Home Domberai Kehadiran Militer Menambah Trauma bagi Warga Maybrat

Kehadiran Militer Menambah Trauma bagi Warga Maybrat

125

NABIRE, JELATANP.COM – Masyarakat Maybrat sampai saat ini masih mengungsi di hutan. Mereka bertahan di sana lantaran masih menjadi bulan-bulanan aparat.

Hal ini disampaikan Emiliano Kejora Yumte, kepada media ini pada Senin (04/05/2020).

“Saat ini rata-rata sudah mengungsi di hutan lantaran masyarakat selalu ditakut-takuti.” jelas Emiliano.

Menurut dia, warga kampung yang ada di Aifat Timur semua mengungsi ke hutan dan banyak yang mengungsi ke Distrik lain yang jauh dari Aifat Timur, seperti ke kampung Kumurkek, Susumuk, Sune dan Ke Ayawasi.

Ia menjelaskan aparat gabungan lakukan rasial dan memaksa kaum pria yang berjenggot untuk cukur. Aparat pun lakukan sweeping Alat kerja warga, Sweeping KTP, Kartu Keluarga, Noken dan Pakaian yang bermotif Bendera Bintang Kejora.

Menurut Yumte, Aparat Gabungan lakukan Razia tidak hanya di tengah permukiman rakyat, tetapi juga di pos-pos perbatasan seperti di Jalan Raya Maybrat ke Sorong, Maybrat ke Sorong Selatan dan juga di Maybrat dan Tambrauw.

Situasi semacam itu menurut Yumte, aparat datang hanya membuat masyarakat tidak aman hidup. Hidup mereka terliputi ketakutan dan trauma. Itu terjadi karena untuk ke kebun saja alat kerja disita oleh aparat, apalagi pakaian dan tas yang berlogo bintang kejora.

“Aparat datang hanya karena mencari kepentingan sendiri tanpa memikirkan kedamaian dan keamanan hidup rakyat Maybrat.” Ujarnya.

Yumte mengharapkan Pemerintah Daerah (PEMDA) Maybrat mesti mengambil langkah tegas dan berpihak pada rakyak untuk menyelesaikan kasus ini.

“Pemerintah Daerah harus tegas dalam hal ini berpihak kepada masyarakatnya sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini, saya minta PEMDA jangan berpihak kepada aparat keamanan.” tegasnya.

Dia pun mengharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Papua dan solidaritas rakyat untuk mendukung kemanusiaan bagi masyarakat Maybrat yang masih mengungsi itu.

(Jelata News Papua/Aleks)