Home Artikel/Opini Korupsi :Sebuah Refleksi Teologis

Korupsi :Sebuah Refleksi Teologis

522

Oleh: Sebedeus Mote

Pendahuluan

Jangan merampas dan jangan memeras dan Cukupkanlah Dirimu Dengan Gajimu” (Luk 3:14).

Dalam kehidupan manusia perasaan, yang merasa cukup merupakan kunci utama menghentikan keserakahan dalam diri setiap kita. Ketika kita sudah merasa cukup dengan gaji yang kita peroleh maka kita akan terhindar dari tindakan pemerasan dan mengambil yang bukan hak dan milik kita. Kita akan terhindar dari tipu menipu. Kita akan terhindar dari penyelewengan kuasa dan jabatan. Jika kita sulit memelihara rasa cukup di hati kita maka kita pun akan sulit menghindari godaan korupsi terutama dalam korupsi uang. Korupsi merupakan suatu kata yang tidak asing lagi bagi kita.  Korupsi uang adalah salah satu cara yang mudah untuk mendapatkan uang. Korupsi merupakan sebuah cara yang menyebabkan orang lain menderita, ketidak adilan, dan bahwak nyawa sesama dipertahrukan.

Dengan demikian, dalam bagian selanjutnya penulis memfokuskan pada korupsi sebagai salah satu cara, usaha yang digunakan manusia untuk mendapatkan uang. Di mana tindakan manusia bertentangan dengan ajaran-ajaran agama atau sebaliknya.

Kata korupsi sangat tidak asing lagi di telinga kita. Karena korupsi sudah terbiasa di dengar dari segala sumber, baik dari media, orang lain dan bahkan sering kita menggunakannya sendiri. Kaitannya dengan korupsi, secara etimologis dapat diuraikan sebagai berikut:

Apa itu korupsi?

“Korupsi berasal dari kata “corruption” dalam bahasa inggris, yang pada gilirannya berasal dari kata coruptus dalam Bahasa Latin yang berarti “merusak habis-habisan”. Kata “corruptus” itu sendiri berasal kata dasar “comrumpere” yang tersusun dari kata com yang berarti “menyeluruh” dan “rumpere” yang berarti “merusak” atau “menghancurkan” “Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam artinya yang harafiah, “korupsi” belelah diartikan sebagai “ulah laku” amat tidak jujur yang akan merusak secara total kepercayaan khalayak kepada si pelaku yang tidak jujur itu, yang bahkan juga akan merusak seluruh sendi tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang ada”.  Dalam bahasa Yunani, “Corruptio” artinya pebuatan tidak baik, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama material, mental, dan spiritual. Secara hokum, korupsi dimengerti seabagai tingkah laku yang menguntungkan kepentingan diri sendiri dengan merugikan orang lain, yang dilakukan oleh pejabat pemerintah yang lansung melangar batas-batas hukum (Wignyosurbroto: 2004).

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan perbuatasn melawan hukum, dengan cara mencuri baik langsung maupun tidak langsung sehingga merugikan keuangan Negara. Secara material perbuatan itu dipandang sebagai tindak pidana karena bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarat.

Apa Penyebabnya?  

Salah satu penyebabnya adalah sifat serakah manusia. Setiap orang yang bekerja pasti mendapatkan gaji. Namun, karena tidak puas dengan besaran gaji yang diperoleh, ia berusaha mencari tambahan secara tidak halal. Menteri, para Gubernur dan anggota DPRD/DPRP serta pejabat pemerintahan lainnya seluruh Indonesia ditangkap KPK karena korupsi sebenarnya bergaji besar dan mendapatkan berbagai tunjangan. Keserakahanlah yang mendorong orang melakukan korupsi. Penulis mau merefleksikan dalam sebuah refleksi kritis.

Para prajurit pada masa Yohanes Pembaptis suka merampas dan memeras rakyat. Salah satu alasannya karena gaji mereka kurang cukup. Yohanes Pembaptis tampil dan menyerukan datangnya zaman baru sebagai persiapan kedatangan Sang Mesias. Setiap orang perlu meresponsnya dengan pertobatan, yaitu mengenakan sikap hidup yang baru. Tidak mengejar kepuasan lahiriah, tetapi hidup dalam tata nilai yang baru. Kita belajar hidup dengan benar, puas dengan penghasilan yang diperoleh sebagai bagian anugerah Allah. Seandainya gaji kita kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup, Tuhan menghendaki kita berupaya meningkatkan penghasilan dengan cara yang halal. Para elit pemerintahan baik nasional maupun daerah yang korupsi adalah sama halnya dengan mereka memeras hak-hak orang miskin, mengapa? karena ulah dari korupsi tersebut pembangunan untuk kepentingan bersama terutama untuk orang-orang miskin tentu mandet atau tidak berjalan. Masyarakat hidupnya seperti itu tidak berkembang. Itu namanya kuasa mamon berkarya (Jhon Wijngaards: 1994). Selain itu juga, sebuah tindakan korupsi ini, adalah perbuatan melawan Allah. Korupsi, Kejahatan melawan Allah (Amsal 15: 27) (Darius Dubut, dkk: 2006).

Atas dasar latar belakang teologi Kitab Amzal tersebut, tidak berlebihan bahwa korupsi sesungguhnya merupakkna kejahatan melawan Allah sendiri. Allah menghendaki hidup berlangsung dengan kasih. Praktik suap merupakan tidakan melawan Allah sendiri dan terhitung sebagai sebuah kejatahan melawan Allah dengan mengabaikan keadilan bagi orang miskin.

Mengapa Amsal menegaskan bahwa siap loga kan keuntungan gelap mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup? Penegasan itu dilandaskan pada keyakinan yang juat bahwa kejahatan (yakni sikap loba, suap, kolusi, korupsi dan nepotisme) tidak akan pernah dibiarkan tanpa hukuman dalam tata Ilahi. Dalam cara pandang Allah, Allah tidak akan pernah membiarkan tindakan korup berakhir tanpa balas bagi yang bersangkuatan. Amsal sejalan dengan teologi Deuternium (ulangan) bahwa Allah pasti memberikan berkat kepada yang setia dan kutuk kepada yang tidak setia. Allah menjanjikan berkat kepada setiap orang yang setia kepadaNya, dan kutukan kepada yang akan tidak setia. Dengan demikian, kabaikan, kesetiaan, kerelaan membela keadilan mestinya menjadi bingkai siapaun adalam menggapai kesusksesan hidup. Keberhasilah yang tidak diwarnai oleh sikap koruptif dan nepotik, merupakan tabungan bencana bagi masa depan yang bersangkutan, cepat atau lambat, entah di dunia ini maupun diakhirat.

Menurut Kitab Amsal 15:27 hukuman itu bahkan bukan hanya menimpa yang bersangkuatan in se sebagai pribadi pelaku korupsi, melainkan juga akan menimpa keluarganya, rumah tangganya! Barangkali, yang bersangkutan tenang-tenang saja! Namun keluarga, anak-saudara yang terkait dengannya akan menanggung kibat moral. Selain itu juga korupsi itu adalah perbuatan Iblis ( Kisah Para Rasul 13: 10).

Korupsi Adalah Tindakan Melawan Allah

Dalam kitab Kejadian diceritakan bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa karena dicobai oleh Iblis dan mereka lebih suka mendengar bisikan Iblis itu dari pada Firman Allah. Itulah bukti bahwa manusia bersifat egoistik. Akar kejatuhan manusia adalah korup (egoism) yang mengingkari kebaikan Allah, pencipta dan pemberi kebaikan. Dosa adalah perbuatan Iblis. Korupsi adalah dosa, korupsi adalah perbuatan Iblis. Itulah intinya. Korupsi pertama-tama berurusan dengan otak dan jiwa seseorang. Seorang yang korupsi adalah seorang jiwa dan otaknya memang korup: otak kotor. Dengan jiwa yang kotor itu berkembang menjadi tindakan korupsi dalam berbagai seginya, menyogok, menyuap, mencuri, mempengaruhi, pejabat Negara dan lain-lain. Janganlah menjadi Hamba Uang ( Luk 3:13,14).

Sebelum tampilnya Tuhan Yesus dihadapan publik, munculah seorang tokoh yang setengah tahun lebih tuda dari Yesus adalah Yohanes Pemandi. Ia mengajak orang-orang Yahudi bertobat, agar mereka pantas menerima kedatang Sang Juru Selamat. Kepada para pemungut cukai, dengan tegas ia berkata: “jangalah menagih lebih banyak dari pada yang telah di tentukan bagimu (Luk, 3:13). Kemudian, kepada para prajurit, dengan lantang ia berseru: ”jangalah merampas dan jangalah memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu” (Luk 3:14).

Menurut Yohanes Pemandi, pertobatan sejati merupakan suatu usaha yang keras dan konkret untuk memperbaiki tingkah laku. Karena itulah kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang tidak sungguh-sungguh bertobat, ia berani menyampaikan teguran yang keras dan lugas: hai kamu keturunan ular berludak. Siapakah yang mengatakan kepadamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Maka hasilakanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Nafsu akan kekayaan sama sekali bertentangan dengan usaha mencari Allah atau Kerajaan Allah. Mamon dan Allah itu seperti dua tuan. Kalau orang mencintai dan mengabdi yang satu, mau tidak mau ia menolak yang lain. Tidak mungkin ada jalan tengah.

Kata-kata Yesus mengenai uang dan milik sering kali dianggap sebagai salah satu yang paling ‘keras’ dalam Injil. Kebanyakan orang  Kristen cenderung untuk melunakkannya. Pertanyaan yang paling mengejutkan mengenai kerajaan Allah bukanlah bahwa kerajaan itu sudah dekat, akan tetapi bahwa kerajaan itu akan merupakan kerajaan orang-orang miskin dan bahwa orang kaya, sejauh mereka tetap tinggal kaya, tidak akan mendapat bagian di dalamnya ( Luk 6:20-26). Orang kaya mustahil masuk ke dalam  lubang jarum (Mrk. 19: 25). Markus mengatakan bahkan murid-murid Yesus heran atas hal ini. akan seperti apakah kerajaan ini? dengan kata lain, dibutuhkan mujikzat agar seorang kaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mujizat itu tidak akan memasukkannya dengan semua kekayaannya, akan tetapi membuatnya meninggalkan semua kekayaannya sehingga ia dapat masuk ke dalam kerajaan sebagai orang miskin. Inilah yang dituntu dari orang muda kaya akan diceritakan dalam injil (Mrk 10: 17-22). Akan tetapi karena imannya akan Kerajaan Allah terlalu kecil dan terlalu mengandalkan hidupnya pada jaminan keuangan, mujikzat tidak terjadi. Kekuatan Allah tidak dapat bekerja dalam dirinya untuk melaksanakan tidak mungkin.

Tidak akan ada tempat bagi orang kaya dalam kerajaan Allah. Di sana juga tidak aka nada ganjaran atau penghiburan bagi mereka (Luk 6: 24-26). Dalam perumpamaan mengenai orang kaya dan lazarus yang miskin, tidak diberikan alasan lain yang membuat orang kaya dikecualikan dari menerima ganjaran kecuali bahwa ia kaya dan bahwa ia tidak membagikan kekayaannya dengan pengemis itu. Ini pula yang dikehendaki oleh orang kaya untuk diperingatkan kepada saudara-saudaranya. Tetapi siapa yang akan dipercaya?

Akibatnya, mengarahkan hari kepada kerajaan Allah dan menundukkan diri kepada nilai-nilai kerajaan itu, dan menuntut agar orang menjual harta miliknya. Yesus mengharapkan agar para mengikutnya meninggalkan segala-galanya: rumah, keluarga, tanah, perahu, dan jala. Ia memperingatkan mereka agar mereka duduk dan pertama-tama memperhitungkan anggaran biayanya.

Yesus dituntut di sini adalah lebih daripada sekadar derma. Yesus menghendaki pembagian seluruh milik seara menyeluruh. Ia mencoba mendidik orang agar mereka tidak terikat dan terbelenggu oleh uang dan milik. Mereka tidak boleh khawatir akan yang akan mereka makan atau pakai. Setiap masayarakat yang berstruktur sedemikian rupa sehingga sebagain menderita karena kemiskinan dan yang lain mempunyai lebih daripada yang diperlukan adalah bagian dari kerajaan setan.

Semua itu didengar oleh orang-orang farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan dia. Lalu ia berkata kepada mereka, ‘kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci Allah’ (Luk 16: 14-15).

Orang yang tidak bisa memilki rasa cukup diri itu mempermalukan Tuhan, keluarga, dan dirinya sendiri. Janganlah kita serakah sehingga berusaha mendapat uang lebih banyak dengan cara yang jahat. Jangan juga kita serakah dengan alasan orang-orang lain juga serakah. Sebagai orang yang sudah mengenal kebenaran, tidak patut kita mencari pembenaran atas dosa berdasarkan perilaku orang lain yang seenaknya berbuat dosa. Karena itu, cukupkanlah diri kita dengan gaji kita sendiri agar Tuhan memberkati hidup kita.

Penutup

Kecintaan akan uang yang berlebihan yang dikendalikan oleh keinginan dan nafsu membuat kita nekat berbuat kejatan. Kecintaan akan uang akibat kita menjadi nekad dan lupa diri untuk merendahkan derajat hidup kita sendiri, sesama bahkan Tuhan sendiri, yang penting kita puas dan “bahagia” dalam arti semu dan sementara. Uang pada dirinya adalah baik. Uang tidaklah jahat. Namun cinta pada uanglah yang membuat kita menjadi jahat bagi sesama. Uang membuat kita menjadi homo homini lupus bagi sesama kita. Dengan kecintaan buta kita menjadi lupa untuk hidup secara cukup dan penuh syukur pada Sang Kehidupan sendiri.

Maka dari itu, kita harus mampu untuk hidup penuh syukur dan mampu hidup cukup, hidup berkecukupan. Memang jujur harus kita akui, bahwa dalam dunia sekarang ini, uang adalah alat atau sarana untuk hidup. Tetapi uang bukanlah sarana satu-satunya dan uang juga bukanlah segala-galanya. Cukup tau tidaknya tergantung sepenuhnya pada kita yang memegang, mempunyai dan mengelola yang itu. Kitalah yang mengatur uang, bukan uang yang mengatur kita. Mungkin bagi orang yang sangat boros, yang selalu tidak puas untuk hidup sederhana dan cukup, berapapun yang yang diterima selalu saja kurang.

Sebagai orang beriman, yang menempatkan Tuhan diatas segala-galanya dan bukan uang sebagai “tuhan” baru, berapapun uang yang kita terima bersyukurlah. Aturlah uang itu demi hidup kita yang lebih manusiawi, bukan sebaliknya kita diatur oleh uang. Sebagai makhluk ciptaan yang sedang dalam perziarahan menuju Sang Pencipta kita diajar untuk menggunakan berkat duniawi ini saya salah satunya Uang secara benar, bukannya sembarangan tanpa syukur. Kita diajar untuk memanfaatkan hal-hal duniawi ini sambil menjaga agar tidak terikat/dihambat olehnya. Bahkan Paulus menegaskan bahwa hendaknya kita bersikap seolah-oleh tidak menggunakan apapun yang kita miliki. Pada prisipnya, kita harus menggunakan uang (termasuk apapun yang kita miliki) sesuai dengan maksud Allah ketika menciptakannya, yaitu bagi kebaikan kita, dan bukan untuk kehancuran pada hidup pribadi maupun hidup sesama Akhirnya semoga kita semakin bijaksana menggunakan uang demi keluhuran martabat kita dan demi kemuliaan nama Allah sendiri. Semoga dengan permenungan ini, korupsi dalam bentuk apapun semakin terkikis dan hilang dalam pemahaman kita.

Penulis adalah Mahasiswa STF Fajar Timur Abepura-Papua