Home Artikel/Opini Memahami Hubungan antara Tanah dan Oarang Asli Papua

Memahami Hubungan antara Tanah dan Oarang Asli Papua

56

Oleh: Frans Wasini*

Masalah yang timbul akibat hubungan manusia dengan alam telah mengancam seluruh alam semseta (kosmos). Penyebab utamanya ialah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pusat perhatian manusia. Berangkat dari masalah tersebut, saya akan mencoba mengkaji relasi antara manusia dengan tanah. Terkait hubungan manusia dengan tanah, menurut Seri Mudji, sejak dulu manusia dan tanah memiliki keterikatan yang erat. Persoalan tentang tanah dalam kehidupan manusia mempunyai arti yang sangat penting, karena sebagian besar dari pada kehidupan manusia sangat tergantung pada tanah.

Tanah dapat dilihat sebagai sesuatu yang mempunyai sifat permanen dan dapat dicadangkan untuk kehidupan yang akan datang. Tanah adalah tempat pemukiman dari umat manusia disamping sebagai sumber penghidupan bagi mereka yang mencari nafkah melalui pertanian atau perkebunan serta pada akhirnya tanah pula yang akan dijadikan tempat persemayam bagi seseorang yang meningal (Mudji, 2005). Di Papua semua suku mempunyai  hubungan unik dengan tanah. Hubungan unik yang dimaksud mempunyai karakteristik khusus sebagai sebuah kultur yang ada kaitanya dengan kepercayaan setempat.

Manusia dan alam adalah ciptaan Allah yang unik, namun keunikan itu belum dipahami secara menyeluruh dan sungguh-sungguh. Mengapa? Karena kurangnya pemahaman dan interpretasi mengenai relasi manusia dan alam semesta yang bervarian. Menyentil tentang relasi manusia dengan alam, Thomas Sieger Derr mengungkapkan bahwa, dalam kebudayaan tradisional manusia dan alam menjadi satu secara mitologis-magis. Tanah adalah representasi dari seluruh unsur ciptaan Tuhan yang terbentang di dalam dunia. Tanah juga ada kaitannya dengan identitas kebudayaan manusia.

Menurut Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman mengutip salah satu ungkapan dalam Kitab Suci, Tuhan berkata “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemiliknya, sedangkan kamu adalah orang asing dan pendatang bagiku (Imamat 25:23). Tuhan sampaikan pesan keras ini kepada bangsa Israel ribuan tahun silam. Pesan keras ini pun relavan dan sangat kuat bagi kehidupan bangsa dan tanah West Papua. Selain itu, Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettop menegaskan, tanpa hutan dan tanah, orang Papua tidak bisa hidup. Karena tanah dan hutan merupakan sumber kehidupan bagi orang Papua, jangan kita hidup dari jual tanah, tetapi bagimana kita hidup dari mengolah tanah yang kita miliki.

Orang asli Papua dari Sorong sampai Samarai adalah pemilik tanah dan semua kekayaan alam yang ada di teritori West Papua dari generasi ke generasi. Sedangkan orang non-Papua memiliki wilayah dan tanahnya sendiri pula. Misalnya, orang Sumatra punya tanah di Sumatra, orang Kalimantan punya tanah di Kalimantan, orang Bali punya tanah di Bali,orang Jawa punya tanah di Jawa, orang Madura punya tanah di Madura, orang Nias punya tanah di Nias, orang Ambon punya tanah di Ambon, dan sebagainya. Bentuk kepemilikan tanah ini harus dipahami dalam satu mandat yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan sebagai pecipta dan pemilik mutlak atas tanah.

Dari pandangan antropologi sosial, eksistensi tanah sangat vital bagi kehidupan manusia, terlebih kusus bagi orang asli Papua, karena orang asli Papua mencari nafkah di atas tanah miliknya. Sebab tanah merupakan aset sosial sekaligus aset kapital. Jika ditilik dari fungsinya, tanah sebagai aset sosial, maka tanah adalah sarana pengikat kesatuan sosial bagi kehidupan masyarakat. Sedangkan tanah sebagai aset kapital merupakan faktor modal dalam pembangunan dan telah tumbuh sebagai ekonomi yang sangat penting sekaligus sebagai bahan perniagaan dan objek spekulasi (Rubae, Achmad, 2007). Dari pandangan filosofis, manusia memiliki hubungan yang erat dengan tanah sepanjang sejarah hidupnya. Hubungan antara manusia dengan tanah merupakan hubungan yang hakiki dan bersifat magis-religius. Berdasarkan nilai filosofis, tanah bersifat universal, berlaku pada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun.

Dalam prespektif hukum adat, tanah adalah benda yang berjiwa dan tidak boleh  dipisahkan dari persekutuannya dengan manusia. Meskipun tanah dan manusia berbeda wujud dari jati dirinya, namun satu kesatuan yang saling mempengaruhi dalam susunan alam semesta. Dalam konteks budaya orang asli Papua, tanah  dipahami sebagai ibu kandung mereka. Orang asli Papua memaknai hubungan tanah dan manusia selain dengan ekosistem lainnya dengan begitu erat. Contoh saat mereka mau buka lahan kebun, mereka harus melakukan ritual. Ritual seperti itu mengandung makna yang besar, bahwasannya menurut budaya orang asli Papua, tanah memiliki nilai kehidupan sekaligus tradisi yang menandakan bahwa tanah sebagai ibu kandung yang menyusui manusia Papua.

Akhir dari tulisan ini, saya menyarankan kepada orang asli Papua dari Sorong sampai Samarai, bahwa hargailah tanah sebagai ibu kita yang menghidupi semua makluk hidup yang ada di tanah Papua. Karena itu “Stop Jual Tanah”.Orang yang jual tanah adalah orang yang tidak berhikmat dan tidak berakal budi. Orang yang jual tanah adalah orang bodoh. Orang yang jual tanah adalah orang menciptakan kemiskinan permanen untuk anak cucunya”(Socratez Sofyas Yoman, dalam Suara Papua.Com,30/03/2018). Oleh karena itu, orang asli Papua harus menjaga tanah untuk menyelamatkan bangsa West Papua yang penuh dengan kekayaan yang amat besar dan tak terhitung jumlahnya. Kita menjual tanah sama saja  kita menjual diri kita (mama kita) kepada orang lain. Tanah adalah harta kita saat ini dan untuk generasi yang akan datang.

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Cendrawasih dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG).