Home Artikel/Opini Memecah Kebisuan: Membuka Jalan Menuju Papua yang Bebas dari COVID-19

Memecah Kebisuan: Membuka Jalan Menuju Papua yang Bebas dari COVID-19

29

Oleh: Okto Kapollulumki Apintamon

 

Sudah tiga bulan lamanya kita di Papua bergulat dengan Covid-19. Dengan tingkat penyebaran yang semakin tinggi menunjukkan bahwa, keadaan darurat akan terus berlangsung di Papua. Data terakhir Tim Satgas Covid-19 Papua merilis bahwa, hingga pukul 18.10 (2/6/2020) jumlah kasus di Papua bertambah menjadi 826 kasus setelah ada penambahan sebanyak 11 kasus baru (SeputarPapua.com, 2/6/2020). Penyebaran ini tentunya tidak hanya terjadi di kota-kota besar yang ada di pesisir Papua, namun Covid-19 telah merebak hingga ke daerah Pegunungan Tengah khususnya di Kabupaten Jayawijaya dengan jumlah 9 kasus. Persoalan Covid-19 yang terjadi ini belum ditambah dengan persoalan penyakit lain yang terus terjadi di Papua sepertiHIV/AIDS, Malaria, TBC, Kholera, dan disentri, Ispa, dan Korban kekurangan Gizi dan masih banyak penyakit lainnya. Persoalan ini menunjukkan dengan serius bahwa,  eksistensi kita orang Papua betul-betul terancam.

Dengan terancanmnya eksistensi kita orang Papua, maka hal yang menjadi perhatian kita bersama saat ini adalah kita harus terus bergerak untuk menanggulangi ancaman yang besar ini. Kita tidak bisa hanya tinggal diam dan membisu, menjalankan protokol kesehatan, hidup di rumah dan semua seolah-olah baik-baik saja. Kita tidak sadar bahwa, nyawa kita, nyawa saudara kita di luar sana banyak yang terancam. Tetapi sementara itu, kita membiarkan saja penyebaran virus corona perlahan-lahan sampai kita punah? Mengapa kita membisu seolah-olah bahaya itu tidak ada?

Penyebaran Covid-19 yang Bebas

Corona virus (covid-19)  dapat menyebar melalui sentuhan, bersalaman, selain itu menurut WHO penyebaran ini juga dapat terjadi melalui cairan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di sebuah benda atau permukaan yang lalu disentuh dan orang sehat tersebut menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Virus corona juga bisa menyebar ketika tetasan kecil dihirup oleh seseorang ketika berdekatan dengan orang terinfeksi corona, selain itu juga dapat menyebar melalui kontaminasi feses. Selain itu virus ini memliki banyak rute penularan, sebagaimana penularan itu berlangsung kuat dan cepat (CNBCIndonesia.com, 13/4/2020). Dengan demikian, penting bahwa, kita tetap di rumah saja dan melaksanakan aktivitas pun dengan mengikuti kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah. Menjaga diri penting untuk tidak merugikan orang lain di sekitar kita karena penyebaran virus ini, maka tetap beraktivitas pun di rumah hingga corona virus ini berlalu.

Dengan demikian, perlu kita ketahui bahwa, adat istiadat yang longgar dan perilaku yang tidak tampak secara baik merupakan pintu terbuka untuk penyebaran virus. Hal ini mengindikasikan bahwa, perlu ada didikan mental yang kuat tentang bagaimana manusia Papua harus peka terhadap kesehatan dirinya. Untuk menciptakan mental manusia Papua yang kuat, maka dibutuhkan satu ‘iklim’ yang baik agar semua manusia Papua sadar akan hidup sehat. Selain kembali pada pangan lokal, perlu adanya pola hidup sehat yang ditanamkan bagi manusia Papua. Hal ini tentunya demi menjaga eksistensi orang Papua di atas tanahnya sendiri. Selain itu budaya, adat istiadat yang berkaitan dengan pendidikan mental perlu diterapkan kembali di setiap wilayah adat di Papua. Hal ini demi menjaga stabilitas kehidupan budaya dari serangan modern, juga dari penyakit-penyakit mematikan seperti Covid-19 ini. Selain itu juga mendorong setiap manusia Papua untuk bertanggungjawab atas hidup orang lain. Sesamanya yang menderita Covid-19 perlu diberikan semangat yang tinggi akan kemauan dan mental untuk sembuh yang bisa meningkatkan imunitas tubuh mereka yang terpapar Covid-19. Dengan demikian, kepekaan memberi semangat serta membantu sesama merupakan dasar dari menciptakan ‘iklim’yang sehat di Papua ini.

Iklim Papua

Mengapa kita membisu terhadap kenyataan bahwa, virus corona (Covid-19) sedang mewabah di tengah kita? Selain rasa takut karena iklim peningkatan Covid-19, ada  juga iklim lain yang menghambat kita untuk memecah kebisuan yaitu “Iklim Papua”. Berdasarkan Rapid test kita begitu gampang menghakimi dan menjatuhkan vonis pada sesama yang lain yang terkena satu penyakit ini. Karena itu orang segan memeriksa diri. Sebab kalau ternyata rapid testnya reaktif, hasil pemeriksaan itu bisa menjadi biang untuk memvonis orang yang sedang tepapar virus tersebut. Tanpa berusaha memahami masalahnya, orang itu bisa langsung divonis dengan berbagai bentuk hukuman: dalam artian bisa jadi diisolasikan, disingkirkan oleh keluarganya, juga bisa didiskriminasikan dalam masyarakat. Kita mesti sadar bahwa, vonis seperti itu selain tidak adil juga bisa jadi betul-betul keliru, karena Virus Corona masuk bukan hanya melalui sentuhan dan bersalaman.

Penulis berpikir, untuk memecah kebisuan tentang Virus Corona di Papua, hal yang harus dilakukan oleh para pasien Covid-19 adalah harus merasa berani dan optimis untuk sembuh serta nyaman berbicara tentang dirinya. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh karena kerja psikologi yang meningkat baik. Selain itu diperlukan kerendahan hati kita semua untuk mengakui bahwa, satu penyakit sosial adalah tanggung jawab kita semua. Jangan pernah ada vonis yang macam-macam kepada mereka yang terkena virus ini. Dan kalau pun itu disebabkan oleh rasa takut, kita tidak punya hak untuk menjatuhkan vonis sambil menganggap diri kita sebagai orang yang saleh dan bersih. Kalau kita tetap memvonis orang-orang dengan virus corona (Covid-19), saya pikir kita tidak memecah kebisuan dan lebih dari itu kita bersalah karena merasa takut, tidak terbuka, dan jujur. “Iklim Papua” saat ini yang sedang terjadi dalam kehidupan sosial kita terkait penyebaran Covid-19 dan para pasien yang terpapar Covid-19 ini adalah kita sering membenarkan diri sendiri  dan mempersalahkan orang lain.

Oleh sebab itu, kita harus menciptakan ‘Iklim Papua’ yang posistif. Kita harus saksama membuka mata kita untuk melihat bahaya, membuka mulut kita untuk berbicara dan menggerakkan hati serta langkah kita menuju Papua yang  bebas dari Virus Corona (Covid-19). Mari Kitorang Bertanggung Jawab Bersama.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG).