Home Artikel/Opini Keterlibatan Utusan Adat Dalam Pelantikan Jabatan Publik Pemerintahan

Keterlibatan Utusan Adat Dalam Pelantikan Jabatan Publik Pemerintahan

104

Oleh: Charles Singpanki*

Maju dan berkembangnya suatu negara atapun sebuah daerah bisa diukur berdasarkan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Kemajuan dan perkembangan sebuah daerah menjadi tugas dan kewajiban para pemimpin maupun warga masyarakat. Selain pemimpin, ada beberapa pilar penting yang tentunya menjadi mesin dan roh yang menggerakan, memvasilitasi, bekerja sama untuk membangun kehidupan yang aman, damai dan sejahtera untuk semua orang.

Pilar-pilar penting yang menjadi mesin dan roh dalam perkembangan suatu daerah diantaranya adalah : agama (gereja), adat dan pemerintah. Agama (gereja), adat dan pemerintah menjadi pilar penyangga bagi kesejahretaan hidup masyarakat. Bila tiga pila ini bekerja sama maka semua pekerjaan dan tugas terlaksana sesuai dengan keinginan dan kerinduan semua warga masyarakat. Perkembangan dan kemajuan dirasakan oleh semua warga masyarakat apabila ketiga pilar ini bersatu, bekerja sama, saling mendukung, melengkapi dan memberi semangat dan motifasi sesuai dengan bidang dan kealihan masing- masing.

Menjadi fokus perhatian dari ketiga pilar ini adalah pada aspek perkembangan daerah dan pertumbuhan di segalah aspek kehidupan di Papua. Pilar pertama yakni agama, agama (gereja) di Papua berperan dalam membina dan menumbuhkembangkan iman yang membangun, iman yang membuka wawasan berpikir untuk memaknai hidup sebagi anugerah dan kekayaan alam sebagai pemberian Tuhan. Sebab dalam ajaran agama memiliki kekayaan nilai-nilai kehidupan yang menuntun, mengarahkan, mendorong setiap orang memperoleh kebahagiaan. Selain itu, agar suatu tatanan dunia berdasarkan tujuan-tujuan tersebut diatas bisa terwujud secara praktis, maka dibutuhkan nilai-nilai baru yang bisa menginspirasikan dan memotifasi umat manusia.

Pilar kedua Adat, sebelum adanya agama dan pemerintah Adat menjadi wadah, berperan penting pemegang kekuasaan dalam mengatur dan mengakomodasi seluruh aspek kehidupan manusia. Kenyataan di Papua Adat menjadi pilar penting, melalui adat bahkan atas nama adat mampu mengelabuhi seluruh motifasi hidup, melalui adat apa yang diinginkan,  apa yang dicita-citakan terpenuhi kalaupun memiliki sejuta motifasi, kepentingan yang membangun dan perkembangan masyarakat maupun menghancurkan bahkan menyebabkan malapetakah bagi seluruh kehidupan masyarakat terutama masyarakat adat itu sendiri.

Secara garis besar wilayah di Papua dibagi menjadi tujuh ( 7 ) wilayah adat diantaranya: wilayah adat Mamta, Ha Nim, La-Pago, Me-Pago, Saireri, Domberay, Bomberay. Hal ini menjadi sebuah keunikan dan kakayaan yang hanya di miliki oleh wilayah Papua dan Papua barat. Adanya keunikan dan potensi dalam segalah aspek kehidupan  terlebih khusus tentang adat. Papua menjadi daerah yang memiliki peluang, memilki kesempatan yang besar, medan yang sangat ideal untuk melangsungkan segalah jenis pekerjaan atau membangun segalah aspek kehidupan yang terntunya perkembangan dan pertumbuhan sumber daya manusia serta sumber daya alam.

Pilar ketiga Pemerintah, pemerintah pertama-tama berasal dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Inti dari pelayanan pemerintahan adalah pembagunan kesejahteraan rakyat. Karena itu rakyat merupakan obyek dan subyek dari pada pembagunan daerah itu sendiri. Pada arti pembagunan, rakyat memiliki kebebasan untuk dengan selektif memilih dan menentukan pemimpin ideal dalam lingkungan pemerintahan. Karena itu, pada gilirannya rakyat akan mengikuti, menganalisa dan memberi penilain kepada pemimpin yang diidealkannya. Penilaian rakyat ini sebenarnya mendukung segala pembagunan pemerintah untuk kesejahteraan rakayat itu sendiri.

Papua memiliki potensi dalam segalah aspek kehidupan tentunya memiliki praktek hidup keagamaan yang baik tentang makna dan tujuan hidup manusia. Keberlangsungan hidup sebagai pelaku ajaran agama diintegrasikan dengan kekayaan dan keunikan sistem adat menjadi penopang membangun daerah Papua yang aman dan damai. Hal ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melihat dan menjadikannya sebagai sumber dan inspirasi memajukan daerah, membahagiakan warga masyarakatnya. Aktualisasi diri agama, adat dan peerintah terlihat dalam rasa memiliki dan menjadi tuan di atas tanah leluhurnya.

Keterlibatan utusan adat dalam pelantikan jabatan publik pemerintahan

Melihat sedikit gambaran tentang fungsi dan tugas-tugas tiga pilar yang menjadi nadi dan jantung keberlangsungan kehidupan manusia yang merdeka, memiliki kesempurnaan hidup yang aman, damai dan sejahtera. Kembali pada konteks di Papua mengenai prosesi,  tata cara dalam melantik seseorang atau beberapa orang menduduki jabatan tertentu di dalam lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif serta jabatan-jabatan tertentu pada sebuah organisasi dan birokrasi. Realisasi tindakan konkrit ditampilkan dalam acara-acara pelantikan. Hal penting yang menjadi bahan sorotan pada ulasan ini adalah keterlibatan utusan adat dalam pelantikan terkait dengan pengambilan sumpah janji untuk jabatan publik pemerintahan.

Praktek prosesi melantik dan dilantik dalam sebuah institusi tentunya dihadirkan beberapa pihak yang dirasa penting dan patner dalam membangun dan memajukan daerah. Pihak-pihak yang hadir berasal dari utusan-utusan sebuah lembaga diantaranya, seperti pemuka agama Kristen, Katolik dan Islam serta pemuka-pemuka agama lain yang diakui di Indonesia. Mengambil sumpah janji setia dan taat bertanggungjawab atas tugas dan pekrjaan yang dipecayakan tentunya didorong secara spritual untuk memaknai dan merealisasikan kepercayaan akan dampak agama dalam membangun, melangsungkan kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera bagi semua orang.

Mengambil sumpah janji dalam acara pelantikan dihadapan para saksi serta para pemuka agama adalah hal yang lumrah di seluruh indonesia khususnya di Papua. Bagamana dengan utusan adat ? Apakah utusan adat penting? Melihat realita kehidupan di Papua agama dan adat adalah kedua lembaga yang vital dalam membangun perkembangan di segalah aspek kehidupan. Kedua lembaga penjamin perkembangan dan peradaban manusia tradisional sampai pada manusia modern. Maka tentunya perwakilan adat menjadi penting dilibatkan dalam prosesi pelantikan. Sering menyaksikan acara pelantikan, mengambil sumpah melalui siaran TV atau media-media sosial lain serta pengalaman pribadi secara langsung. Misalnya, ketika menyaksikan seseorang yang dipersiapkan hendak dilantik pemuka agama Katolik (pastor) Kristen (pendeta), dan pemuka agama lain akan berdiri di samping dan memegang

Kitab Suci masing-masing untuk para peserta meletakan tangan di atas Kitb Suci mengambil sumpah janji setia melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dipercayakan.

Kerinduan dan pemikiran dasar adanya perutusan dari pihak adat hadir dalam acara pelantikan idealnya hadir berdampingan mendampingi bersama dengan para pemuka agama. Sebagai anak adat yang memiliki pemahaman bahwa adat sebagai yang pertama, hidup dan mati, awal dan akhir dari dan melalui adat segalahnya mungkin. Materi dan forma dalam pelantikan pada umumnya tersedia, tercancum dalam buku-buku atau panduan dari instansi dan organisasi masing-masing. Forma dan materi yang lasim dipakai pada umumnya belum terdapat pada pelantikan secara adat. Ritualis menjadi bagian terpenting bagi kehidupa orang- orang Papua dan masyarakat adat. Adanya ritual menjadi bahan dan reverensi bagi pelaku dan pemegang kekuasaan dalam hal ini pemerintah daerah dan pemerintah adat mengevaluasi, sebab kata-kata, ungkapan, janji setia dihadapan tetua adat atau perwakilan sangat efektif, menjadi spirit, pedoman yang menggerakan seluruh aspek kehidupan untuk sampai pada tujuan hidup yang damai, aman dan sejahtera.

Penulis: mahasiswa STFT “Fajar Timur” sedang menjalani masa TOP dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG).