinggi martabat manusia.
Wujud dari saling percaya akan terbukti di dalam cinta. Saling mencintai sebagai manusia dalam hidup bersama adalah hal yang amat fundament (Dasar). Saya ingat ada peptah kuno yang mengatakan bahwa di mana ada cinta, maka di situ ada kehidupan. Dan sebaliknya, di mana ada kehidupan, pasti ada cinta. Cinta yang sesungguhnya cinta yang timbal-balik antara kedua belahpihak. Kedua belah pihak akan merasa saling mengisi dan diisi oleh cinta dalam kehidupan bersama. Ingat kekuatan menghidupkan cinta adalah satu kunci utama menciptakan perdamaiaan. Bangsa yang hidup berlandaskan cinta adalah bangsa yang damai dan bahagia. Cinta yang diharapkan adalah cinta tanpa memandang SARA (Suku, Ras, Agama, dan Budaya).
Sesudahnya, maka saling berharap. Artinya bahwa saling menjaga dan melindungi antara satu dengan sesama yang lain sebagai saudara. Hidup bersolider adalah landasanya, sehingga mencegah kemungkinan terjadinya konflik. Karena dengan begitu, kehidupan yang harmonis dan visi wujudkan Papua tanah damai pun terbuka lebar dalam kehidupan bersama di atas tanah Papua pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Ingatlah bahwa Papua tanah damai hanya akan terjadi apabila kedua belah pihak yang bertika duduk secara bersama-sama mencari dan menemukan kebenaran secara menyeluruh. Dengan mengedepankan, sikap berpikir positif, saling menerima dan memberi, mengubah pola pikir (Paradigma), berhenti bermusuhan, saling percaya, mencintai dan dicintai dan akhirnya sama-sama bermimpi dan berharap menjadikan Papua Tanah Damai.
)*Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Anggota Kebadabi Voice Group di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.
Referensi:
“penembakan-terjadi-di-kuala-kencana-timika” dalam https://suarapapua.com/2020/03/30/breaking-news-penembakan-terjadi-di-kuala-kencana-timika/. Diunduh pada Senin, 6 April 2020. Pukul 18.00 WIT.
“Penembakan oleh kkb di Mimika 1 karyawan Freeport tewa dan 2 lainnya luka” dalam https://nasional.kompas.com/read/2020/03/30/16511311/penembakan-oleh-kkb-di-mimika-1-karyawan-freeport-tewas-dan-2-lainnya-luka. Diunduh pada Senin, 6 April 2020. Pukul 18.00 WIT.