Home Tanah Papua Lawan Rasis dan Rebut Demokrasi!

Lawan Rasis dan Rebut Demokrasi!

33

Oleh Victor Yeimo

Aksi protes rasis di Amerika Serikat (AS) harus didorong sampai pada penaklukan kekuasaan imperialisme Amerika Serikat dibawa Presiden Donald Trump. Rebut demokrasi sebagai jalan menuju sosialisme. Tanpa itu, sukar untuk hapuskan politik rasialis yang sudah berakar urat sebagai watak alamiah dalam struktur kekuasaan kapitalis/imperialisme AS.

Kepeloporan kaum anarkis atau ANTIFA (Anti-Fascist Action) untuk tujuan ideologis -pembasmian negara (kekuasaan)- harus bersatu dengan kaum Marxist atau sosialis yang mengorganisasikan diri dalam berbagai kelas-kelas perlawanan; baik serikat pekerja (buruh), hingga partai sebagai instrumen politik perjuangan rakyat AS. Tanpa mengarahkan aksi ke tujuan politik, sukar sepertinya menghancurkan penindasan di AS dan dunia di bawah imperialisme AS.

Begitu jugalah di West Papua saat ini. Tanpa menghacurkan kekuasaan politik kolonial Indonesia di West Papua, maka sukar sangat menghapuskan praktek kejahatan rasial terstruktur terhadap minoritas orang Papua. Tanpa persatuan perjuangan bersama rakyat Indonesia untuk kemerdekaan West Papua, sangat susah menghancurkan kekuasaan kapitalis birokrat Indonesia yang fasis, rasis dan totaliter.

Tujuan-tujuan aksi pemberontakan harus menjadi perjuangan maju; harus diarahkan sesungguhnya untuk merubah tatanan masyarakat; mulai dari merebut kekuasaan politik, dimana rakyat secara demokratis berpartisipasi penuh dalam kekuasaan; protagonisme rakyat untuk hancurkan antagonisme kelas, menuju tujuan sosialisme penuh; tanpa penindasan manusia atas manusia.

Dengan demikian, revolusi demokratik, yakni pembebasan nasional di AS mutlak diperjuangkan oleh kaum kulit hitam dan semua rakyat dunia yang masih berada di bawah cengkeraman gurita imperialisme AS. Rebut kekuasaan untuk menghancurkan politik identitas masyarakat kapitalis yang superior; agar dunia dapat mengibarkan bendera one people one soul; one human race, in one planet.

Kebangsaan Papua adalah juga identifikasi orang asli West Papua, yang telah menghuni sekitar 40.000 tahun di West Papua, tetapi terancam musnah di bawah dominasi rasialisme kolonial Indonesia yang baru 58 tahun mengokupasi West Papua. Sehingga pembebasan nasional West Papua adalah juga bermakna perjuangan melawan kejahatan rasialisme Indonesia; juga memutus rantai imperialisme AS.

Dengan demikian, bangsa Papua tidak berjuang demi kebencian terhadap ras kulit putih, kuning, coklat, dsb. Orang Papua berjuang melawan diskriminasi rasial, genosida, ethnosida, dsb., dari manusia yang merasa superior lalu datang menduduki, menguasai, menindas, dan mengeksploitasi bangsa Papua. Perjuangan yang demikian adalah juga perjuangan rakyat Indonesia, tetapi juga AS dan dunia.

Taktik pelumpuhan properti kelas kapitalis adalah cara mencekik nyawa imperialisme AS; cara melawan balik aparat negara yang mencekik nyawa George Floyn, Derek Chauvin, dan banyak orang kulit hitam AS. Tetapi ia tidak akan berhenti bernafas selama kekuasaan imperialis tidak digantikan dan beralih ke tangan kekuasaan rakyat selaku protagonis dalam mewujutkan ketiadaan negara.

Begitu pula West Papua, operasi exploitasi kapitalis yang menghidupi kapitalis birokrat Jakarta harus dihancurkan oleh kesadaran rakyat. Rakyat harus melepas ketergantungan pada kolonial. Tidak cukup hanya sadar dan yakin pada kemerdekaan, tetapi keluar dari budaya bisu dan terlibat aksi-aksi perlawanan nyata. Sebab kemerdekaan Papua adalah berkuasanya rakyat itu sendiri untuk menciptakan dunia tanpa penindasan.

Silence is Violence | Diam itu Kekerasan!

Victor Yeimo,
buron sunyi