Home Artikel/Opini Kesadaran Masyarakat Papua Dalam Menjaga Lingkungan Hidup

Kesadaran Masyarakat Papua Dalam Menjaga Lingkungan Hidup

121

Oleh: Yorim Sasaka
Masyarakat di Papua hidup dalam keberagaman. Keberagaman itu meliputi kehidupan berbudaya, berinteraksi, berpolitik dan beragama. Dalam konteks beragama, kita tentunya mengenal enam agama besar; Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Islam, dan Konguchu. Keenam agama besar besar ini memiliki populasi umat dalam jumlah tertentu.
Dalam setiap ajaran imannya, semua agama sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan ekologis. Di dalam nilai-nilai itu terkandung berbagai pedoman tentang bagaimana membangun hubungan yang harmonis antar sesama manusia, alam ciptaan dan juga Realitas Tertinggi yang diyakini oleh setiap agama (kabarmepaga,21/02/2020).
Namun jika melihat realitas saat ini, alam semakin menjadi rusak karena ulah manusia sendiri. Sifat konsumtif manusia semakin tumbuh subur. Rumah kita bersama, “ibu” bumi, menjadi semakin rusak karena tidak dimanfaatkan dengan bijaksana, juga tidak adanya konsep yang utuh tentang lingkungan hidup.
Secara filosofis, lingkungan hidup dipandang sebagai oikos (Yunani), artinya habitat tempat tinggal atau rumah tempat tinggal. Tetapi oikos pertama-tama tidak dipahami sekedar sebagai lingkungan sekitar di mana manusia hidup. Oikos dipahami sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya di antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat (Keraf: 2010). Dengan demikian lingkungan hidup pertama-tama dan terutama dipahami sebagai alam semesta, ekosistem dan keseluruhan atmosfer yang menaunginya dan menunjang segala kehidupan.
Lingkungan Hidup: Persoalan dan Tawaran Solusi Bagi Masyarakat Tanah Papua
Ibu sejati manusia adalah ibu bumi (lingkungan hidup). Meskipun kita masing-masing mempunyai ibu atau mama secara biologis. Semua manusia lahir dari bumi dan hidup pula dari ibu bumi (Tristanto A Lukas; 2015:55). Manusia hidup karena makanan dan minuman, udara, air, tanah dan semua yang dihasilkan dari bumi. Itulah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Sehebat apapun manusia dan teknologi modern, kita tetap bergantung pada bumi.
Masalahnya saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kebutuhan lainya, alam dieksploitasi sedemikian rupa. Manusia mengeruk alam tanpa mengindahkan kelestariannya. Manusia tidak lagi memahami hakikatnya sebagai makhluk sosial tetapi sekaligus ekologis. Karena itu, ia tak pernah bisa hidup sendiri tanpa alam ciptaan (Kristianto: 2015:75).
Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si (2015), menegaskan bahwa masalah ekologis harus diselesaikan melalui pendekatan sosiologis, dengan menempatkan manusia setara dengan makhluk cipataan yang lain; memposisikan manusia sebagai manusia sesungguhnya dan memperlakukan bumi sebagai rumah bersama.
Pendekatan dialogis pada semua tingkatan masyarakat global menjadi kunci keberhasilan usaha perawatan bumi “Rumah Bersama” ini. Oleh karena itu, Laudato Si ditutup dengan kutipan “kita mau tak mau harus mengakui bahwa pendekatan ekologis yang sejati selalu berupa pendekatan sosial, yang harus mengintegrasikan soal keadilan dalam diskusi lingkungan hidup, untuk mendengarkan jeritan bumi maupun jeritan kaum miskin.
Di Papua, persoalan ekologi rupanya menjadi persoalan serius. Mayoritas orang yang hidup di Papua, entah orang asli Papua maupun non-Papua, belum memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga keutuhan alam dalam keberlangsungan hidupnya. Kurang adanya rasa memiliki untuk memelihara, mencintai serta melestarikan alam semakin mempengaruhi seluruh dimensi hidup manusia di Papua.
Beberapa contoh khasus krisis lingkungan hidup misalnya, banjir di Keerom beberapa waktu lalu juga menyebabkan korban jiwa (cepos, 17/10/18). Limbah PT. Freeport menyebabkan ekosistem di sekitar tanah ulaya suku Amungme dan Kamoro rusak sehingga mereka semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari (liputan6, 10/10/18). Pembuangan sampah di kali Acay Abepura berakibat pada tercemarnya lingkungan sekitar. Beberapa contoh ini merupakan fenomena yang sedang terjadi di Tanah Papua. Fenomena ini tak bisa dianggap sepeleh. Sangat disayangkan jika terus-menerus dibiarkan.
Pemerintah, gereja dan berbagai LSM telah lama menyoal berbagai kasus krisis lingkungan hidup. Banyak kegiatan memang telah dilakukan oleh para pegiat lingkungan hidup seperti, menanam seribu pohon, membersihkan selokan-selokan, dll. Tentunya bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Namun sampai saat ini tetap saja belum ada kesadaran dari semua pihak, baik dari masyarakat, pemerintah, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Tanah Papua.
Oleh karena itu, sebagai saran, penulis ingin memberikan beberapa catatan:
Salah satu cara sebagai upaya menanggulangi kerusakan lingkungan ini ialah pertama-tama kita harus merubah cara pandang terhadap alam, menyadari akan semua tindakaan kita dan mengambil suatu tindakan konkrit untuk bisa membangun kembali relasi yang rusak dan menciptakan suatu hubungan yang baik dengaan alam ciptaan ialah menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa alam, alam dan manusia saling berkait saling melengkapi.
Kesadaran itu bisa diwujudnyatakan misalnya dengan menanam pohon kembali, mengambil sesuatu dari alam hanya seperluhnya saja, serta melindungi dan merawat alam yang ada. Selain itu, kita harus kembali kepada jati diri kita sebagai makhluk antropologi yang melebur dalam pola-pola relasi multidimensi, menjunjung tinggi kearifan lokal setiap suku di Papua, memperbaiki cara berelasi, berproduksi, berkonsumsi, mengubah cara berpikiran, berperasaan dan bertindakan terhadap ibu bumi ini.
Dengan demikian, alam pun akan memberikan kita kehidupan, kenyamanan, dan kesejahteraan bagi diri kita, keluarga, lingkungan dan masyarakat kita.

Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura – Papua