Home Artikel/Opini Ketika Hipere Digantikan Dengan Beras, Masyarakat Papua di Tuntut untuk Berkebun

Ketika Hipere Digantikan Dengan Beras, Masyarakat Papua di Tuntut untuk Berkebun

142

Oleh: AgustinusSarkol

Semua orang di dunia ini adalah anugerah dari Tuhan yang sempurna. Anugerah yang tak dapat tergantikan oleh siapapun selain Tuhan sendiri. Anugerah ini berupa keunikan-keunikan dari tiap-tiap pribadi yang dimilikinya. Keunikan dalam mengelola hidup, serta mengatur hidup yang sempurna. Kalau demikian, semua orang adalah anugerah dari Tuhan begitu pula orang asli Papua adalah salah satu anugerah itu. Orang asli Papua juga dapat memanejemen hidup yang Tuhan berikan. Mengelola hidup hariannya secara sempurna dan mengolah diri dengan berbagai macam cara yakni mengelolah pangan lokal untuk bertahan hidup di dunia.

Berbicara tentang mengelola hidup, semua orang memiliki hak dan kewajiban untuk mengelola hidupnya. Berkaitan dengan hal tersebut, bersesuaian dengan judul: Ketika Hipere digantikan dengan Beras, hipere (sebutan untuk ubi jalar dalam bahasa Hubula), penulis terinsiprasi dari sebuah tema Bab 5 mengenai  “Soal Penghidupan dan Makan-Minum” pada buku, Papua Nyawene (Papua bercerita) (John Djonga, dkk,2014:125). Penulis merasa prihatin dengan keadaan masyarakat Papua, yang dengan sadar ataupun tak sadar mengganti makanan lokal dengan nasi “makanan khas orang Indonesia”, khususnya bagi masyarakat yang berada di Pegunungan Papua.

Ada tiga hal yang penting dalam kehidupan yakni pekerjaan, makanan, dan kedudukan. Tetapi yang terpenting dan mendesak bagi setiap orang adalah makanan. Tanpa makan manusia mati, tanpa makan manusia tidak dapat bekerja, tanpa makan manusia tidak mampu mencari kedudukan dan sebagainya. Untuk itu makan sangat dibutuhkan oleh setiap kita manusia. Begitu pula orang asli Papua juga harus makan dan minum dari hasil olahannya sendiri. Makanan yang terbaik bagi orang Papua adalah makanan khas hasil olahan sendiri maupun tersedia di alam Papua. Jika demikian, orang asli Papua diharapakan untuk menanam dan bukan menunggu bantuan beras yang datang dari luar Papua atau diistilakan dengan Bantuan Pemerintah (BAMA) atau beras raskin. Jangan kita menunggu bantuan dan uluran tangan-tangan jahil dari orang lain. Kita juga mampu menghasilkan sesuatu yang kita punya. Juga jangan kita biarkan orang lain mengeksploitasi manejemen hidup kita dengan barang-barang yang tak berguna. Kalau orang lain sudah mengeksploitasi kekayaan alam, maka hal itu berlanjut dan merembes kepada makanan lokal kita.

Orang asli Papua tidak hidup dari nasi, tetapi orang asli Papua lahir dari budaya berkebun dan berburu untuk menafkahi kehidupan mereka secara khusus orang Pegunungan pada umumnya. Karena orang Pegunungan dilahirkan bukan dari nasi melainkan dari Hipere makanan khas orang gunung. Oleh karena itu, jangan kita gantikan makanan khas orang asli Papua dengan makanan khas orang Jawa. Orang asli Papua ada dan berada karena kekhasannya sebagai masyarakat yang penuh anugerah dan kelimpahan hidup. Dengan mengandaikan Papua adalah surga tersembunyi yang nampak di tanah ini. Dengan demikian hipere adalah salah satu makanan khas surga kecil itu yang ditanam untuk memberikan kehidupan.

