Home Artikel/Opini Menakar Rasialisme dan Kebangkitan Black Power di Amerika dalam Terang Teologis

Menakar Rasialisme dan Kebangkitan Black Power di Amerika dalam Terang Teologis

210

(Sebuah Tinjauan Black Theology/Teologi Hitam James Hal Kone)     

Oleh: Oksianus B. Uropmabin*

Pengantar

James Hal Cone adalah seorang teolog kulit hitam dari Amerika. Cone lahir pada 05 Agustus 1938 di Fordyce, Arkansas. Cone membidangi teologi pada umumnya. Karier ilmiah utamanya ialah di bidang Teologi Sistematika. Melalui karya-karya dan penghargaan yang diberikannya dapat memperjelas bidang teologinya. Salah satu bidang teologi yang diangkat oleh Cone adalah Teologi Hitam. Teologi hitam yang diangkat Cone mesti dilihat (dipahami) berdasarkan keberadaannya sebagai orang kulit hitam Afro-Amerika, dan dalam konteks masyarakat kulit hitam dan kulit putih, serta dinamika hidup yang melingkupinya. Menurut Cone, dua realitas penting yang membentuk kesadarannya adalah pengalaman gereja kulit hitam dan signifikansi sosiopolitik dari orang kulit putih. Dua hal ini menjadi perhatian besar dalam bidang teologinya.

Pada pembahasan selanjutnya, bagian konteks berteologi dan pernyataan-pernyataan teologis akan memberi perhatian terkait dua realitas tersebut di atas, dan sambil melihat keterlibatan dan perjuangan orang kulit hitam di antara orang kulit putih, serta doktrin teologi yang dipelajarinya. Dalam peradaban orang kulit hitam (Afro-Amerika) pada fokus sosiopolitik akan diintegrasikan sejarah kekristenan dalam aras perbudakan, penderitaan, dan penindasan orang kulit hitam oleh orang kulit putih, dominasi bidang sosio-teologis pada khususnya, yang mengkondsikan orang kulit hitam harus bangkit merefleksikan jati dirinya dan pengalaman religiositasnya. Akhir pembahasan dari tulisan ini akan dibuat refleksi dan rancangan penginjilan kontekstual di Papua.

Konteks Berteologi

Teologi kulit hitam dimulai dengan pernyataan radikal dari teolog-teolog (pendeta-pendeta) kulit hitam di Amerika yang kemudian muncul sebagai disiplin akademis, selama kerusuhan sosial dan politik pada akhir 1960-an. James Hal Cone dengan tulisan-tulisannya: Black Theology and Black Power (1969), A Black Theology of Liberation (1970), dan God of the Oppressed (1975) menjadi karya akademik besar pertama di bidang (teologi hitam) ini. Di dalamnya, Cone berusaha untuk mendamaikan teologi dan praktek Kristen dengan militansi yang berkembang dari gerakan Black Power. Sebagai teolog pembebasan, yang bekerja dalam konteks Amerika Utara pada akhir 1960-an, Cone dan para teolog kulit hitam mulai menegaskan bahwa, Allah ada di pihak orang kulit hitam yang miskin, tertindas dan menderita.

Cone menegaskan bahwa, Allah sangat diidentifikasi dengan perjuangan orang kulit hitam untuk pembebasan dari penindasan, yang pada kenyataannya merumuskan bahwa, Allah secara ontologis adalah hitam. Sejalan dengan ini, teologi-teologi pembebasan kulit hitam telah menjadi perhatian utama dengan tidak hanya menafsirkan berbagai makna pengalaman religius kulit hitam, tetapi juga dengan memberikan strategi untuk melawan ideologi dan praktik supremasi kulit putih yang merusak kelangsungan hidup dan pertumbuhan komunitas Afro-Amerika (orang kulit hitam) di Amerika.

Dari kondisi sosiopolitik yang melingkupinya, para teolog kulit hitam juga mencoba membaca Alkitab dengan memakai perspektif lain yaitu menekankan pada pembebasan orang-orang Afrika-Amerika (orang berkulit hitam) dari diskriminasi orang-orang berkulit putih. Menurut mereka, orang kulit hitam telah banyak merasakan pengalaman pahit yang seharusnya diperhatikan dalam proses berteologi. Pada waktu itu, yang mendominasi bidang teologi adalah teolog-teolog berkulit putih.

Teolog-teolog berkulit hitam merefleksikan bahwa, Yesus sebagai sahabat setia bagi semua manusia yang mengalami penindasan, penderitaan dan penghinaan tanpa memandang ras atau bangsa. Yesus dalam pandangan mereka datang untuk mengangkat dan meneguhkan martabat serta identitas orang hitam sebagai orang hitam. Cone dalam bukunya A Black Theology of Liberation, menyatakan bahwa, Allah telah menggabungkan diri-Nya dalam perjuangan orang-orang berkulit hitam. Dengan demikian, Yesus dapat dikatakan sebagai Mesias Kulit Hitam (Black Messiah) (Bdk. Anton Wessel, 200: 83-84).

Menakar Pemikiran Teologis

Paham tentang Allah

James Hal Cone menyinggung soal realitas Allah. Ia menyatakan bahwa, Allah tidaklah dimiliki oleh manusia, tetapi Allah yang memiliki manusia. Allah bukan milik orang kulit putih, tetapi Allah milik semua orang. Dengan memilih Israel, rakyat yang ditindas diantara bangsa-bangsa, Allah menyatakan perhatian-Nya bukan pada yang kuat, tetapi kepada yang lemah, bukan kepada yang memperbudak, tetapi kepada yang diperbudak, bukan kepada orang putih, tetapi kepada orang hitam. Realita yang terjadi di Amerika, menurut Cone merupakan penyimpangan yang besar, bahwa Allah hanya dimiliki oleh orang (oknum) tertentu saja, mereka (orang kulit putih) adalah kelompok yang membuat diri mereka menjadi superior dalam sistem yang mereka buat, Allah dipandang ada untuk orang kulit putih saja.

Teologi yang berkembang adalah teologi dari kacamata kulit putih. Karena itu dalam pemahaman doktrin teologis orang kulit putih, Allah hanya dimiliki oleh orang kulit putih. Sebenarnya kepemilikan Allah hanya pada orang kulit putih itu adalah hal yang tidak benar. Sebab hal ini akan berdampak kepada perlakukan ketidakadilan sosial di tengah masyarakat yang tak pernah tuntas diselesaikan.

Paham tentang Kristus

James Hal Cone, dalam tulisannya Black Theology Documentary menulis: Kristus Amerika itu tidak memiliki ciri-ciri rasial, Ia berkulit langsat, berambut ikal warna coklat dan memiliki mata biru. Orang-orang kulit putih berkeberatan jika ia berbibir tebal, sama seperti orang Farisi berkeberatan, jika mereka melihat Dia di suatu ”pesta” bersama dengan orang-orang pemungut cukai. Namun apakah orang kulit putih setuju atau tidak, Kristus berkulit hitam. Kristus memilih kulit hitam, bukanlah suatu gagasan teologi emosional. Di abad ke-20 Kristus dipandang bukan kulit hitam, tetapi secara teologis sama mustahil bila dibayangkan dari sudut pandang Ia (Yesus) bukan orang Yahudi yang diperbincangkan pada abad petama (Gayraud S. Wilmore & James H. Cone, 1970:116-117).

Cone menegaskan bahwa, Yesus Kristus harus diakui berdasarkan keberadaan-Nya kini, dalam masa lampau dan dalam waktu yang akan datang. “Kita baru dapat memahami riwayat hidup Yesus pada masa lampau dan arti keselamatan-Nya (soteriologis), jika hidup-Nya pada masa lampau dikaitkan secara logis dan teratur (dialektis) dengan kehadiran-Nya pada masa kini dan kedatangan-Nya pada masa yang akan datang”. Dalam menganalisis hidup Yesus pada masa lampau, kita tidak dapat menyangkal nilai soteriologis-Nya pada masa kini sebagai Tuhan dari pergumulan kita sekarang.

Pandangan terhadap masa depan Kristus, yang menerobos kehidupan mereka sebagai budak, mengubah pandangan mereka terhadap masa depan mereka sendiri. Para teolog kulit hitam harus dapat membuktikan, bahwa sifat hitam Yesus bukan hanya bakat psikologis dari orang kulit hitam, tetapi berasal dari penelitian yang dapat dipercaya, dari sumber-sumber yang menyoroti riwayat hidup Yesus pada masa lampau, masa kini dan masa depan. Kalau kita tidak berhasil dalam hal ini, demikian Cone, maka kita akan kena tuduhan, bahwa “Kristus yang hitam” adalah pemutar-balikan ideologis dari Perjanjian Baru untuk tujuan-tujuan politis.

