Home Artikel/Opini Membangun Inofasi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal pada Pandemik Covid-19 di...

Membangun Inofasi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal pada Pandemik Covid-19 di Papua

141

Oleh: Okalut Marko Uropmabin

Pandemik Corona Virus atau Covid-19 yang sekarang mewabah di seluruh penjuru dunia telah menewaskan banyak manusia serta menjangkiti sebagian besar penduduk bumi termasuk Indonesia dan Papua secara khusus. Situasi ini memaksa seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi aktifitas sehari-harinya dan tinggal di rumah, setiap daerah menutup akses transportasi darat, laut maupun udara bahkan acara rutinitas sehari-hari seperti berkumpul bersama pun dibatasi.

Situasi dan kondisi masa pandemik Covid-19 ini memberi dampak yang sangat buruk dalam  segala bidang kehidupan manusia. salah satunya ialah perekonomian daerah. Dampak buruk ini terutama terjadi  karena penurunan persedian bahan makanan pokok dan kesulitan akses transportasi untuk mendatangkan bahan makanan pokok dari luar daerah. Penurunan persedian bahan makanan pokok di wilayah Papua sangat menyita perhatian pemerintah Provinsi Papua terlebih khusus wakil gubernur Papua Kelemen Tinal, yang dalam warta Cendrawasih Pos meminta masyarakat untuk kembali berkebun. Dengan demikian secara langsung masyarakat diminta kembali mengelola bahan makanan pokok berbasis lokal untuk mengantisipasi habisnya bahan pokok impor dari luar daerah.

Persoalan pertama yang menjadi pokok persoalan turunya stok bahan makanan pokok ini karena bahan makanan pokok asli daerah Papua seperti ubi, sagu dan keladi telah diganti dengan beras yang di impor dari luar Papua. Kini jalur teransportasi untuk mendatangkan bahan makanan pokok dari luar sudah dikurangi dan persedian bahan makanan pokok berdasarkan pemantauan di lapangan oleh pemda Provinsi Papua hanya tersedia untuk mencukupi jangka waktu empat bulan ke depan sehingga masyarakat perlu menyadari hal ini dan mulai memikirkan solusi yang bisa di ambil secara mandiri supaya dapat menyambung hidupnya tanpa mengharapkan bahan makanan pokok yang di impor dari luar Papua.  Salah satu solusi yang dapat diambil adalah kembali mengelola bahan makanan pokok lokal Papua dengan model inofasi ekonomi kreatif.

Inofasi Ekonomi Kreatif Pangan Berbasis Budaya Lokal Papua

Masyarakat Papua di masa sekarang tidak bisa secara langsung serta merta kembali berkebun seperti halnya para leluhur dahulu, karena situasi dan kondisi serta perkembangan zaman telah mengubah polah hidup, pola pikir serta mental yang instan semata. Oleh karena itu, masyarakat sekiranya mengadaptasikan pola hidup serta pola pikirnya ke dalam perkembangan zaman sekarang  sehingga menemukan cara yang efektif dalam mengelola pangan lokal yang sudah ada di daerahnya. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah membangun sistem  ekonomi pangan lokal Papua secara kreatif dengan inofasi-inofasi terbaru dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh karena itu perlu di lihat pemahaman dasarnya dengan baik. Pangan  lokal adalah bahan makanan alamiah dan hasil olahan tangan manusia yang terdapat di daerah tersebut, berasal dari daerah tersebut dan diproduksi di daerah tersebut serta yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Sedangkan inofasi ekonomi kreatif adalah proses penciptan ide yang dilahirkan dengan menciptakan suatu kreatifitas masyarakat yang didukung dengan memanfatkan ilmu pengetahuan dan memadukan perkembangan ekonomi dengan memperhatikan kearifan lokal budaya setempat sebagai sumber ide, inspirasi maupun inovasi proses pengembanganya.

Peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memproduksi bahan makanan pokok yang berasal dari Papua kini dapat dijabarkan dalam tiga tahap produksi. Pertama tahap individu, dalam tahapan ini kesadaran akan pentingnya bahan makanan pokok lokal mesti tertanam dalam setiap individu serta menjadi motivasi bagi dirinya untuk menuangkan pengetahuannya dalam bidang ekonomi dan teknologi serta mengkolaborasikanya kedalam produksi pangan lokal di Papua. Kedua tahap keluarga, keluarga sebagai komunitas terkecil dalam tatanan kehidupan sosial yang juga merupakan dasar hidup bagi setiap individu menjadi satu basis ekonomi yang menjalankan produksi, distribus maupun konsumsi.

Ada beberapa manfaat atau keuntungan yang dapat diperoleh setelah masyarakat memulai memproduksi bahan makanan pokok lokal, yakni pertama secara tidak langsung masyarakat telah member kontribusi yang baik secara mandiri kepada daerahnya.  Kedua,  masyarakat dapat mengembangkan serta memajukan perekonomiannya secara mandiri sehingga tidak tergantung pada orang lain. Ketiga, masyarakat dapat berkreasi secara kreatif dengan menginofasi kearifan pangan lokal  kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga proses serta hasilnya relevan dengan situasi dan kondisi sekarang ini. Keempat, dengan melakukan hal ini akan ada budaya lokal yang terinofasi sehingga melahirkan budaya baru. Dan yang terakhir adalah masyarakat dapat mempertahankan kearifan pangan budaya lokalnya dan mencegah ekspolitasi pangan lokal oleh perusahaan atau orang non- Papua. dengan demikian secara mandiri orang asli papua sudah memiliki dan perlahan-lahan membangun basis pangan lokal yang bisa memberikan kehidupan bagi manusia dalam keadaan apa pun di tanah ini.

Membangun Basis Pangan Lokal Papua  Secara Kreatif dan Inovatif

Perubahan pola hidup dan pola pikir serta perkembangan zaman telah mengubah cara produksi bahan makanan pokok lokal dari daerah Papua pada umumnya, bahkan di wilayah perkotaan peran bahan pokok lokal sudah digantikan dengan bahan pokok impor yang berasal dari luar Papua. Oleh karena itu, sekarang pemerintah dan seluruh masyarakat mulai menghawatirkan keadaan bahan pokok yang semakin hari semakin menurun sehingga diperkirakan harga pun akan menanjak naik melebihi harga normal.

Dengan demikian pemerintah beserta seluruh lapisan masyarakat perlu membangun satu basis ekonomi yang kuat dengan mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam produksi pangan lokal sehingga kebutuhan bahan makanan pokok setiap individu dalam masyarakat dapat terpenuhi dengan mudah,  tanpa biaya dan tidak tergantung pada orang lain. Akhirnya  inovasi produk yang di produksi dapat trjadi secara kreatif oleh setiap individu dalam lingkup ilmu pengetahuan dan tentunya tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal daerah Papua demi pemenuhan kebutuhan dasar orang Papua di tengah krisis pandemik Covid-19.

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur”  di Abepura-Papua