Penulis dalam hal ini mengakui bahwa adanya ketidakseimbangan antara makanan khas Orang Asli Papua dan Orang Jawa, antara hipere dan beras. Artinya adanya ketergantungan dan mungkin adanya sebuah impilkasi yang patut dicurigai. Penulis merasa aneh jika orang asli Papua yang adalah pekerja keras, yang mau berusaha, berjuang mandiri, dan mampu mengelolah hidup, harus menunggu makan nasi yang datang melalui bantuan pemerintah itu. Orang asli Papua harus menanam, menanam bukan untuk hari ini, tetapi untuk masa depan dan keberlangsungan hidup anak cucu yang akan datang karena seorang anak asli Papua adalah satu butir mutiara Surga yang berharga. Kalau anak-anak asli Papua dibiasakan makan nasi, maka masa depan mereka mungkin tak seperti yang diharapkan. Dalam artian bahwa tidak merasa hipere adalah salah satu makanan khas, makanan asli Surga tersembunyi itu. Padahal hipere itu menyehatkan tubuh dan memberikan daya hidup bagi masyarakat.

Mendengar beberapa cerita orang, kebanyakan bapak-bapak tidak lagi seperti dulu karena kebanyakan bapak-bapak asli Papua tidak mau bekerja dengan serius serta mengajarkannya kepada anaknya, akhirnya yang terjadi adalah ibu-ibu yang mengurus semuanya itu. Kendati demikian, hal ini dapat menyebabkan kerugian dan bahkan adanya ketimpangan hidup serta ahli fungsi tugas dan tanggungjawab yang cukup siginifikan dalam keluarga.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh beberapa orang dalam buku Papua Nyawene“ bapak-bapak sekarang tidak mau kerja” kata Lakahutik Lokobal.“ Kebun besar, hipere asli itu ada dan hipere besar dan wam (babi) besar itu semua ada di tangan bapak-bapak. Mereka punya tugas merencanakan kesuburan, kesehatan, kekayaan dari kami semua” kata, Ana Himan di Hepuba (John Djonga, 2014:125-27). Inilah keadaan yang kita alami yakni bapak-bapak orang asli Papua tidak mau bekerja, akhirnya mama-mama yang harus mengurus semuanya.

Kalau melihat keadaan seperti di atas, maka jangan heran kalau nasi dapat mengganti hipere. Bagaimana kita mempertahankan eksistensi makanan lokal, kalau kita sendiri tidak mau bekerja? ataukah kita harus menunggu makanan khas orang lain? sekali lagi penulis menegaskan bahwa orang asli Papua bukan bangsa pelahap tetapi bangsa pekerja. Kendati demikian, aneh jika kita biarkan orang lain menguasai tanah dan dusun kita dengan berbagai macam problem hidup. Dengan demikian solusi yang mesti dilakukan oleh orang asli Papua adalah harus bangkit untuk bekerja, dan mengusahakan makan khas“hipere”.

Untuk itu, apakah kita harus menunggu bantuan beras dari Pemerintah? Ataukah kita harus bekerja, mengusahakan tanamanan lokal yang berguna untuk menafkahi hidup kita dengan cara berkebun? Tetapi bagaimana kita menanam kalau tanah kita sudah terjual? Sungguh, inilah salah satu hal yang paling ironis di tanah Papua. Orang lain menanam di tanah kita sendiri, dan kita hanya menjadi penonton, penikmat dan bahkan menjadi budak bagi orang lain. Dengan melihat pola kehidupan orang asli Papua yang bergeser maka kita perlu memperhatikan beberapa hal penting: Pertama bagi semua keluraga agar secara sadar dan mau untuk tidak sembarang menjual tanah. Kedua bagi bapak-bapak, jangan biarkan mama-mama bekerja seorang diri, bekerjasama itu penting bagi keberlangsungan hidup sebagai suami-istri. Ketiga bagi orang yang bukan orang asli Papua untuk tidak sembarang mengeksplotasi hak ulayat tanah, dalam artian harus tahu malu, datang di Papua hanya untuk mencari nafkah dan bukan untuk mengekplotasi manajemen kehidupan orang asli Papua.

Dengan demikian, orang asli Papua harus bangkit untuk bekerja janganlah membiarkan orang lain mengeksploitasi hidup harian kita. Hal ini untuk memutus mata rantai ketergantungan hidup dan hilangnya pangan lokal hipere. Dan juga terus menjaga eksistensi pangan local hipere, cara berkebun dan mengelolah serta cita rasa makanan lokal. Untuk itu jangan menjual tanah, hidupilah rumah tangga dengan hasil kebun sendiri daripada menunggu tangan-tangan jahil dari orang lain yang mematikan kehidupan kita.

 

Penulis adalah Mahasiswa  Semester II STFT “FajarTimur” di Jayapura, Papua.