Dalam hubungannya dengan Keyahudian Yesus, dipahami bahwa Yesus hitam karena Dia orang Yahudi. Penyataan mengenai “Yesus berkulit hitam” dapat dipahami, jika arti Keyahudian-Nya pada masa lampau, dikaitkan secara dialektis dengan sifat hitam-Nya sekarang. Keyahudian Yesus menempatkan di dalam konteks keluaran (exodus), dan kedatangan-Nya di Palestina dihubungkan dengan pembebasan orang-orang Israel oleh Allah, ke luar dari Mesir (Yes 42:6-7).Hal “Kehitaman Yesus” hanya suatu pernyataan tentang warna kulit, tetapi penegasanyang sesungguhnyaadalah bahwa Allah tidak sungguh-sungguh, meninggalkanyang tertindas (semua orang yang tertindas dan menderita) itu berjungan sendiri. Dia ada bersama dengan Firaun di Mesir, dengan mereka di Amerika, Afrika dan Amerika Latin, dan akan datang pada kesudahaannya mewujudkan secara penuh membebaskan kemnusiaan mereka (Angie Pears, 2010: 114).

Paham tentang Salib dan Tiang Gantungan

James Hal Cone mengangkat kejadian kelam masa lalu yang terjadi di Amerika yang dialami oleh orang kulit hitam yaitu hukuman gantung di bawah pohon (lynching). Hukuman gantung yang dialami oleh orang kulit hitam adalah bentuk dari ketidakadilan. Orang Kulit hitam dengan kesalahannya akan layak dihukum mati dengan digantung bahkan digantung di depan publik untuk dilihat oleh orang-orang kulit hitam dan oleh orang-orang kulit putih. Hal ini dilakukan oleh orang kulit putih untuk menunjukan keunggulan mereka pada saat itu kepada orang-orang kulit hitam.

Cone menghubungkan orang-orang kulit hitam yang mendapat perlakuan tidak adil itu dengan Salib Kristus. Menurutnya banyak orang percaya bahwa Kristus yang disalib itu mati untuk menebus manusia dari dosa, dan penderitaan manusia digantikan oleh Kristus, tetapi kenyataannya tetap ada diskriminasi. Banyak orang kristen mendefinisikan bahwa keselamatan itu merupakan “anugerah murahan”, karena keselamatan itu berasal dari kematian Yesus dan akhirnya mereka menjadi pietis (pietis yang dangkal), dan akhirnya mereka menganggap bahwa Kristus mati hanya untuk orang kulit putih, sehingga terjadi pembedaan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam.

Cone menggambarkan Yesus sebagai orang kulit hitam. Orang kulit hitam yang digantung layaknya Yesus yang disalib. Ia dihina dan dianggap kotor, ia dipertontonkan di tengah publik dan direndahkan. Itulah Yesus dan orang kulit hitam yang sama-sama menderita.Salib Yesus adalah perubahan radikal oleh Allah dari keadaan manusia, ketika yang terpilih untuk menggantikan Israel sebagai hamba yang menderita dan dengan demikian mengungkapkan kesedihan Allah untuk menderita, agar umat manusia dibebaskan secara sempurna. Maka bagi Cone,hukuman gantung ini harus direflesikan sebagai penyaliban Yesus supaya tidak terjadi kesalahan sama bahwa Yesus disalibkan untuk semua orang.Dalam hal ini, pertimbagan Cone adalah keberpihakan Yesus dalam totalitas hidup, tugas, dan pelayana-Nya bagi mereka yang miskin dan tertindas (Bdk. https://id.m.wikipedia.org/wiki/James-Hal-Cone).

Refleksi Teologi dan Rancang Penginjilan Kontekstual di Papua

Munculnya Teologi Hitam adalah komponen struktur sosial yang dihancurkan oleh pengunggulan ras kulit putih terhadap ras kulit hitam. Dalam hal ini pemahaman teologi hanya dilihat dari sudut pandang orang kulit putih. Begitu pula segala aspek kehidupan (ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosal dan politik)dikuasi oleh orang kulit putih. Kebangkitan orang kulit hitam (black power) adalah satu bentuk perlawanan untuk mengatasi pendominasian orang kulit putih. Bentuk perlawanan orang kulit hitam meligkupi segala aspek kehidupan. Refleksi lebih mendalam dikontekstualisasikan di bidang teologi yang diprakarsai oleh teolog-teolog kulit hitam. Lahirnya black theology menjadi ‘jembatan’ atau ‘batu loncatan’ baga orang kulit hitam untuk mencari dan menemukan jati dirinya sebagai manusia yang memiliki derajatyang sama dengan manusia lain yang diciptakan Allah.

Teologi hitam meyakini bahwa Allah tidak dimiliki oleh sekelompok manusia (bangsa atau ras) tertentu saja, melainkan Allah yang memiliki manusia. Allah bukan Allah orang kulit putih tetapi Allah semua orang. Yesus dipandang sebagai sahabat setia bagi semua manusia yang mengalami penindasan, penderitaan dan penghinaan tanpa memandang ras atau bangsa.  Yesus dalam pandangan mereka (orang kulit hitam) adalah Jesus is Black (Yesus itu Hitam) dan Ia datang untuk mengangkat dan meneguhkan martabat serta identitas orang kulit hitam.Pernyataa ini direfleksi berdasarkan pengalaman hidup orang kulit hitam di Amerika yang mendapatkan perlakuan ketidakadilan sosial. Perlakuan ketidakadilan sosial itu menglingkupi budaya, ras, tatanan sosial (ekonomi, pendidikan, sosial-politik), pendominasian doktrinal keagamaan (keyakinan) berbasis spritual, dan ketidakadilan sosial lainnya. Semua ketidakadilan sosial itu direfleksikan dan dikontekstualisasikan melalui pandanganKristiani.

Bila ditelusuri, ‘Teologi Hitam’ (Afro-Amerika) memiliki sejarah panjang yang kaya akan advokasi (pembelaan)orang kulit hitam yang berbasis spiritual untuk perubahan tatanan sosial di Amerika. Orang kulit hitam (Afro-Amerika) membaca teks-teks agama mereka melalui pengalaman  hidup mereka. Akibatnya ada tradisi panjang menafsirkan Injil Kristen dengan cara yang mencerminkan keterlibatan Allah dalam perjuangan orang-orang yang tertindas. Tradisi ini dipahami sebagai teologi pembebasan kontekstual yang menarik kekuatan dan fokusnya adalah perjuangan orang kulit hitam (Afro-Amerika).

Orientasi ‘Teologi Hitam’ adalah salah satu di antara berbagai orientasi pemikiran orang kulit hitam (Afro-Amerika) sebagi pengalaman Kristen pada khususnya dan pengalaman keagamaan pada umumnya. Menurut Cone “Sebagian besar dari kami di aliran teologi hitam berpendapat bahwa kami termasuk dalam tradisi radikal, tetapi terhormat dan diakui secara luas, khususnya dalam komunitas Afro-Amerika. Selain itu kami percaya bahwa orientasi ini, walaupun bukan satu-satunya, tetapi telah menjadi yang paling khas, gigih, dan berharga serta warisan agama orang Afro-Amerika di Amerika Serikat”

Apakah Kekristenan adalah agama “orang kulit putih”? Adakah sumber daya iman Kristen yang dialami oleh orang kulit hitam untuk praksis yang membebaskan? Dapatkah Kekristenan menjadi wahana kebebasan? Pertanyaan yang diajukan ini sebagai indikator untuk mengkontekstualisasikan ‘teologi hitam’(James H. Cone) dalam konteks di Papua. Budaya dan rasorang Papua sudah merupakan satu aspek yang secara langsung teridentifikasi sebagai orang kulit hitam, keberagaman keyakinan (keagamaan) yang dimiliki dan dinamika persoalan sosial yang melingkupinya adalah aspek yang lain.

Teologi hitam yang berkembang di Amerika bila dikontekskan secara ketat dan selektif makadalam aspek-aspek tertentu memiliki korelasi dengan konteks di Papua. Perjuangan orang Papua dalam mempertahankan identitas dirinya sebagai ras (orang) kulit hitam, perjuangannya untuk terbebas dari kemiskinan, penindasan, penangkapan, pemenjarahan, pembunuhan, perjuangannya untuk memperoleh kemerdekaan sejati, perjuangannya melawan pendominasian orang kulit putih di berbagai bidang tatanan sosial adalah dinamika yang sudah, sedang dan akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, dinamika ini perlu mendapatkan perhatian tersendiri bila kita hendak berpenginjilan kontekstual di Papua.

Untuk merancang suatu rancangan penginjilan berbasis kontekstual di Papua, maka rekomendasi saya adalah menggunakan “epistemologi orang dalam” (pengetahuan orang Papua). Rancangan penginjilanmengunakan ‘epistemologi orang dalam’ ini dapat dipertimbangkan pula segala dinamika yang melingkupi orang Papua (sejarah esksistensinya, keberagaman religiositasnya, tatanan sosialnya, perjuangan politisnya dan bidang lainnya), semua ini mesti diintegrasikan. Pengintegrasiannya mesti digunakan terang iman. Refrensinya adalah belajar dari tokoh-tokoh Kristen kulit hitam di Papua, yang merefleksikan dinamika hidup orang Papua dari sudut pandang orang kulit hitam (Papua). Hal ini merupakan sebuah agenda!

Referensi:

Cone H. James. 1975. God Of The Oppressed. New York: The Seabury Press.

Pears Angie. 2010. Doing Contextual Theology. London & New York: Routledge.

Wessel Anton. 2001. Memandang Yesus: Gambar Yesus Dalam Berbagai Budaya. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Wilmore S. Gayraud & Cone H. James. 1970. Black Theology Documentary History, 1966-1979. USA: Roermond.

*Penulis adalah mahasiswa STFT “FT” dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)