Home Artikel/Opini Lestarikan Noken Sebagai Warisan Budaya Aplim-Apom Di Tanah Papua

Lestarikan Noken Sebagai Warisan Budaya Aplim-Apom Di Tanah Papua

158

Oleh Elka Mimin*

Manusia Aplim-Apom memiliki kekayaan budaya yang tersebar di berbagai suku dan sub-suku di poros pulau Papua. Kekayaan budaya tersebut bersifat benda dan juga  non benda. Kekayaan budaya benda, terdiri dari okbul (koteka), unom (cawat), ebon (busur), betop (anak panah), wos (tifa), oksang (tarian oksang), teng (rompi anti anak panah), bar (tarian bar), weng (bahasa), dan men (noken), dan sebagainya. Semua kekayaaan budaya tersebut merupakan warisan leluhur sehingga patut dijaga, dilestarikan dan diwariskan keasliannya kepada semua generasi. Salah satu warisan budaya yang dibahas dalam artikel ini adalah Men (Noken).  Men atau noken secara resmi sudah ditetapkan sebagai warisan dunia  tak-benda (Intangible Cultural Heritage) oleh UNESCO pada Pada Tanggal 4 Desember 2012 atas perjuangan Titus Pekey, dkk. Artinya bahwa men sudah diakui sebagai warisan dunia sehingga manusia Papua  pada umumnya dan khusus manusia Aplim Apom berkewajiban untuk melestarikannya.

Dalam tatanan kehidupan manusia Aplim-Apom tidak terlepas dari men. Men melambangkan jati diri dan eksistensi perempuan Aplim-Apom. Dengan Men perempuan menghidupkan manusia sejak lahir hingga manusia menjadi dewasa.  Men berperan penting dalam seluruh dimensi kehidupan manusia Aplim-Apom, baik dalam aspek sosial, ekonomi maupun politik. Men sebagai tas multifungsi digunakan untuk berbagai kepentingan, misalnya dalam hal ekonomi, yaitu 1). Men digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti umbi-umbian, sayur-sayuran, kayu bakar dan -alat pertanian. 2) Men digunakan sebagai alat untuk menidurkan  atau membawa bayi/anak. 3) Men digunakan untuk pembayaran mas kawin. 4) Men digunakan sebagai oleh-oleh. 5). Men  termasuk salah-satu alat ukur untuk mengukur kedewasaan seorang perempuan Aplim-Apom baik secara fisik maupun mentalnya. Artinya bahwa keberadaan men bagi perempuan dan manusia Aplim-Apom sangat penting. Sehingga perlu adanya upaya-upaya urgen agar keunikan dan eksistensi men sebagai bentuk kearifan lokal manusia Papua dan manusia Aplim-Apom tetap eksis.

Pentingnya men dalam kehidupan manusia Aplim-Apom maka harus ada upaya-upaya strategis dan taktis agar men tetap ada untuk menghidupkan manusia. Upaya- upaya yang perlu dilakukan adalah 1). Dalam dunia pendidikan, keterampilan membuat men dijadikan sebagai salah satu syarat kompetensi kelulusan siswi baik itu tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 2). Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat membuat program jangka panjang seperti pelatihan pembuatan men, perlombaan membuat men kategori PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, dan masyarakat.  3). Lembaga legislatif dapat membuat peraturan pemerintah tentang hutan produksi yang mengatur mengenai jenis-jenis kayu yang kulitnya menjadi bahan dasar pembuatan men agar pelestarian dapat dilakukan secara utuh mulai dari bahan dasarnya, proses produksi hingga pemasaran.

*Penulis Adalah Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)