Home Berita Mama Pasar Berjualan di Pinggir Jalan Raya, Begini Keluhan Warga dan Relawan...

Mama Pasar Berjualan di Pinggir Jalan Raya, Begini Keluhan Warga dan Relawan Mama-mama Pasar di Dogiyai

135

DOGIYAI, Jelatanp.com– Pasar Baru yang dibangun Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai yang berlokasi di Kampung Ekemanida (Tokapo), tak dimanfaatkan warga Dogiyai. Mama-mama Dogiyai tak lagi berjualan di pasar yang sudah disediakan oleh Pemerintah Daerah, lantaran pasar tersebut dibangun cukup jauh dari jantung kota Dogiyai dan belum ada mobil angkutan bahan lokal yang disediakan untuk mengangkut jualan mereka dari kampung ke pasar.

Akhirnya mama Orang Asli Papua di Dogiyai itu memilih menjajakan jualan mereka di sepanjang Jalan Poros Nabire-Dogiyai-Deiyai-Paniai dan Ilaga

Penjual bahan lokal yang didominasi Mama Orang Asli Papua di Dogiyai tersebut berjualan di beberapa titik seperti: di depan Kantor DPRD Dogiyai dan di Terminal Moanemani, mulai dari jembatan kali tuka sampai jalan masuk Kantor Pos.

Salah satu penjual hasil lokal di Jalan Raya depan Kantor DPRD, pada Kamis, 30/01/2020, saat ditemui Wartawan jelatanp.com mengatakan, “kami berjualan disini karena pasar di kampungĀ  Ekemani (Tokapo) yang sudah dibangun pemerintah itu jauh dari jantung kota Mowanemani Dogiyai.”

Ia berharap agar ada pasar yang layak bertransaksi di jantung ibukota Dogiyai. Pasar yang sudah dibangun Pemerintah Daerah di Kampung Ekemanida (Tokapo) itu merugikan mama-mama pedagang penjual hasil lokal.

Hal ini menurutnya, karena sementara ini di Dogiyai belum ada pelayanan publik seperti Angkutan roda empat lintas kampung ke kota dan sebaliknya, lagipula jalan penghubung kampung ke kota saja belum menjangkau sampai ke dusun-dusun

Ia juga mengungkapkan apa yang mereka alami sementara bertransaksi di pinggir jalan, di sini di pinggir jalan Poros Nabire-Ilaga KM-200 ini sering Kami bertahan hujan dan terik matahari.

“Kalau hujan datang petatas masak yang kami jual biasanya kami menyimpan di tempat yang aman agar tidak kena hujan, sebab kalau hujan datang, selalu membasahi kain dan daun pohon yang kami alas jualan. Kalau hanya terik matahari tidak apa-apa, tetapi kendaraan lewat biasanya kami menghirup debu dan bau asap kendaraan [asap Knalpot],” ungkapnya.

Kordinator Relawan Mama-mama Pasar Dogiyai, Yesaya Goo, 30/01/2020 kepada Wartawan di Pasar mama-mama tepatnya di atas jembatan kali tuka belum lama ini, menyayangkan mama pasar.

“Kasihan mama-mama pasar di Dogiyai sudah lama mereka bertransaksi hasil lokal di sepanjang jalan Poros Nabire-Ilaga KM-200 yakni ada 3 tempat yang kami ketahui yaitu: mama-mama di Kamuu Timur dan sekitarnya berjualan menahan panas dan hujan di pinggir jalan Poros Nabire Ilaga di Kampung Ugapuga, mama-mama dari Kamuu bagian barat mereka bertransaksi di depan Kantor DPRD Kabupaten Dogiyai di Epeida sedangkan ribuan masyarakat Kabupaten Dogiyai lainnya bertransaksi hasil lokal di sepanjang jalan Poros Nabire-Ilaga KM-200 di Moanemani.

Persoalan ini harusnya dengan serius memberikan perhatian penuh kepada mama-mama dengan membangun Pasar mama-mama Papua yang layak bertransaksi di jantung kota Dogiyai agar masyarakat benar-benar merasakan uluran tangan dari Pemerintah Daerah

“Masa orang pendatang koo.. bisa berjualan di tempat yang layak sementara orang asli Papua di Dogiyai dipinggirkan,” kesal Goo.

Sebenarnya hasil dari jualan mama-mama kita di pasar ini untuk menghidupi keluarga dan untuk membiayai anak dalam menempuh pendidikan, “tapi ya nyata begitu” tuturnya kesal.

(Jelata News Papua/Aleks)